Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

PSI Ingin Jokowi Jadi Ketum Partai, Pengamat: Ini Sinyal Nyata Keputusasaan...

PSI Ingin Jokowi Jadi Ketum Partai, Pengamat: Ini Sinyal Nyata Keputusasaan... Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Wakil Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Andy Budiman ingin memberikan jabatan ketua partainya kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Namun hal tersebut alih-alih strategi baik, justru nilai sebagai sinyal keputusasaan dari PSI.

Pengamat Politik, Heru Subagia menilai gagasan untuk meminta seorang mantan kepala negara mengambil alih pucuk pimpinan partai gurem sebagai sebuah bentuk keputusasaan. Partai dinilai telah kehilangan arah dan gagal membaca realitas konseptual di akar rumput.

Baca Juga: Pengamat Peringatkan Prabowo: Kepercayaan Turun Bukan Karena Asing, Tapi Ucapan Pejabat Sendiri

Bagi Heru, merekomendasikan politikus itu untuk turun takhta dan mengurus partai non-parlemen adalah sebuah usulan yang berlebihan dan tidak rasional. Langkah tersebut justru berisiko menjadi bumerang dan malapetaka politik bagi Jokowi dan PSI.

"Rekomendasi brutal agar dia turun kasta menjadi ketum bukanlah tanda kemajuan. Ini adalah sinyal keputusasaan struktural (structural desperation) dari sebuah partai yang gagal total membaca realitas konseptual di akar rumput," ujar Heru Subagia dikutip Jumat (23/10/2026).

Heru lebih jauh membedah paradoks realitas politik yang tengah melanda partai itu dengan menyodorkan data objektif. Secara personal, ia mengakui bahwa trah keluarga politikus itu memang masih menunjukkan keperkasaannya di panggung politik nasional.

Putra Jokowi, Kaesang Pangarep, saat ini menduduki kursi Ketua Umum PSI. Ia mulai merangsek masuk ke dalam bursa 10 besar calon pemimpin masa depan. Sementara Gibran Rakabuming Raka telah sukses menggenggam tiket kekuasaan tertinggi kedua sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia.

Namun, anomali politik terjadi ketika popularitas figur-figur sentral tersebut gagal dikonversi menjadi dukungan institusional bagi partai. Heru menyoroti data empiris dari berbagai rilis lembaga survei kredibel dalam rentang tiga hingga empat bulan terakhir. Kerja-kerja politik intensif yang digelorakan secara kolektif oleh ketiganya terbukti gagal total dalam mendongkrak tingkat keterpilihan PSI.

"Angka elektabilitas saat ini justru menunjukkan tren penurunan yang signifikan setelah sempat menyentuh angka 4 persen sekian pada periode puncaknya," ungkap Heru.

Heru membeberkan angka-angka memprihatinkan dari sejumlah lembaga survei independen. Data Voxpol Center Research & Consulting 3-12 Oktober 2026 memotret elektabilitas partai itu berada di titik nadir, yakni hanya menyentuh 2,4 persen.

Baca Juga: PDIP Desak Presiden Prabowo Kaji Ulang Usulan Kontroversial Luhut Soal Re-definisi Korupsi

"Artinya di bawah ambang batas (belum lolos). Poltracking Indonesia 30 September-7 Oktober 2026, 2,9 persen masih di bawah ambang batas (belum lolos)," jelasnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar