LinkAja Ungkap Perubahan Belanja Konsumen, Transaksi Merchant Naik 10%
Kredit Foto: LinkAja
LinkAja mencatatkan aktivitas transaksi merchant tumbuh rata-rata 10% sepanjang 2026 di tengah perbincangan soal fenomena Lipstick Effect, sementara jumlah pengguna yang mengajukan pinjaman melalui aplikasi tersebut cenderung menurun hingga Juni 2026.
Chief Executive Officer LinkAja Yogi Rizkian Bahar mengatakan perusahaan melihat perubahan prioritas pengeluaran masyarakat sebagai bagian dari dinamika perilaku konsumen.
“Dalam konteks layanan pinjaman melalui mitra, sepanjang Desember 2025 hingga Juni 2026 terdapat ribuan pengguna yang melakukan pendaftaran melalui aplikasi LinkAja. Namun, secara keseluruhan jumlah pengguna yang melakukan apply cenderung menurun, meskipun sempat tercatat pertumbuhan sekitar 20% dari Mei ke Juni 2026,” ujar Yogi kepada Warta Ekonomi, Jumat (16/10/2026).
Dari sisi pembayaran, aktivitas transaksi merchant dalam ekosistem LinkAja masih menunjukkan pertumbuhan sepanjang tahun ini. Perusahaan menilai penggunaan pembayaran digital tetap relevan untuk memenuhi berbagai kebutuhan transaksi sehari-hari masyarakat.
“Namun, dari sisi ekosistem LinkAja secara keseluruhan, aktivitas transaksi di merchant sepanjang 2026 tetap menunjukkan pertumbuhan, dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 10%. Kami melihat hal ini sebagai indikasi bahwa layanan pembayaran digital tetap menjadi bagian yang relevan dalam memenuhi berbagai kebutuhan transaksi sehari-hari masyarakat,” kata Yogi.
Yogi menilai, adanya perubahan prioritas belanja menjadi salah satu hal yang dicermati perusahaan dalam menjaga relevansi layanan bagi pengguna. Kini, LinkAja berupaya untuk menyesuaikan layanan pembayaran digital dan akses terhadap layanan keuangan yang tersedia dalam ekosistemnya dengan kebutuhan masyarakat.
“Kami melihat fenomena seperti Lipstick Effect lebih sebagai salah satu refleksi dari perubahan prioritas dan cara masyarakat mengelola pengeluaran. Bagi LinkAja, perubahan perilaku tersebut menjadi insight untuk terus memastikan layanan yang kami sediakan tetap relevan dengan kebutuhan pengguna, baik melalui pembayaran digital maupun akses terhadap layanan keuangan dari mitra dalam ekosistem kami,” jelasnya.
Meskipun aktivitas merchant tercatat tumbuh, angka tersebut tidak secara langsung menunjukkan kategori belanja yang paling meningkat ataupun membuktikan perubahan pola konsumsi ke transaksi bernilai kecil. Pasalnya, pengajuan pinjaman juga memperlihatkan dinamika tersendiri sepanjang periode pengamatan.
Untuk diketahui, fenomena Lipstick Effect sendiri menggambarkan kecenderungan konsumen tetap membeli barang atau memenuhi kebutuhan kecil dengan harga lebih terjangkau ketika kondisi ekonomi menantang.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: