Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan belum lepas dari tekanan pada perdagangan Senin (19/10/2026). Pelaku pasar masih mencermati rencana MSCI mengubah status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, yang memicu kekhawatiran investor dan ikut menekan indeks hingga jatuh 11,57% ke level 5.185,10 pada Jumat (16/10/2026).
Dampak sentimen tersebut terlihat dari aksi jual yang meluas di bursa domestik. Pada perdagangan akhir pekan lalu, IHSG sempat merosot 678,68 poin hingga memicu penghentian perdagangan sementara (trading halt). Sebanyak 812 saham berakhir di zona merah.
Investor asing juga masih ramai melepas kepemilikan sahamnya. Nilai jual bersih asing pada Jumat mencapai Rp3,40 triliun. Jika dihitung sejak awal tahun (year to date/YTD), angkanya telah menembus Rp110,77 triliun. Pada periode yang sama, IHSG tercatat turun 40,04%.
Senior Technical Analyst Mirae Asset, M Nafan Aji Gusta, menilai kejatuhan tajam IHSG mencerminkan terganggunya stabilitas pasar secara mendadak. Analisis teknikalnya juga menunjukkan indeks sedang menuju tahap akhir pola gelombang (wave) 5/(C)/Y.
Sinyal pelemahan masih terlihat dari indikator Stochastic K_D dan RSI yang sama-sama menunjukkan momentum negatif. Volume transaksi yang meningkat turut menjadi perhatian karena menandakan tekanan jual masih besar. Dengan kondisi tersebut, aksi jual panik (panic selling) belum tentu mereda dalam waktu dekat.
"Level support IHSG pada 4.989 dan 4.785. Adapun level resistance berada di 5.318 dan 5.522 untuk perdagangan hari ini," kata Nafan dalam keterangan resminya, Senin (19/10/2026).
Ia memperkirakan pergerakan IHSG masih akan bergejolak, dengan risiko penurunan yang tetap terbuka. Selain faktor teknikal, arah pasar juga akan dipengaruhi perkembangan rencana MSCI serta respons terhadap berbagai persoalan yang menjadi perhatian lembaga penyedia indeks global tersebut.
Baca Juga: Ancaman MSCI dan Rupiah Rp18.100 Membayangi, IHSG Bisa Terkapar ke Level 4.000-an
Baca Juga: IHSG Rontok 14,91% dalam Sepekan, BBCA hingga ASII Masuk Daftar Saham Rentan
Sorotan MSCI mencakup keterbukaan informasi mengenai kepemilikan saham, ketepatan data free float atau porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan publik, tingkat likuiditas, serta akses investor asing ke pasar Indonesia. Aspek-aspek ini berkaitan dengan kemudahan investor menilai kondisi pasar dan melakukan transaksi.
Nafan mengingatkan, reformasi yang telah dilakukan belum tentu mengakhiri kekhawatiran MSCI jika persoalan mendasar masih dinilai belum tuntas.
“Meski reformasi sudah berjalan, MSCI masih dapat mempertahankan freeze apabila menilai persoalan mendasar belum sepenuhnya terselesaikan. Tantangan Indonesia bukan hanya memperbaiki regulasi, melainkan juga membangun kredibilitas pasar,” ungkap Nafan.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: