Belum Genap 2 Tahun Menjabat Tapi Prabowo Bongkar Pasang Kabinet 8 Kali, Ini Kata Gerindra
Kredit Foto: BPMI
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto dengan reshufflenya telah mencatatkan sebuah rekor politik yang belum pernah terjadi dalam sejarah modern tata negara. Belum genap dua tahun menduduki kursi orang nomor satu, ia telah melakukan perombakan atau reshuffle kabinet sebanyak delapan kali.
Juru Bicara Partai Gerindra, Bahtra Banong buka suara terkait dengan hal tersebut. Ia menepis anggapan adanya instabilitas politik dan menegaskan bahwa bongkar pasang formasi ini murni merupakan respons atas krisis dan kebutuhan taktis negara.
Baca Juga: Babak Baru Polemik Ijazah, Kubu Gibran Tantang Denny Indrayana Tunjukkan SP3 Korupsi di 2015
Bahtra menegaskan bahwa perombakan menteri dan wakil menteri adalah hak prerogatif mutlak seorang presiden yang dijamin oleh konstitusi. Namun, lebih dari sekadar wewenang, ia menggarisbawahi bahwa ritme kerja kabinet saat ini harus diakselerasi hingga batas maksimal guna merespons eskalasi bencana yang tengah mengepung berbagai wilayah di Tanah Air.
"Untuk mempercepat kerja-kerja pemerintah yang kita tahu sendiri, butuh penanganan-penanganan yang sangat cepat dan harus responsif," kata Bahtra, dikutip pada Jumat (16/10/2026).
Gerindra memandang bahwa kelambanan birokrasi di tengah situasi darurat tidak bisa lagi ditoleransi. Rentetan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang masif hingga banjir bandang yang silih berganti, memaksa presiden untuk mencari figur-figur eksekutor lapangan yang berani mengambil keputusan cepat.
"Misalnya, kalau kita bicara soal bencana yang menimpa kita hari ini, berkenaan dengan karhutla, belum lagi bencana yang sering datang, seperti banjir," urai Bahtra.
Kondisi objektif di lapangan inilah yang menjadi fondasi dasar bagi Istana untuk tidak ragu mencopot atau memutasi para pembantunya yang dinilai lambat.
"Jadi, memang saya pikir, sudah tepat ya, Presiden membutuhkan sosok-sosok yang cepat, yang responsif untuk melakukan penanganan-penanganan," tekannya.
Frekuensi reshuffle di era pimpinan kali ini memang terbilang sangat agresif. Sejak dilantik pada, perombakan pertama sudah langsung terjadi pada 19 Februari 2025. Tidak berhenti di situ, kocok ulang formasi terus berlanjut pada 8 September 2025, 17 September 2025, 8 Oktober 2025, 27 April 2026, 14 September 2026, 1 Oktober 2026, hingga yang terbaru pada pertengahan Oktober 2026 ini.
Bahtra, meski tampak sering berubah, memastikan bahwa pihaknya akan terus menjadi tameng pelindung kebijakan presiden.
Baca Juga: Pemakzulan Gibran Mandek, Prabowo Kemungkinan Enggan Amputasi Total Kekuasaan Dinasti Jokowi
"Insyaallah Gerindra terus mem-backup Presiden dalam upaya bagaimana program-program kerja yang sudah direncanakan bisa berjalan dengan baik, bisa lebih tepat sasaran, dan manfaat-manfaat dari program yang sudah dirancang oleh presiden bisa dirasakan langsung oleh seluruh lapisan masyarakat kita," pungkas Bahtra.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar