Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Indonesia Kehilangan 40% Market Cap Usai Ditekan MSCI, Anak Buah Syahganda di Bakom Sebut Penderitaan Demi Reformasi Pasar Modal

Indonesia Kehilangan 40% Market Cap Usai Ditekan MSCI, Anak Buah Syahganda di Bakom Sebut Penderitaan Demi Reformasi Pasar Modal Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kapitalisasi pasar saham Indonesia mengalami penyusutan tajam di tengah tekanan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap tata kelola pasar modal nasional. Jumlah emiten Indonesia dalam indeks MSCI juga berkurang dari 18 menjadi sembilan emiten.

Staf Ahli Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah RI, Fithra Faisal Hastiadi, mengungkapkan dampak tersebut dalam perbincangan di kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored, Selasa (20/10/2026).

"Dari sebelumnya total market cap kita yang ada di MSCI itu 119 miliar dolar AS, sekarang tinggal 53 miliar dolar AS. Dalam periode Januari sampai tahun ini kita sudah kehilangan market cap kita sekitar 40 persen," ungkap Fithra.

Menurut Fithra, penyusutan kapitalisasi pasar tersebut juga berdampak pada posisi Indonesia di kawasan Asia Tenggara. Sebelumnya, Indonesia menjadi pasar saham terbesar di ASEAN dengan kapitalisasi pasar mencapai 900 miliar dolar AS.

Namun, posisi tersebut kini beralih kepada Singapura.

Tekanan MSCI mendorong Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) memperketat pengawasan terhadap emiten yang dinilai bermasalah.

Salah satu persoalan yang menjadi sorotan adalah High Shareholder Concentration, yakni kondisi ketika kepemilikan saham terkonsentrasi pada kelompok tertentu. Dalam uraian Fithra, sejumlah emiten diduga melaporkan porsi saham publik (free float) yang lebih besar daripada kondisi sebenarnya.

Mayoritas saham, bahkan lebih dari 95 persen, disebut masih berada dalam kendali kelompok yang terafiliasi dengan perusahaan.

Ketidaksesuaian tersebut dapat menciptakan likuiditas semu dan merugikan investor yang mengandalkan informasi mengenai saham yang tersedia untuk diperdagangkan di pasar.

Persoalan ini turut memicu keluhan investor asing karena dana mereka tertahan pada sejumlah saham. Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu latar belakang tekanan MSCI terhadap pasar modal Indonesia.

Fithra menilai penyusutan kapitalisasi pasar merupakan konsekuensi berat dari proses pembenahan pasar modal. Namun, ia memandang langkah tersebut perlu dilakukan untuk memperbaiki transparansi dan mencegah praktik manipulasi saham berulang.

Ia menggambarkan proses reformasi itu sebagai penderitaan sementara yang harus ditanggung demi perbaikan jangka panjang (pain that we must endure).

Baca Juga: MSCI 'Galak' ke Indonesia, Anak Buah Syahganda Pastikan Bukan karena Fundamental Lemah

Fithra juga mengibaratkan situasi tersebut sebagai langkah mundur untuk mencapai kemajuan yang lebih besar pada masa mendatang.

Menurut dia, tanpa tekanan dari MSCI, pembenahan terhadap praktik manipulasi dan konsentrasi kepemilikan saham berpotensi tidak berjalan secepat sekarang.

Pemerintah dan regulator diharapkan dapat memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat pengawasan, meningkatkan akuntabilitas emiten, serta membangun pasar modal yang lebih transparan dan dipercaya investor.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat