Dorong Keberlanjutan Kedelai Lokal, Petani dan Industri Kolaborasi Perkuat Ekosistem
Kredit Foto: Istimewa
Pengembangan kedelai lokal membutuhkan keterhubungan antara budidaya petani, penyerapan hasil panen, dan kebutuhan bahan baku pengrajin tahu dan tempe. Kolaborasi lintas pemangku kepentingan menjadi salah satu upaya untuk menjaga keberlanjutan usaha di sepanjang rantai pasok tersebut.
Bagi Saifulloh, petani kedelai di Banyuwangi, hasil pertanian menjadi sumber penghidupan sekaligus modal untuk mengembangkan usaha. Ia mengawali perjalanan dengan bekerja di lahan milik orang lain sebelum menyewa lahan sendiri, yang awalnya hanya seluas seperempat hektare.
“Dulu saya ikut bekerja di lahan orang. Setelah itu, saya mulai menyewa lahan sendiri, meskipun awalnya hanya seperempat hektare. Dari hasil bertani kedelai, saya bisa membeli kambing satu untuk diternakkan. Lama-lama, saya juga bisa membeli sapi,” cerita Saifulloh, dikutip Senin (19/10/2026).
Dari lahan seperempat hektare, Saifulloh sebelumnya memperoleh sekitar 3,5-4 kuintal kedelai setiap panen, dengan keuntungan sekitar Rp3,5 juta. Penghasilan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan mengembangkan usaha peternakan.
“Alhamdulillah, dari bertani kedelai saya bisa menghidupi keluarga. Hasilnya juga bisa dikembangkan untuk beternak, sampai akhirnya saya mampu membangun rumah untuk anak,” ujarnya.
Kisah tersebut menggambarkan manfaat ekonomi budidaya kedelai bagi petani. Namun, keberlanjutan usaha juga membutuhkan peningkatan keterampilan, pendampingan, dan peluang pasar yang mendukung penanaman berikutnya.
Di Banyuwangi, pengembangan kedelai varietas lokal dilakukan melalui kolaborasi Ustad Ari Handoko, PTPN IV, dan FKS Foundation. Pendampingan meliputi teknik penanaman dan pemeliharaan tanaman untuk mendukung kualitas hasil panen serta keberlanjutan budidaya.
Ustad Ari Handoko mengatakan, pendampingan diperlukan agar petani dapat terus meningkatkan kemampuan dan mengembangkan usaha pertanian mereka.
“Pengembangan kedelai tidak hanya berbicara tentang menanam dan memanen, tetapi juga tentang bagaimana petani terus belajar, meningkatkan kemampuan budidaya, dan mempersiapkan penanaman berikutnya. Kami ingin petani memiliki kesempatan untuk mengembangkan usahanya secara berkelanjutan, sehingga hasil pertanian dapat memberikan manfaat yang lebih baik bagi keluarga mereka,” ujarnya.
Dalam program ini, hasil panen pertama akan diprioritaskan sebagai benih untuk penanaman berikutnya oleh petani yang didampingi Ustad Ari Handoko dan PTPN IV. Sementara itu, FKS Foundation akan melakukan penyerapan hasil panen kedua untuk mendukung keberlanjutan usaha tani dan membuka peluang pasar.
Perwakilan PTPN IV PalmCo dari Divisi PMO Upstream menyampaikan bahwa pengembangan kedelai memerlukan peningkatan kapasitas petani, penerapan teknik budidaya yang tepat, dan perencanaan penanaman secara berkelanjutan.
“Pengembangan budidaya kedelai membutuhkan proses dan kolaborasi yang berkelanjutan. Peningkatan kapasitas petani, penerapan teknik budidaya yang tepat, serta perencanaan penanaman berikutnya perlu berjalan beriringan. Melalui kolaborasi antarpemangku kepentingan, kami berharap potensi budidaya kedelai dapat terus dikembangkan dan memberikan manfaat ekonomi bagi petani,” katanya.
Keberlanjutan produksi kedelai juga berkaitan dengan kebutuhan pelaku usaha di hilir. Bagi pengrajin tahu dan tempe, ketersediaan bahan baku dengan kualitas konsisten diperlukan untuk menjaga produksi dan memenuhi permintaan konsumen.
Nurwito, pengrajin tempe yang menjalankan usaha sejak 2014, membutuhkan sekitar 50–80 kilogram kedelai setiap hari.
“Bagi kami pengrajin tempe, kedelai adalah bahan baku utama yang menentukan kelangsungan produksi setiap hari. Karena kami membutuhkan kedelai secara rutin, ketersediaan bahan baku dan kualitas yang konsisten sangat penting agar kami bisa terus memproduksi tempe, memenuhi kebutuhan keluarga kami, dan juga kebutuhan konsumen,” ujarnya.
Dokumentasi transaksi pembelian kedelai pada pekan ketiga Oktober 2026 di sejumlah wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat harga sekitar Rp11.050–Rp11.300 per kilogram, belum termasuk biaya transportasi dari lahan ke gudang.
Di Semarang, harga tercatat berkisar Rp11.050–Rp11.200 per kilogram. Sementara itu, di Solo, Yogyakarta, Purwokerto, dan sejumlah wilayah Jawa Tengah lainnya, harga berada pada kisaran Rp11.200–Rp11.300 per kilogram.
Data tersebut menunjukkan harga transaksi di sejumlah wilayah pada periode tersebut. Bagi petani dan pengrajin, kepastian pasokan dan kualitas bahan baku menjadi faktor penting selain harga.
Kolaborasi antara petani, pengrajin, Ustad Ari Handoko, PTPN IV, FKS Foundation, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya diharapkan dapat memperkuat pengembangan kedelai lokal. Upaya ini sekaligus diarahkan untuk mendukung keberlanjutan usaha petani dan pengrajin tahu-tempe.
Dengan menghubungkan budidaya, penyerapan hasil panen, dan kebutuhan bahan baku, pengembangan ekosistem kedelai diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan bagi seluruh pihak yang terlibat.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: