Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Sebanyak 40% Pekerjaan Global Terdampak AI, IMF Minta Pemerintah Bersiap

Sebanyak 40% Pekerjaan Global Terdampak AI, IMF Minta Pemerintah Bersiap Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan sekitar 40% pekerjaan di seluruh dunia akan terdampak perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Perubahan ini berpotensi mempersempit kesempatan kerja bagi lulusan baru, terutama karena sejumlah pekerjaan tingkat pemula yang menjadi pintu masuk ke dunia profesional semakin rentan terhadap otomatisasi.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyebut dampak AI terhadap pasar tenaga kerja sebagai tsunami yang bergerak perlahan. Menurutnya, generasi muda menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian karena berisiko kehilangan kesempatan memperoleh pengalaman kerja pada tahap awal karier.

“Orang-orang yang pertama-tama perlu dikhawatirkan adalah kaum muda yang memasuki pasar tenaga kerja,” kata Georgieva, dikutip dari CNBC International, Jumat (16/10/2026).

Pekerja yang baru lulus umumnya memulai karier dengan mengerjakan tugas-tugas rutin dan berulang sebelum mendapat tanggung jawab yang lebih kompleks. Namun, ketika tugas tersebut semakin mudah diotomatisasi, kesempatan bagi lulusan baru untuk memasuki dunia kerja berpotensi menyempit.

IMF memperkirakan paparan AI terhadap pekerjaan berbeda berdasarkan tingkat perkembangan ekonomi. Di negara maju, sekitar 60% pekerjaan diproyeksikan terdampak AI. Sementara itu, di negara berpendapatan rendah, angkanya diperkirakan mencapai 23%.

Georgieva mengingatkan bahwa tingkat paparan yang lebih rendah di negara berpendapatan rendah tidak serta-merta berarti negara tersebut lebih terlindungi. Salah satu faktor yang memengaruhi perbedaan tersebut adalah pemanfaatan teknologi AI yang belum meluas.

Di sisi lain, AI juga berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan investasi dan aktivitas perdagangan di sektor teknologi. Georgieva mengatakan aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan AI turut menopang pertumbuhan sejumlah negara dan membantu menjaga ekspansi ekonomi global mendekati 3% di tengah guncangan pasokan energi.

IMF juga memperkirakan adopsi AI dapat menambah pertumbuhan ekonomi sebesar 0,5 hingga 1 poin persentase di negara-negara Asia maju. Adapun negara berkembang di Asia berpotensi memperoleh tambahan pertumbuhan sebesar 0,2 hingga 0,8 poin persentase. Dalam skenario dengan dampak tertinggi, tambahan pertumbuhan tersebut berpotensi mengimbangi kerugian ekonomi akibat penuaan penduduk.

Namun, pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi tidak selalu diikuti penyerapan tenaga kerja yang sepadan. Presiden Singapura Tharman Shanmugaratnam menyoroti China, India, dan sejumlah negara berkembang di Asia Tenggara yang mencatat pertumbuhan ekonomi, tetapi masih menghadapi lemahnya penciptaan lapangan kerja.

Tharman, yang juga menjabat ketua bersama Dewan Pekerjaan Bank Dunia, mengatakan permintaan terhadap lulusan perguruan tinggi di Amerika Serikat mengalami penurunan. Ia turut menyoroti menyusutnya keunggulan upah yang selama ini dinikmati pemegang gelar sarjana.

“Jenjang pertama dalam pekerjaan, yakni pekerjaan pertama setelah lulus, kini mengalami penurunan permintaan,” ujarnya.

Menurut Tharman, tanpa langkah antisipasi yang tepat, lulusan baru dapat kehilangan lebih dari satu tahun kesempatan untuk mengembangkan keterampilan melalui pengalaman kerja. Kondisi tersebut juga berisiko mengikis kepercayaan generasi muda terhadap prospek karier mereka.

Ia mendorong pemerintah menjadikan program dukungan ketenagakerjaan yang diterapkan selama pandemi Covid-19 sebagai bagian dari kebijakan jangka panjang. Pemerintah juga perlu bekerja sama dengan sektor swasta dan memberikan insentif agar perusahaan tetap membuka kesempatan kerja bagi lulusan baru.

Sementara itu, Presiden Bank Dunia Ajay Banga memperkirakan sekitar 1,2 miliar anak muda akan mencapai usia 18 tahun dalam 15 tahun mendatang. Jumlah tersebut menjadi tantangan bagi pasar tenaga kerja global.

Banga mengatakan sektor swasta menghasilkan sekitar 75% hingga 85% lapangan kerja di suatu negara. Karena itu, perusahaan akan memegang peran penting dalam menyerap angkatan kerja baru.

Ia menilai pemerintah perlu menciptakan kondisi yang mendorong sektor swasta memperluas perekrutan, antara lain melalui pembangunan infrastruktur, kebijakan yang mendukung penciptaan lapangan kerja, dan pengurangan risiko investasi.

“Modal swasta yang menciptakan lapangan kerja,” kata Banga.

Tharman menambahkan, dampak AI tidak akan berlangsung seragam karena bergantung pada jenis pekerjaan dan tugas yang dapat diotomatisasi. Perubahan yang bertahap memberi kesempatan bagi pemerintah, dunia usaha, dan institusi pendidikan untuk mempersiapkan tenaga kerja.

Baca Juga: IMF Ramal Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,1% pada 2026 dan 2027

Baca Juga: IMF Peringatkan Lonjakan Harga Pangan dan Energi Bisa Tekan Daya Beli Jangka Panjang

Baca Juga: Sebelum Dicopot, Purbaya: Negara Tak Perlu Pinjam IMF jika Hadapi Bencana Besar

Ia menekankan pentingnya memberikan kesempatan kepada pekerja untuk meningkatkan keterampilan sambil bekerja. Perguruan tinggi juga perlu memperkuat pendidikan terapan agar kompetensi lulusan sesuai dengan kebutuhan industri.

Georgieva menegaskan AI telah memberikan dampak nyata terhadap perekonomian dan pasar tenaga kerja global.

“Cintai, benci, atau takutlah terhadapnya. AI sudah hadir dan kita telah melihat gelombang pertama dampaknya,” ujar Georgieva.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri