Kredit Foto: TOBA
PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mulai memperlihatkan hasil transformasi bisnis menuju infrastruktur berkelanjutan. Meski pendapatan konsolidasian turun 11% menjadi US$257,3 juta pada sembilan bulan pertama 2026, perseroan berhasil mencatatkan pertumbuhan laba kotor sebesar 105% menjadi US$45,2 juta.
Peningkatan profitabilitas tersebut turut tercermin dari EBITDA yang disesuaikan sebesar US$44,4 juta, tumbuh 39% secara tahunan (year-on-year/yoy). Sementara itu, margin laba kotor meningkat menjadi 18% dari sebelumnya 8%, sedangkan margin EBITDA yang disesuaikan naik menjadi 17%.
Direktur sekaligus Chief Financial Officer TBS Juli Oktarina mengatakan peningkatan kinerja tersebut menunjukkan transformasi bisnis perusahaan mulai menghasilkan pendapatan dengan kualitas yang lebih baik.
“Pada sembilan bulan pertama tahun 2026, TBS terus membuktikan bahwa transformasi yang sedang dijalankannya menghasilkan pendapatan yang berkualitas. Meskipun terdapat berbagai tantangan, kami bangga telah dapat mencatatkan peningkatan pada laba kotor serta EBITDA yang disesuaikan serta penyusutan rugi bersih,” ujar Juli dalam keterangan resmi, Jumat (30/10/2026).
Dari sisi bottom line, TOBA masih membukukan rugi bersih sebesar US$35,4 juta. Namun, angka tersebut menyusut 72% dibandingkan rugi bersih US$127,9 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Perbaikan tersebut antara lain dipengaruhi tidak berulangnya kerugian divestasi bisnis pembangkit listrik tenaga batu bara yang dibukukan pada 2025. Meski demikian, rugi bersih periode berjalan masih mencakup beban terkait akuisisi Cora Environment Pte. Ltd. serta biaya satu kali dari proses pembiayaan kembali pinjaman senior bisnis pengelolaan limbah.
Perubahan komposisi bisnis menjadi salah satu faktor penting dalam kinerja TOBA. Bisnis pengelolaan limbah dan kendaraan listrik secara kolektif menyumbang 66% terhadap pendapatan konsolidasian serta 71% terhadap EBITDA yang disesuaikan perseroan.
Segmen pengelolaan limbah menjadi salah satu motor pertumbuhan TOBA. Sepanjang 9M2026, bisnis ini mencatatkan pendapatan US$157,3 juta, meningkat 41% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara operasional, bisnis pengelolaan limbah perseroan mengumpulkan 755.990 ton limbah selama sembilan bulan pertama 2026. Layanan tersebut menjangkau lebih dari 470.000 rumah tangga dan pelaku usaha di Indonesia serta Singapura.
Sementara itu, bisnis kendaraan listrik melalui Electrum, perusahaan patungan TOBA dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), juga menunjukkan pertumbuhan signifikan.
Hingga 30 September 2026, lebih dari 14.000 sepeda motor listrik Electrum telah beroperasi, meningkat 115% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jaringan stasiun penukaran baterai atau battery swapping station (BSS) juga bertambah 85% menjadi 701 unit aktif.
Dari sisi finansial, pendapatan bisnis kendaraan listrik mencapai US$12,9 juta, tumbuh 120% secara tahunan. Segmen ini juga berhasil membukukan laba kotor US$1,2 juta, berbalik dari rugi kotor US$0,7 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, bisnis batu bara masih menjadi bagian dari portofolio TOBA selama masa transisi. Segmen pertambangan batu bara mencatatkan pendapatan US$61,8 juta, turun 10% secara tahunan, dengan laba kotor US$21,6 juta dan EBITDA US$20,1 juta.
Adapun bisnis perdagangan batu bara mengalami penurunan pendapatan lebih dalam sebesar 76% menjadi US$19,5 juta akibat aktivitas perdagangan yang lebih rendah.
Selain peningkatan profitabilitas, TOBA juga mencatatkan perbaikan arus kas. Perseroan membukukan arus kas bersih dari aktivitas operasi sebesar US$20,3 juta pada 9M2026, berbalik dari posisi negatif pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Hingga 30 September 2026, saldo kas termasuk kas yang dibatasi penggunaannya mencapai US$89,6 juta. Perseroan menyatakan tetap menjaga profil utang dan likuiditas untuk mendukung kebutuhan operasional, belanja modal, serta peluang ekspansi melalui akuisisi.
Dalam pengembangan energi terbarukan, TOBA melanjutkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya terapung berkapasitas 46 megawatt peak (MWp) dengan target operasi komersial pada kuartal IV/2026.
Perseroan juga mengoperasikan pembangkit listrik tenaga mini-hidro Sumberjaya berkapasitas 6 MW di Lampung melalui kepemilikan minoritas pada perusahaan operatornya.
Melalui pengembangan bisnis pengelolaan limbah, kendaraan listrik, dan energi terbarukan, TOBA terus mengarahkan portofolionya menuju infrastruktur berkelanjutan sembari mengelola bisnis batu bara yang masih tersisa selama periode transisi.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: