Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

IHSG Dibuka Anjlok 4,31%, Ambruk 223 Poin ke Level 4.961

IHSG Dibuka Anjlok 4,31%, Ambruk 223 Poin ke Level 4.961 Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada pembukaan perdagangan Senin (19/10/2026). Pada awal sesi I, IHSG turun 4,31% ke level 4.961,87.

Aktivitas perdagangan pada awal sesi mencatat volume transaksi sebanyak 1,17 miliar saham, dengan nilai mencapai Rp1,04 triliun. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 80.236 kali.

Tekanan jual mendominasi perdagangan. Sebanyak 602 saham melemah, 88 saham stagnan, dan hanya 64 saham yang berhasil menguat.

Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan sentimen global, mulai dari rencana perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI, kenaikan inflasi Amerika Serikat (AS), hingga konflik geopolitik yang masih berlangsung.

IHSG Masih Dibayangi Rencana Perubahan Status oleh MSCI

Tekanan terhadap IHSG diperkirakan masih berlanjut pada perdagangan Senin (19/10/2026). Pelaku pasar masih mencermati rencana MSCI mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Rencana tersebut memicu kekhawatiran investor dan turut menekan IHSG hingga anjlok 11,57% ke level 5.185,10 pada Jumat (16/10/2026).

Tekanan jual meluas di bursa domestik pada perdagangan Jumat. IHSG bahkan sempat merosot 678,68 poin hingga memicu penghentian perdagangan sementara atau trading halt. Sebanyak 812 saham ditutup melemah.

Investor asing juga masih gencar melepas saham di pasar domestik. Pada Jumat, nilai jual bersih asing (net sell) mencapai Rp3,40 triliun. Secara kumulatif sejak awal tahun (year to date/YTD), nilai jual bersih asing telah menembus Rp110,77 triliun. Pada periode yang sama, IHSG tercatat turun 40,04%.

Senior Technical Analyst Mirae Asset, M Nafan Aji Gusta, menilai kejatuhan tajam IHSG mencerminkan terganggunya stabilitas pasar secara mendadak. Berdasarkan analisis teknikal, IHSG juga dinilai sedang menuju tahap akhir pola gelombang (wave) 5/(C)/Y.

Sejumlah indikator teknikal masih menunjukkan momentum negatif. Indikator Stochastic K_D dan Relative Strength Index (RSI) sama-sama mengisyaratkan pelemahan. Di sisi lain, peningkatan volume transaksi menjadi tanda bahwa tekanan jual masih cukup besar.

Kondisi tersebut membuat aksi jual panik (panic selling) berpotensi berlanjut dalam waktu dekat. Nafan pun memperkirakan pergerakan IHSG masih akan bergejolak, dengan risiko penurunan yang tetap terbuka.

Baca Juga: Sentimen MSCI Masih Membayangi, IHSG Berisiko Kembali Melemah

Baca Juga: Ancaman MSCI dan Rupiah Rp18.100 Membayangi, IHSG Bisa Terkapar ke Level 4.000-an

“Level support IHSG pada 4.989 dan 4.785. Adapun level resistance berada di 5.318 dan 5.522 untuk perdagangan hari ini,” kata Nafan dalam keterangan resminya, Senin (19/10/2026).

Menurutnya, arah IHSG selanjutnya tidak hanya ditentukan oleh kondisi teknikal, tetapi juga oleh perkembangan rencana MSCI dan respons pasar terhadap berbagai persoalan yang menjadi perhatian lembaga penyedia indeks global tersebut.

Transparansi dan Akses Investor Asing Jadi Sorotan MSCI

Sejumlah aspek yang menjadi perhatian MSCI meliputi keterbukaan informasi mengenai kepemilikan saham, keakuratan data free float atau porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan publik, tingkat likuiditas, serta akses investor asing ke pasar Indonesia.

Aspek-aspek tersebut penting karena memengaruhi kemampuan investor dalam menilai kondisi pasar dan melakukan transaksi saham secara transparan.

Nafan mengingatkan bahwa reformasi yang telah dilakukan belum tentu cukup untuk meredakan kekhawatiran MSCI apabila persoalan mendasar masih dinilai belum terselesaikan.

“Meski reformasi sudah berjalan, MSCI masih dapat mempertahankan freeze apabila menilai persoalan mendasar belum sepenuhnya terselesaikan. Tantangan Indonesia bukan hanya memperbaiki regulasi, melainkan juga membangun kredibilitas pasar,” ungkap Nafan.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan