TBS Percepat Transisi Bisnis Rendah Karbon, VP Sustainability Raih Pengakuan Global
Kredit Foto: TBS Energi Utama
PT TBS Energi Utama Tbk (TBS) memperkuat transformasi bisnis menuju infrastruktur berkelanjutan melalui pengembangan energi terbarukan, pengelolaan limbah, dan ekosistem kendaraan listrik. Upaya tersebut berjalan seiring dengan target netralitas karbon pada 2030, setelah perusahaan mendivestasikan seluruh pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) miliknya pada 2025.
Di tengah transformasi tersebut, Vice President Sustainability TBS Karida Humaira Niode masuk dalam daftar Women of the Future 50 Rising Stars in ESG 2026. Ia menjadi satu-satunya perempuan Indonesia dalam daftar 50 perempuan muda dunia yang berkontribusi di bidang lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and governance/ESG).
Karida mendapat pengakuan atas kontribusinya dalam menyusun salah satu rencana transisi iklim (Climate Transition Plan) korporasi pertama di Indonesia serta memberikan masukan ESG untuk transaksi pembiayaan campuran (blended finance) di sektor transportasi berkelanjutan.
Salah satu inisiatif yang melibatkan Karida adalah fasilitas pembiayaan senilai US$15 juta untuk bisnis transportasi berkelanjutan melalui Electrum, anak usaha TBS. Fasilitas tersebut melibatkan Asian Development Bank (ADB), DBS Bank, dan Australian Climate Finance Partnership untuk mendukung pengembangan transportasi rendah emisi.
Karida menilai agenda ESG perlu terintegrasi dengan strategi bisnis dan keputusan keuangan perusahaan, bukan sekadar menjadi bagian dari pelaporan keberlanjutan.
“Kita bisa saling menginspirasi dan membangun koneksi dengan membuka lebih banyak kesempatan bagi perempuan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan finansial, bukan hanya membahas isu keberlanjutan. Di awal karier saya, pembahasan ESG sering kali berjalan terpisah dari keputusan bisnis. Saya melihat perempuan di sekitar saya lebih banyak dilibatkan dalam diskusi keberlanjutan, tetapi belum banyak mendapat ruang dalam pengambilan keputusan finansial,” ujar Karida saat dihubungi wartawan, Kamis (15/10/2026).
Lebih dari 60% Pendapatan TBS Berasal dari Nonbatu Bara
Transformasi TBS juga tercermin dalam perubahan komposisi pendapatan perusahaan. Berdasarkan laporan Diversification Gap in Indonesia’s Coal Sector yang diterbitkan Energy Shift Institute pada Agustus 2026, TBS termasuk salah satu dari dua perusahaan yang menunjukkan progres diversifikasi paling nyata di antara 14 perusahaan batu bara yang dianalisis.
Dalam laporan tersebut, lebih dari 60% pendapatan TBS disebut berasal dari bisnis nonbatu bara. Saat ini, portofolio perusahaan berfokus pada pengelolaan limbah di Singapura dan Indonesia, energi terbarukan, serta ekosistem kendaraan listrik melalui Electrum, perusahaan patungan dengan GoTo.
TBS juga telah menyusun Climate Transition Plan sebagai bagian dari upaya mencapai target netralitas karbon pada 2030. Rencana tersebut diarahkan untuk mengintegrasikan agenda iklim dengan strategi operasional, investasi, dan pembiayaan perusahaan.
Dalam pelaksanaannya, keterlibatan tim keberlanjutan dalam keputusan investasi menjadi salah satu aspek yang ditekankan Karida.
“Representasi perempuan di bidang ESG seharusnya bukan sekadar membuat lebih banyak perempuan menyusun laporan. Kita perlu lebih banyak perempuan yang terlibat dalam merancang transaksi dan struktur pembiayaan. Beruntungnya di TBS, manajemen perusahaan sangat bersungguh-sungguh untuk mencapai netralitas karbon di 2030 dan melibatkan tim Sustainability, termasuk saya dalam transaksi terkait investasi,” katanya.
Menurut Karida, penguasaan keterampilan teknis seperti penghitungan emisi, penetapan harga karbon, dan pembiayaan transisi dapat memperluas peran perempuan dalam pengambilan keputusan bisnis. Ia juga mendorong program mentoring yang mempertemukan perempuan muda di bidang ESG dengan pengambil keputusan keuangan, termasuk direktur keuangan dan profesional pembiayaan.
Selain agenda transisi iklim, Laporan Keberlanjutan TBS 2025 mencatat keterwakilan perempuan dalam kepemimpinan perusahaan mencapai 37,5%. Angka tersebut melampaui target yang ditetapkan untuk 2030, lima tahun lebih cepat dari jadwal perusahaan.
Fasilitas pembiayaan US$15 juta melalui Electrum menjadi salah satu contoh keterkaitan agenda keberlanjutan dengan pembiayaan bisnis. Dukungan ADB, DBS Bank, dan Australian Climate Finance partnership ditujukan untuk pengembangan transportasi rendah emisi.
Karida menilai perempuan perlu memperoleh kesempatan lebih luas dalam merancang transaksi dan struktur pembiayaan, sehingga kontribusinya di bidang ESG tidak terbatas pada penyusunan laporan atau pelaksanaan program lingkungan.
Program Women of the Future didirikan oleh Pinky Lilani CBE DL, advokat kepemimpinan perempuan, keberagaman, dan inklusi. Melalui jejaring internasional, program ini berupaya memperluas kesempatan bagi perempuan untuk mengembangkan kapasitas kepemimpinan dan pengaruh profesional.
Daftar Women of the Future 50 Rising Stars in ESG 2026 menyoroti 50 perempuan muda dunia yang berkontribusi dalam agenda lingkungan, sosial, dan tata kelola. Pada 2026, program tersebut didukung oleh Financial Times dan University of Oxford, dengan perayaan penghargaan berlangsung di London, Inggris.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: