MBG Prasmanan Diuji Coba di 66 Dapur, Siswa Bisa Tambah Makanan jika Masih Ada
Kredit Foto: Istimewa
Siswa berpeluang mengambil tambahan makanan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui metode prasmanan yang tengah diuji coba pemerintah. Dengan cara ini, makanan disajikan langsung di kelas dalam kondisi hangat, sementara siswa dapat menambah porsi apabila persediaan masih tersedia.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengatakan, metode tersebut menunjukkan hasil awal yang menjanjikan berdasarkan laporan yang diterimanya. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah berkurangnya makanan tersisa setelah siswa makan.
“Sejauh ini tadi saya dapat laporan, tingkat kehabisan makanannya bagus. Jadi lebih fresh, kemudian ada yang mungkin mau nambah, masih ada sisa bisa nambah. Dan waste-nya lebih sedikit karena prasmanan,” kata Sudaryono.
Menurutnya, penyajian langsung di kelas memungkinkan makanan dikonsumsi tanpa jeda waktu yang terlalu panjang setelah dibawa dari dapur. Cara ini diharapkan menjaga makanan tetap hangat dan segar saat disantap siswa.
“Per hari ini, di tanggal 5 ini kita sudah piloting di mungkin lebih dari 60 dapur untuk prasmanan di kelas. Jadi makanan dibawa hangat-hangat ke kelas, kemudian disajikan di kelas,” ujar Sudaryono.
Pemerintah mencatat uji coba metode prasmanan dilakukan di 66 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di 10 provinsi. Hasil penerapannya akan dievaluasi secara berkala sebelum metode tersebut diperluas ke wilayah lain.
Selain menjaga kualitas penyajian, metode prasmanan diharapkan mengurangi risiko kerusakan makanan akibat jeda antara proses memasak dan waktu konsumsi. Meski demikian, manfaat tersebut masih perlu dinilai melalui evaluasi pelaksanaan di lapangan.
“Kita harapkan satu, makanannya lebih enak karena hangat-hangat. Yang kedua, tentu saja lebih fresh karena tidak ada delay waktu. Sehingga mengurangi risiko kerusakan makanan yang kemudian menimbulkan gangguan kesehatan,” jelas Sudaryono.
Penerapan metode ini juga diarahkan untuk memperkuat edukasi gizi. Guru dan siswa diharapkan ikut terlibat dalam proses penyajian sehingga kegiatan makan tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga kesempatan untuk membangun kebiasaan makan yang baik.
Namun, Sudaryono mengingatkan bahwa penerapan prasmanan membutuhkan pembiasaan dan pelatihan yang memadai. Pengalaman negara lain yang lebih dahulu menjalankan program makan di sekolah, termasuk Jepang dan Italia, menjadi salah satu bahan pembelajaran pemerintah.
“Kalau prasmanan ini memang, kalau sudah terbiasa akan bagus, sama seperti di negara lain. Cuman memang perlu ada training yang cukup,” ungkapnya.
Baca Juga: 103 Siswa Diduga Keracunan MBG, Pemkab Bogor Pastikan Biaya Berobat Ditanggung
Uji coba ini merupakan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan keamanan pangan dan mutu gizi makanan dalam program MBG. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas menegaskan bahwa pembenahan harus dilakukan seiring perluasan layanan ke berbagai daerah.
“Memasuki dua tahun pemerintahan, arahan Presiden MBG segera diimplementasikan secara merata, terutama di wilayah 3T dan daerah dengan prevalensi stunting tinggi. Kekurangan harus dibenahi, tata kelola ditertibkan, dan penyimpangan kita tindak tegas,” ujar Zulhas dalam keterangannya, Rabu (21/10/2026).
Uji coba prasmanan menjadi salah satu langkah yang akan dievaluasi dalam pembenahan tersebut. Pemerintah belum menyatakan bahwa metode ini akan langsung diterapkan di seluruh SPPG, karena hasil pelaksanaan di sejumlah daerah masih menjadi bahan penilaian.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama