Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

IHSG Melompat 2,55%, Kembali Tembus Level 5.100!

IHSG Melompat 2,55%, Kembali Tembus Level 5.100! Kredit Foto: Antara/Aditya Pradana Putra
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat signifikan pada perdagangan Senin (19/10/2026). IHSG naik 2,55% atau bertambah 127,57 poin ke level 5.124,18.

Pada awal perdagangan, IHSG sempat berada di level 4.980. Namun, indeks kemudian bergerak naik hingga kembali menembus level 5.000 dan ditutup di posisi 5.124,18.

Penguatan ini juga terlihat dari pergerakan mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sebanyak 427 saham ditutup menguat, sementara 228 saham melemah dan 110 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.

Aktivitas perdagangan turut berlangsung ramai. Sepanjang sesi, volume transaksi mencapai 12,78 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp5,69 triliun. Adapun frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 365,10 ribu kali.

IHSG Berpeluang Menguat, Tapi Waspadai Koreksi

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta menyatakan, IHSG berpeluang mengalami penguatan teknikal (technical rebound) pada perdagangan Selasa (20/10/2026) setelah mengalami tekanan jual besar. 

Meski demikian, investor masih perlu mewaspadai volatilitas akibat arus dana asing yang keluar dan ketidakpastian reformasi pasar modal Indonesia.

"Level support IHSG di 4.785 dan 4.620, sedangkan resistance berada di 5.318 dan 5.522," kata dia dalam riset hariannya.

Secara teknikal, IHSG dinilai telah melewati bagian awal dari pola gelombang wave 5/(C)/Y, sehingga ruang pelemahan indeks mulai terbatas. Namun, indikator Stochastic K_D dan Relative Strength Index (RSI) masih menunjukkan sinyal negatif, sementara volume perdagangan mengalami penurunan.

"Pelemahan indeks mulai terbatas, tetapi turbulensi pasar masih berpotensi berlanjut, bergantung pada perkembangan sentimen," ujar Nafan dalam riset hariannya.

Dia menyebut, tekanan pasar terlihat dari aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp2,28 triliun dalam sehari. Secara kumulatif sejak awal tahun, net foreign sell tercatat Rp114,17 triliun, sementara IHSG telah terkoreksi 42,22%.

Di sisi lain, investor domestik mulai memanfaatkan penurunan harga untuk membeli saham-saham blue chip yang telah terkoreksi signifikan. Aksi buy on dip ini berpotensi membantu menahan tekanan terhadap indeks.

Baca Juga: Tekanan Jual Berpotensi Mereda, IHSG Masih Dibayangi Volatilitas Tinggi

Baca Juga: IHSG Berpeluang Rebound ke 5.160, Tapi Waspada Koreksi Lanjutan

Dari dalam negeri, investor akan mencermati perkembangan reformasi pasar modal, transparansi kepemilikan saham, serta evaluasi MSCI.

Selain itu, rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) dari perhitungan IHSG dinilai berpotensi meningkatkan transparansi dan kualitas indeks, meski penyesuaian tersebut dapat memicu volatilitas dalam jangka pendek.

Sementara itu, pemulihan saham teknologi Amerika Serikat berpotensi menopang sentimen global. Namun, kenaikan imbal hasil obligasi AS dan ketidakpastian global masih menjadi risiko yang perlu diperhatikan.

Untuk strategi investasi, Nafan menyarankan investor memilih saham dengan fundamental solid, valuasi yang masih di bawah nilai wajarnya (undervalued), serta indikasi pembalikan tren (reversal).

“Investor perlu fokus pada saham-saham pilihan dengan fundamental solid, memanfaatkan peluang pada saham yang undervalued dan menunjukkan sinyal reversal, serta menerapkan manajemen risiko secara disiplin,” jelas Nafan.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan