Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

SMRC: Tak Ada Bukti Kuat Gibran Lebih Unggul Dibanding AHY

SMRC: Tak Ada Bukti Kuat Gibran Lebih Unggul Dibanding AHY Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kompetisi menuju tampuk kepemimpinan nasional diproyeksikan akan diwarnai oleh pertarungan ketat antar-tokoh politik generasi muda. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam posisi head-to-head yang sangat berimbang dalam riset terbaru dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).

Direktur  Saiful Mujani Research and Consulting, Deni Irvani menjabarkan data simulasi tiga nama (Gibran, AHY dan Prabowo) berdasarkan survei periode 1-10 Oktober 2026. Dalam skenario tersebut, sang wakil presiden mencatatkan elektabilitas sebesar 29,7 persen. AHY di sisi lain menempel sangat ketat di angka 28,2 persen. Selisih dukungan di antara kedua tokoh muda ini hanya terpaut 1,5 poin persentase.

Baca Juga: PDIP Soal Ijazah Gibran: Pejabat Tinggi Melanggar Aturan, Masa Tidak Diberi Sanksi Etik dan Moral?

Deni, menghadapi angka yang sangat tipis tersebut, memperingatkan publik dan para analis politik untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan matematis. Dalam kaidah metodologi survei yang ketat, selisih 1,5 persen berada jauh di dalam rentang margin of error, sehingga secara statistik kekuatan keduanya harus dinyatakan seimbang ( statistical tie).

"Kita tidak punya bukti yang kuat untuk menyimpulkan bahwa wapres unggul kalau selisihnya hanya 1,5 persen. Jadi, kita simpulkan memang imbang. Kalau Gibran dengan Pak Prabowo memang selisihnya di atas 6 persen. Lebih besar dari dua kali margin of error, sehingga presiden memang lebih rendah," jelas Deni dikutip Kamis (22/10/2026).

Menariknya, pendulum elektoral justru berayun secara drastis ke arah AHY. SMRC saat melakukan pengujian yang lebih mengerucut melalui simulasi dua nama antara sosok itu dan wapres, ia justru berhasil menyalip dan menundukkan Gibran.

AHY sukses mendulang elektabilitas sebesar 41,6 persen. Sementara Gibran yang hanya mampu meraup 36 persen dukungan. Selisih 5,6 poin persentase yang memisahkan keduanya ini membuktikan bahwa ia memiliki daya lenting elektoral yang jauh lebih solid ketika pemilih dipaksa memilih di antara dua opsi utama.

Namun Deni Irvani tetap memberikan catatan metodologis yang sangat hati-hati. Ia mengingatkan bahwa selisih 5,6 persen tersebut masih memerlukan validasi lebih lanjut mengingat besarnya porsi sampel yang fluktuatif.

"Itu juga selisih yang tidak signifikan karena butuh lebih dari 5,8 (persen) dalam sampel," tuturnya.

Baca Juga: SMRC: Sekalipun Dedi Mulyadi Batal Nyapres, Posisi Elektoral Prabowo Subianto Tetaplah Lemah

Selain itu, dinamika pertarungan kedua tokoh ini masih berpotensi berubah secara radikal. Pasalnya, lembaga itu merekam adanya 22,4 persen responden yang hingga saat ini masih merahasiakan pilihannya ( undecided voters) atau belum menentukan sikap sama sekali. Ke mana bermuaranya lebih dari dua puluh persen suara mengambang ini kelak akan menjadi penentu tunggal siapa yang paling layak memenangkan takhta tertinggi di republik ini.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar