Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
CEO Searah Muara Bakau Mirko Araldi menargetkan produksi gas mencapai 3 miliar kaki kubik per hari atau billion cubic feet per day (BCFD) dan kondensat sebesar 140.000 barel per hari pada 2029. Target tersebut akan ditopang oleh rangkaian pengembangan lapangan gas, pembangunan fasilitas produksi baru, serta kegiatan eksplorasi di lepas pantai Kalimantan Timur.
Searah merupakan perusahaan patungan 50:50 antara perusahaan energi asal Italia, Eni, dan perusahaan energi nasional Malaysia, Petroliam Nasional Berhad (Petronas). Perusahaan ini resmi dibentuk pada Juni 2026 untuk menggabungkan dan mengelola aset hulu migas kedua perusahaan di Indonesia dan Malaysia. Portofolio awal Searah mencakup 19 aset, terdiri atas 14 aset di Indonesia dan lima aset di Malaysia
“Melalui upaya eksplorasi yang berkelanjutan, rangkaian proyek yang sedang kami siapkan, percepatan pengembangan, dan investasi bernilai miliaran dolar, kami menargetkan produksi gas sebesar 3 BCFD dan kondensat sebesar 140.000 barel per hari pada 2029,” ujar Mirko dalam sambutannya pada peresmian penerimaan gas Jangkrik North-East-6 (JNE#6) dan pengembangan Lapangan MAHA-South Hub di FPU Jangkrik, Kalimantan Timur, Kamis (22/10/2026).
Salah satu pengembangan yang disiapkan adalah proyek Gendalo–Gandang yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2028. Kedua lapangan tersebut akan terhubung dengan fasilitas produksi terapung atau Floating Production Unit (FPU) Jangkrik melalui sistem koneksi bawah laut (subsea tie-back).
Mirko menjelaskan, pengembangan Gendalo–Gandang mencakup tujuh sumur, terdiri atas lima sumur di Lapangan Gendalo dan dua sumur di Lapangan Gandang. Proyek tersebut dirancang untuk mempertahankan produksi South Hub pada tingkat sekitar 750 juta kaki kubik gas per hari atau MMSCFD, dengan produksi kondensat sekitar 10.000 barel per hari.
Selain pengembangan South Hub, perusahaan tengah membangun fasilitas produksi, penyimpanan, dan pembongkaran terapung atau Floating Production, Storage and Offloading (FPSO) baru untuk proyek Kutei North Hub. Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas pemrosesan gas 1.000 MMSCFD, kapasitas pemrosesan kondensat 80.000 barel per hari, serta kapasitas penyimpanan 1,4 juta barel.
Mirko mengatakan struktur atas fasilitas atau topside dengan bobot sekitar 40.000 ton sedang dibuat di Batam dan Karimun. Struktur tersebut selanjutnya akan diintegrasikan dengan lambung FPSO di galangan Karimun.
“Kami menargetkan pengembangan ini mulai beroperasi pada kuartal IV 2028,” kata Mirko.
Perusahaan juga menyiapkan pengembangan Geliga Hub setelah penemuan gas Geliga pada April 2026. Dalam paparannya, Mirko menyebut perusahaan sedangharus mengajukan rencana pengembangan atau Plan of Development (POD) untuk proyek tersebut.
Geliga Hub direncanakan menggunakan FPSO dengan desain serupa Kutei North Hub. Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas pemrosesan gas 1.000 MMSCFD, kapasitas pemrosesan kondensat 80.000 barel per hari, dan kapasitas penyimpanan 1,4 juta barel. Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi pada 2029.
Di sisi eksplorasi, Mirko mengatakan perusahaan tengah melakukan pengeboran sumur Jangkrik North-East Upside-1 di Wilayah Kerja West Ganal. Kegiatan tersebut dilengkapi survei seismik 3D dan 4D yang dilakukan bersama Shearwater dan DNI, dengan cakupan sekitar 12.000 kilometer persegi.
Menurut Mirko, survei tersebut mencakup wilayah yang luas dan seluruh blok yang dikelola perusahaan. Dia menyebut kegiatan itu sebagai survei seismik dengan cakupan terbesar yang pernah dilakukan oleh sebuah perusahaan di Indonesia.
Mirko menambahkan, survei tersebut akan membantu perusahaan mengevaluasi potensi eksplorasi yang masih tersedia di Cekungan Kutai, menyusul penemuan lapangan gas besar Geng North dan Geliga dalam tiga tahun terakhir.
Selain pengembangan lapangan, Mirko mengatakan FPU Jangkrik telah memainkan peran penting dalam operasi lepas pantai perusahaan selama sembilan tahun. Sejak Lapangan Jangkrik mulai beroperasi pada 2017, fasilitas tersebut turut mendukung pengembangan Merakes pada 2021, Merakes East pada 2025, serta sumur JNE#6 yang mulai mengalirkan gas pada 9 Oktober 2026.
Baca Juga: Bahlil Resmikan Proyek Gas JNE#6 dan MAHA, Pasokan Ditargetkan Bertambah 290 MMSCFD
Baca Juga: Bahlil Pertimbangkan Setop Perpanjangan Kontrak Ekspor Gas ke Negara Tetangga
Sumur JNE#6 memberikan tambahan gas sebesar 60 MMSCFD. Sementara itu, tambahan pasokan sebesar 230 MMSCFD dari dua sumur Lapangan MAHA ditargetkan mulai mengalir pada akhir Oktober 2026.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa pengembangan sejumlah lapangan migas di Kalimantan diproyeksikan meningkatkan produksi gas dan kondensat pada 2028–2029.
Bahlil menyebut produksi gas dari pengembangan tersebut dapat mencapai sekitar 3.000 MMSCFD, dengan produksi kondensat sekitar 130.000 barel per hari. Dia juga mengatakan tambahan produksi dari proyek-proyek Eni di Kalimantan menjadi salah satu kontribusi yang diharapkan mendukung target pemerintah meningkatkan produksi minyak nasional menjadi 900.000 barel hingga 1 juta barel per hari pada 2029–2030.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: