Bertahan di Tengah Perubahan Ritel: Kisah Ibu Sukma Mengembangkan Toko Kelontong bersama SRC
Kredit Foto: Istimewa
Toko kelontong kerap dipandang sebagai usaha sederhana yang menjual kebutuhan sehari-hari. Namun di balik rak yang tertata dan transaksi harían, tersimpan peran besar sebagai penopang ekonomi keluarga sekaligus peluang untuk terus berkembang. Hal inilah yang dirasakan Ibu Sukmawati, pemilik Toko SRC ACDC di Tegalrejo, Yogyakarta. Bersama Sampoerna Retail Community (SRC), ia membuktikan bahwa toko kelontong dapat terus tumbuh, terlebih ketika para pemiliknya saling belajar dan menguatkan satu sama lain.
“Dulu saya mengira toko kelontong ya hanya berjualan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ternyata, kalau kita mau belajar dan terus berkembang, toko juga punya banyak peluang. Saya sendiri merasakan bagaimana pendampingan dan kebersamaan dengan sesama pemilik toko membantu saya mengembangkan usaha.”
Sejak bergabung dengan SRC pada 2011, Ibu Sukma mendapatkan pengetahuan dan pendampingan untuk mengelola toko dengan lebih baik. Ia belajar menata usaha, memahami kebutuhan pelanggan, dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Pengalaman tersebut tidak hanya membantunya mengembangkan bisnis, tetapi juga mempertemukannya dengan sesama pemilik toko yang menghadapi tantangan serupa.
“Bersama SRC, saya banyak mendapatkan arahan dan pembinaan untuk mengembangkan toko. Saya belajar bagaimana menata usaha dengan lebih baik, memahami kebutuhan pelanggan, dan terus melakukan perubahan supaya toko bisa berkembang,” ujarnya.
Bagi Ibu Sukma, manfaat yang ia peroleh dari SRC tidak hanya sebatas pengetahuan bisnis. Melalui komunitas ini, ia juga menemukan ruang untuk berbagi pengalaman dan saling mendukung saat menghadapi berbagai tantangan usaha. Sejak aktif bergabung dalam paguyuban SRC sekitar delapan tahun lalu, ia merasakan langsung manfaat dari semangat kebersamaan yang tumbuh di antara sesama anggota.
“Saya bangga menjadi bagian dari SRC dan paguyuban ini. Selama bersama-sama, saya melihat banyak perubahan dan banyak kebaikan yang kami rasakan. Kami bukan hanya belajar bagaimana mengembangkan toko, tetapi juga belajar untuk saling membantu dan saling menguatkan. Buat saya, paguyuban ini sudah seperti keluarga,” kata Sukma.
Di dalam paguyuban, ia bertemu dengan para pemilik toko yang menapaki perjalanan usaha pada tahapan berbeda. Ada yang sudah lama menjalankan usaha, ada pula yang masih membutuhkan arahan untuk mengembangkan tokonya. Dari kebersamaan tersebut, Sukma menyadari bahwa pengalaman yang dimilikinya dapat menjadi bekal bagi orang lain.
Salah satu yang merasakan dampaknya adalah Aris. Melalui berbagai arahan dan dukungan dari Sukma, ia terdorong untuk terus mengembangkan usaha hingga akhirnya mampu mendirikan Toko SRC SA dengan fasilitas yang lebih lengkap.
“Waktu saya ingin mengembangkan toko, Bu Sukma banyak memberikan arahan dan bimbingan. Dari situ saya jadi lebih percaya diri untuk melangkah dan mengembangkan usaha. Buat saya, Bu Sukma bukan hanya ketua paguyuban, tetapi juga orang yang mau berbagi pengalaman dan mendorong kami untuk terus maju,” ujar Aris.
Manfaat serupa juga dirasakan oleh Ibu Devi, pemilik SRC Tlogo Mart. Melalui paguyuban SRC yang dipimpin oleh Ibu Sukma, ia memperoleh banyak wawasan dan pembelajaran yang terus mengalir yang turut mendorong perkembangan tokonya dari waktu ke waktu.
Bagi Sukma, melihat pemilik toko lain berkembang menjadi kebahagiaan tersendiri. Pengalaman yang awalnya ia peroleh untuk mengembangkan usaha sendiri kini dapat diteruskan kepada orang lain. Melalui paguyuban, proses belajar tidak hanya berlangsung satu arah, tetapi tumbuh dari pertukaran pengetahuan dan pengalaman antarpemilik toko.
Direktur PT SRC Indonesia Sembilan (SRCIS), Romulus Sutanto, menjelaskan bahwa perjalanan para pemilik toko tersebut menunjukkan pentingnya peran komunitas dalam mendukung pertumbuhan dan keberlanjutan UMKM. Menurutnya, pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki seseorang dapat memberikan dampak yang lebih luas ketika dibagikan kepada anggota komunitas lainnya.
“Penguatan UMKM tidak hanya bergantung pada kemampuan masing-masing pemilik usaha, tetapi juga pada kesempatan untuk belajar dan berkembang bersama. Ketika pengalaman dan pengetahuan dibagikan di dalam komunitas, manfaat pendampingan dapat menjangkau lebih luas dan membuka peluang bagi mereka untuk tumbuh bersama,” ujar Romulus.
Baca Juga: Tokopedia, TikTok Shop, KemenkoPM dan Kemenperin Perkuat Ekosistem Wajib Halal
Baca Juga: Kronologi Demo Prancis Berujung Rusuh: Balai Kota Terbakar, Toko Dijarah, Ribuan Orang Ditangkap
Semangat tersebut menjadi bagian dari pengembangan SRC sebagai ekosistem UMKM berbasis komunitas. Saat ini, SRC hadir di 38 provinsi dengan lebih dari 250.000 Toko SRC terdaftar dan lebih dari 10.000 Paguyuban SRC di berbagai wilayah Indonesia.
Menurut Romulus, penguatan ekosistem tersebut akan terus diarahkan pada peningkatan kapasitas usaha dan penciptaan nilai tambah bagi pelaku UMKM.
“Ke depan, kami akan terus memperkuat ekosistem UMKM berbasis komunitas ini. Fokus kami bukan hanya pada peningkatan kapasitas usaha, tetapi juga bagaimana menciptakan nilai tambah agar daya saing UMKM terus meningkat dan memberikan dampak yang lebih luas, baik bagi perekonomian daerah maupun nasional,” imbuhnya.
Pada akhirnya, bagi Ibu Sukma, pertumbuhan tidak hanya diukur dari kemajuan tokonya sendiri. Perjalanan panjangnya bersama SRC memperoleh makna yang sesungguhnya ketika pengetahuan yang ia bagikan mampu menumbuhkan kepercayaan diri dan membantu pemilik toko lain dalam mengembangkan usahanya. Sebab, baginya, bertumbuh juga berarti membuka jalan agar semakin banyak orang dapat melangkah maju bersama.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: