PSI Jadi Kendaraan, Jokowi Mulai Ancang-ancang Bangun Pertahanan Politik untuk 2029
Kredit Foto: Istimewa
Keputusan Eks Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang mengumumkan ketekaitan antara satu sama lainnya tidak bisa dipandang sebagai sekadar manuver purnatugas biasa, apalagi di tengah sejumlah polemik jelang ajang dari Pemilu 2029.
Analis Politik Hendri Satrio (Hensa) mengatakan bahwa partai tersebut akan menjadi kendaraan tempur sekaligus pangkalan pertahanan bagi dinasti politik mantan presiden itu dalam meraba dan menyambut konstelasi politik jangka panjang, termasuk Pemilu 2029.
Baca Juga: Bukan Rahasia Lagi, Mulai Terang Akhir Roy Suryo vs Jokowi di Kasus Ijazah
Ia mencermati bahwa langkah taktis yang diambil politikus itu saat ini berbanding lurus dengan memanasnya suhu politik nasional. Tekanan hebat terkait krisis dokumen pendidikan mengharuskannya memiliki platform politik yang legal dan terstruktur untuk mengonsolidasikan kekuatannya kembali, di luar bayang-bayang petahana.
Meskipun Hendri awalnya menilai manuver ini lebih difokuskan sebagai mekanisme pertahanan jangka pendek, ia tidak menampik bahwa langkah-langkah Jokowi sangat kental dengan kalkulasi atmosfer perpolitikan masa depan.
"Saya menilainya justru lebih dalam dari itu ya. Pak Jokowi mulai memperhatikan situasi, dia mulai berhitung suasana dan mulai berhitung kira-kira ke depan atmosfer politiknya seperti apa," ujar Hendri, dikutip Rabu (21/10/2026).
Saat disinggung apakah manuver agresif ini adalah persiapan langsung menuju pemilu nanti, pengamat ini memberikan pandangan yang lebih taktis.
"Enggak, itu terlalu jauh kalau ke sana. Tapi kalau kita melihat langkah yang dilakukan oleh Pak Jokowi, ini kan dia seperti dalam posisi bertahan, kemudian mencoba untuk balik menyerang," jelasnya.
Meski Hendri menganggap pesta demokrasi masih berjarak, realitas politik menunjukkan bahwa mempertahankan posisi anak mantan presiden itu dari ancaman pemakzulan saat ini adalah syarat mutlak (conditio sine qua non) agar keluarga tersebut tetap memiliki tiket tawar ( bargaining power) di pilpres berikutnya. Kendaraan politik yang paling logis dan aman untuk mengeksekusi serangan balik tersebut adalah PSI.
Indikasi Jokowi tengah menyuntikkan keberanian dan membangun mesin politik baru terlihat jelas saat ia berpidato di hadapan kader di Bandung. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu secara provokatif menantang partai kecil tersebut untuk tidak ciut nyali menghadapi tekanan elite penguasa lainnya.
"Ini kita lihat di Jawa Barat itu dia sampaikan misalnya 7 persen, 8 persen tidak takut. Partai ini kecil tapi akan menjadi besar dan lain-lain dan lain-lain. Jadi dia sudah memulai dengan melihat kondisinya sudah jauh berbeda," terang Hendri.
Tingginya eskalasi serangan lawan politik memaksa mantan wali kota itu untuk tidak lagi berdiri di wilayah abu-abu. Narasi "operasi politik" dan "penumpang gelap" yang belakangan rajin ia dengungkan adalah bukti sah bahwa Jokowi sedang mengaktifkan mode tempurnya.
Baca Juga: Desas-desus Alasan Jokowi Ogah Hadiri Sidang Roy Suryo: Konon Ijazah Aslinya Memang Tidak Pernah Ada
"Mungkin perhitungan beliau saat itu ijazahnya dia tidak sepanas ini, tapi kemudian mulai masuk ke arah Mas Gibran sekarang, sehingga dia merasa bahwa kenapa kemudian dia diserang. Oleh karena itu dia berusaha untuk keluar saat ini untuk memberikan hal lain gitu," tutur Hendri.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar