Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Selasa (20/10/2026). Mata uang Garuda menguat 54 poin ke level Rp17.992 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp18.046 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah pada perdagangan Rabu (21/10/2026) bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di rentang Rp17.990 hingga Rp18.040 per dolar AS.
“Sedangkan perdagangan dalam minggu ini direntang Rp17.850–Rp18.200,” demikian proyeksi Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (20/10/2026).
Tekanan terhadap rupiah masih membayangi pasar keuangan meskipun indeks dolar AS melemah. Kondisi ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global, terutama setelah munculnya kembali risiko terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah dan pasokan energi dunia.
Ibrahim menjelaskan, Kelompok Houthi di Yaman yang berafiliasi dengan Iran mengklaim melancarkan serangan terhadap sejumlah target energi, bandara, dan militer di Arab Saudi pada Senin. Target yang disebutkan mencakup fasilitas minyak Aramco di Yanbu dan ladang minyak Shaybah. Namun, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
“Situasi tersebut menambah kekhawatiran pasar terhadap keamanan pasokan minyak global. Harga minyak yang bertahan di atas US$100 per barel berpotensi meningkatkan beban impor energi Indonesia sekaligus menambah kebutuhan dolar AS,” tutur Ibrahim.
Di sisi lain, arah kebijakan moneter AS juga masih menjadi perhatian investor. Sejumlah pernyataan pejabat Federal Reserve (The Fed) mengindikasikan keterbukaan terhadap pengetatan kebijakan lebih lanjut, meskipun belum memberikan sinyal kuat mengenai kenaikan suku bunga dalam pertemuan 27–28 Oktober 2026.
Ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga AS dapat memengaruhi pergerakan arus modal global dan daya tarik aset negara berkembang, termasuk Indonesia. Meski demikian, pasar juga akan mencermati rilis data ekonomi AS, seperti klaim tunjangan pengangguran mingguan dan indeks awal aktivitas bisnis atau Purchasing Managers' Index (PMI).
Baca Juga: Pengamat: Pejabat Sebaiknya Jangan Bicara Lagi soal Karhutla, IHSG, dan Rupiah
Baca Juga: PDIP Desak Evaluasi Total Kebijakan Prabowo: Konsep Tak Jelas, Padahal Proyek Triliunan Rupiah
Dari dalam negeri, realisasi investasi Indonesia sepanjang Januari–September 2026 mencapai Rp1.539,2 triliun atau 75,4% dari target tahunan. Investasi tersebut menyerap 2.194.496 tenaga kerja, dengan penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp777,8 triliun dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) Rp761,4 triliun.
Capaian investasi tersebut menjadi salah satu indikator aktivitas ekonomi domestik yang perlu dicermati di tengah tekanan eksternal. Namun, pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih akan dipengaruhi kombinasi sentimen global, kebutuhan valuta asing, dan persepsi investor terhadap kondisi pasar keuangan Indonesia.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aryo Hadi Wibowo
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: