Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Kembali Tembus Rp18.000 per USD Usai BI Tahan Suku Bunga

Rupiah Kembali Tembus Rp18.000 per USD Usai BI Tahan Suku Bunga Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Rabu (21/10/2026). Mata uang Garuda terparkir Rp18.022 per dolar AS, atau melemah 30 poin dibandingkan penutupan sebelumnya Rp17.992.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan penyesuaian ini terjadi usai kebijakan Bank Indonesia. Bank sentral memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%. 

Sejalan dengan itu, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50%.

"Dengan demikian, BI telah menahan suku bunga dalam tiga pertemuan beruntun. Bank sentral sebelumnya juga mempertahankan BI Rate sebesar 5,75% pada RDG Agustus 2026," kata dia kepada wartawan.

Di sisi lain, pemerintah melalui Kemenkeu optimistis defisit APBN 2026 akan tetap di bawah batas 3% terhadap PDB meski terdapat risiko kenaikan imbal hasil atau yield SBN hingga harga minyak dunia. Otoritas fiskal setidaknya memproyeksikan level defisit tetap berada sesuai outlook pertengahan tahun, yakni 2,85% terhadap PDB. 

Deviasi kedua asumsi dasar ekonomi makro ini dapat berefek pada pergeseran postur APBN, baik pendapatan, belanja serta defisit. Untuk tingkat imbal hasil SBN, salah satu hal yang diwaspadai adalah efek sentimen negatif penilaian terbaru Morgan Stanley Capital International (MSCI).  

Baca Juga: Rupiah Dibuka Stagnan di Rp17.992/USD, Berpotensi Melemah Tertekan Sentimen Pasar

Baca Juga: Rupiah Ditutup Menguat Tinggalkan Level Rp18.000 per USD

Apabila merujuk pada outlook APBN pertengahan 2026, pemerintah memproyeksikan defisit fiskal melebar dari target Rp689,1 triliun (2,68% PDB) ke Rp734,3 triliun (2,85% PDB). Proyeksi defisit ini turut dirancang dengan peningkatan imbal hasil surat utang pemerintah tenor 10 tahun dari target APBN 6,9% ke kisaran sampai 7,1%. 

Kemenkeu optimistis defisit APBN masih akan sesuai dengan outlook 2,85% karena sejumlah asumsi makro juga masih dalam sasaran. Contohnya, pertumbuhan ekonomi masih pada kisaran 5,4% sampai 5,6% serta inflasi 2,5±1% sebagaimana juga yang ditargetkan Bank Indonesia (BI).

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra

Tag Terkait: