Celah Keamanan Pemindai Barcode Berpotensi Ancam Jaringan Pergudangan
Kredit Foto: Cloudera
Pemindai barcode nirkabel yang digunakan dalam industri pergudangan dan ritel berpotensi menjadi pintu masuk serangan siber ke jaringan internal perusahaan. Celah keamanan pada komunikasi perangkat tersebut memungkinkan penyerang menyisipkan perintah berbahaya ke komputer yang terhubung.
Temuan dalam audit keamanan ekosistem digital pergudangan yang dilakukan peneliti Kaspersky Security Services menunjukkan adanya kelemahan pada mekanisme komunikasi antara pemindai barcode dan stasiun pangkalan (base station). Kedua perangkat tersebut tidak dilengkapi mekanisme autentikasi yang memadai.
Dalam konfigurasi yang umum digunakan, pemindai barcode portabel berkomunikasi dengan stasiun pangkalan, yang kemudian terhubung ke komputer atau sistem bisnis lainnya. Kelemahan tersebut memungkinkan penyerang dalam jangkauan nirkabel menyisipkan input yang dapat dikenali sistem sebagai perintah dari pengguna.
Mengutip temuan yang dipublikasikan pada Jumat (23/10), serangan dapat dilakukan melalui koneksi Bluetooth. Penyerang terlebih dahulu memperoleh alamat Bluetooth stasiun pangkalan, misalnya dengan memantau lalu lintas komunikasi secara pasif.
Setelah koneksi terbentuk, penyerang dapat mengirimkan muatan berbahaya berupa simulasi penekanan tombol (keystrokes) ke stasiun pangkalan. Input tersebut kemudian diteruskan ke komputer yang terhubung dan diproses seolah-olah berasal dari pengguna yang sah.
Dalam kondisi tertentu, teknik ini berpotensi memungkinkan eksekusi kode dari jarak jauh (remote code execution) tanpa memerlukan interaksi pengguna.
Pemindai barcode hanya menjadi titik awal serangan. Setelah memperoleh akses ke komputer yang terhubung, penyerang berpotensi memanfaatkan posisi perangkat tersebut dalam jaringan untuk menjangkau sistem operasional yang lebih penting.
Risiko ini menjadi perhatian karena aktivitas pergudangan modern bergantung pada keterhubungan berbagai perangkat digital untuk mendukung pemrosesan barang, pengelolaan inventaris, hingga distribusi pesanan. Gangguan terhadap sistem tersebut berpotensi menghambat operasional dan memengaruhi kelancaran rantai pasok.
Kerentanan serupa juga ditemukan pada perangkat dari berbagai vendor. Selain pemindai barcode, pola serangan yang sama diperkirakan dapat diterapkan pada perangkat lain, seperti Terminal Data Portabel (Portable Data Terminal/PDT) dan printer termal, untuk memperoleh akses ke infrastruktur perusahaan, termasuk Sistem Manajemen Gudang (Warehouse Management System/WMS).
Kepala Layanan Keamanan Industri Kaspersky Sergey Sidorov menilai, ketergantungan sektor ritel dan logistik terhadap teknologi digital membuat berbagai perangkat operasional berpotensi menjadi titik masuk serangan siber.
Menurutnya, perlindungan keamanan perlu mencakup seluruh lapisan operasional, mulai dari sistem manajemen perusahaan hingga perangkat yang digunakan pekerja.
Untuk mengurangi risiko, perusahaan disarankan memverifikasi keamanan setiap perangkat sebelum menghubungkannya ke jaringan internal. Penggunaan Bluetooth yang tidak diperlukan juga perlu dinonaktifkan untuk mempersempit potensi jalur serangan.
Baca Juga: Serangan ke Pengguna Android Naik 29%, Kaspersky Ungkap 5 Risiko Aplikasi Seluler
Baca Juga: Perkuat Transformasi Digital, TRIPA Hadirkan Layanan Omnichannel
Perusahaan juga perlu menerapkan autentikasi yang kuat, membatasi koneksi antarsistem melalui segmentasi jaringan, serta memasang pembaruan keamanan pada perangkat dan WMS secara berkala.
Selain itu, hak akses akun perlu dibatasi sesuai kebutuhan masing-masing pengguna. Pengujian keamanan melalui simulasi jalur serangan (attack-path) secara berkala juga diperlukan, termasuk untuk menguji skenario penyalahgunaan kredensial yang sah oleh pihak internal.
Langkah-langkah tersebut dapat membantu perusahaan mengidentifikasi celah keamanan dan membatasi kemungkinan akses tidak sah dari satu perangkat ke sistem operasional lainnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri