Lestari Tradisi Bandung 1990 Angkat Potensi Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya Sunda
Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Pelestarian budaya tidak hanya berkaitan dengan menjaga warisan leluhur, tetapi juga membuka peluang bagi tumbuhnya ekosistem ekonomi kreatif yang melibatkan seniman, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta komunitas lokal.
Potensi tersebut tercermin dalam pagelaran Lestari Tradisi: Bandung 1990 yang menggabungkan kesenian Sunda, kuliner tradisional, dan kerajinan lokal dalam satu ruang kegiatan budaya.
Digelar di Bumi Sangkuriang, Bandung, pada Sabtu (17/10/2026), kegiatan yang diinisiasi Titimangsa bersama Bakti Budaya Djarum Foundation ini menghadirkan beragam ekspresi budaya Sunda.
Selain pertunjukan seni dan lomba kesenian, acara tersebut melibatkan pelaku UMKM melalui bazar kuliner dan kerajinan khas daerah.
Keterlibatan berbagai pelaku tersebut memperlihatkan bagaimana kegiatan kebudayaan dapat menjadi ruang pertemuan antara pelestarian tradisi dan aktivitas ekonomi masyarakat. Kuliner khas Sunda, produk kerajinan, serta karya seni tradisional memiliki nilai ekonomi sekaligus merepresentasikan identitas lokal yang dapat diwariskan lintas generasi.
Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian, mengatakan pelestarian budaya membutuhkan ruang yang memungkinkan masyarakat berinteraksi langsung dengan berbagai bentuk tradisi.
Menurut dia, kesenian, kuliner, dan kerajinan tradisional tidak hanya menyimpan nilai sejarah, tetapi juga memuat cerita dan pengetahuan yang penting untuk diteruskan kepada generasi berikutnya.
“Bagi kami, menjaga budaya tetap hidup bukan hanya tentang mempertahankan tradisi, tetapi juga memberi ruang agar masyarakat bisa mengenal, menikmati, dan menjadi bagian darinya. Kesenian, kuliner, dan kerajinan tradisional menyimpan cerita serta nilai yang penting untuk terus diwariskan,” ujar Renitasari.
Ia menambahkan, kegiatan berbasis budaya diharapkan dapat mempertemukan masyarakat dengan akar tradisinya sekaligus meningkatkan apresiasi terhadap keberagaman budaya Indonesia.
Pemilihan Bandung sebagai lokasi penyelenggaraan tidak terlepas dari sejarah kota tersebut dalam perkembangan seni dan budaya Indonesia.
Pada akhir 1980-an hingga 1990-an, Bandung menjadi salah satu ruang berkembangnya perpaduan seni tradisional dan budaya populer. Perkembangan Pop Sunda, popularitas lagu-lagu berbahasa Sunda, serta karya tari Jaipongan yang dipopulerkan Gugum Gumbira menunjukkan bagaimana tradisi dapat beradaptasi dengan perubahan selera masyarakat.
Perpaduan tersebut menjadi gambaran bahwa budaya lokal memiliki peluang untuk terus berkembang tanpa kehilangan identitasnya. Dalam konteks ekonomi kreatif, pendekatan ini juga membuka ruang bagi seniman untuk menghasilkan karya baru, memperluas audiens, dan menjaga keberlanjutan aktivitas berkesenian.
Pendiri Titimangsa sekaligus produser Lestari Tradisi, Happy Salma, mengatakan kegiatan tersebut tidak semata-mata ditujukan untuk menghadirkan kemeriahan, tetapi juga mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga identitas budaya di tengah perkembangan zaman.
Ia menilai, nilai sebuah karya tidak semestinya hanya diukur berdasarkan popularitas atau viralitas di ruang digital.
“Kita harus punya kepercayaan diri bahwa sesuatu yang bagus itu tidak selalu harus viral. Kita mau melakukan kegiatan ini karena kita meyakini ada nilai yang baik di sana,” kata Happy.
Menurut dia, Lestari Tradisi menjadi bentuk apresiasi terhadap para seniman yang konsisten menjaga sekaligus mengembangkan seni tradisional.
Keberadaan ruang pertunjukan semacam ini dinilai penting agar masyarakat tetap memiliki kesempatan untuk mengenal tradisi yang membentuk identitas mereka.
“Acara ini menjadi ruang pengingat untuk menoleh kembali pada kompas kehidupan kita, dari mana kita berasal, agar kita tidak gagap dalam melangkah menghadapi masa depan,” ujarnya.
Lestari Tradisi: Bandung 1990 dirancang dengan sejumlah kegiatan yang melibatkan seniman, sanggar, komunitas, dan pelaku usaha lokal. Area bazar menghadirkan kuliner seperti kupat tahu, surabi, mi kocok, cuanki, dan es campur, disertai produk kerajinan serta berbagai barang yang mengangkat unsur budaya Sunda.
Sementara itu, panggung pertunjukan menjadi ruang bagi seniman lokal untuk menampilkan karya dan memperkenalkan kesenian tradisional kepada masyarakat yang lebih luas.
Rangkaian kegiatan tersebut melibatkan sejumlah nama dari dunia seni dan hiburan, di antaranya Doel Sumbang, Nining Meida, Bungsu Bandung, Candil, Dewi Gita, Yukie Pas Band, Ebith Beat A, Dira Sugandi, Ujang Darso, dan Rehan Darso. Sejumlah kelompok seni juga terlibat, termasuk Saung Angklung Udjo, Jugala Jaipongan, SambaSunda, serta Studio Tari Indrawati Lukman.
Selain pertunjukan musik dan tari, acara ini menghadirkan lomba kesenian yang melibatkan berbagai sanggar. Kegiatan tersebut memberikan ruang bagi pelaku seni untuk menunjukkan kemampuan sekaligus mempertemukan komunitas yang memiliki perhatian terhadap keberlanjutan kesenian tradisional.
Meski demikian, penguatan dampak ekonomi dari kegiatan budaya tidak hanya bergantung pada jumlah pengunjung. Keberlanjutan kesempatan berkarya bagi seniman, keterlibatan UMKM, serta peluang pemasaran produk lokal menjadi aspek penting agar aktivitas kebudayaan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Upaya memperkenalkan kekayaan budaya juga dilakukan melalui karya audiovisual. Happy Salma bersama rumah produksi Puri Aksara, dengan dukungan Bakti Budaya Djarum Foundation, menghadirkan serial dokumenter Di Bawah Langit Kita (Bertemu Para Penjaga Budaya).
Serial tiga episode dengan durasi maksimal 15 menit tersebut mengangkat kisah orang-orang yang menjaga warisan leluhur di tengah perubahan zaman. Berlatar di Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, dokumenter ini menelusuri keterampilan menenun kain Futus, membuat perhiasan tradisional, serta memainkan dan meneruskan musik tradisi.
Karya tersebut melibatkan Felix K. Nesi sebagai penulis skenario sekaligus produser dan Ony W. Pahlevi sebagai produser. Keduanya memiliki pengalaman dalam produksi film yang mengangkat persoalan sosial, budaya, dan identitas lokal.
Serial dokumenter itu dijadwalkan tayang melalui kanal YouTube Indonesia Kaya mulai Senin (19/10/2026).
Baca Juga: Guncang Panggung Dunia, Indonesia Siap Pimpin Ekonomi Kreatif Global lewat WCCE 2026
Baca Juga: Ekonomi Kreator Indonesia Diproyeksi Sumbang Rp6.000 Triliun pada 2030, UMKM Harus Maksimalkan ROI
Melalui pertunjukan langsung dan karya dokumenter, upaya pelestarian budaya diperluas ke berbagai medium agar dapat menjangkau kelompok masyarakat yang berbeda, termasuk generasi muda yang akrab dengan platform digital.
Lestari Tradisi sendiri berawal dari inisiatif Titimangsa pada masa pandemi melalui pertunjukan daring Taksu Ubud di Bali. Program tersebut menjadi ruang bagi seniman lintas disiplin dan sanggar untuk tetap berkarya ketika akses terhadap panggung pertunjukan terbatas.
Pada 2023, Titimangsa bersama Bakti Budaya Djarum Foundation melanjutkan gerakan tersebut melalui Lestari Tradisi: Sukabumi 1980 dengan melibatkan sanggar dan seniman tradisi dari Sukabumi dan sekitarnya.
Kelanjutan program di Bandung menunjukkan upaya memperluas ruang apresiasi terhadap seni tradisional sekaligus mempertemukan kebudayaan dengan dinamika masyarakat perkotaan.
Dalam jangka panjang, keberlanjutan ekosistem budaya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari seniman, komunitas, pelaku UMKM, penyelenggara kegiatan, hingga masyarakat sebagai penikmat sekaligus pewaris tradisi. Dengan demikian, pelestarian budaya tidak berhenti pada penyelenggaraan acara, tetapi dapat menjadi bagian dari penguatan identitas lokal dan pengembangan ekonomi kreatif Indonesia.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Rahmat Saepulloh
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: