Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Diisukan Pecah Kongsi, Pengaruh Jokowi pada Prabowo Disebut Masih Kuat Lewat Sumbangan 17 Menteri

Diisukan Pecah Kongsi, Pengaruh Jokowi pada Prabowo Disebut Masih Kuat Lewat Sumbangan 17 Menteri Kredit Foto: BPMI
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pengaruh mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menjadi sorotan dalam diskusi kebangsaan yang disiarkan melalui kanal YouTube Sinkos Indonesia pada 23 Oktober 2026.

Jurnalis senior Isak Rafik menilai pengaruh Jokowi masih kuat di kabinet Prabowo. Menurutnya, kondisi tersebut membuat Prabowo seolah tidak leluasa menjalankan pemerintahan dengan timnya sendiri.

"Prabowo itu seperti presiden yang sendirian. Dia sepi. Iya. Dia punya tim inti 17. Itu semua sumbangannya Jokowi. 17 menteri," ungkap Isak.

Ia mengibaratkan keberadaan orang-orang yang disebutnya sebagai bagian dari pengaruh Jokowi di kabinet seperti pion lawan dalam permainan catur. Menurut Isak, posisi tersebut dapat memengaruhi jalannya pemerintahan.

"...kalau kita main catur ya kalau ada pion musuh itu masuk ke daerah kita, dia bisa berubah menjadi perdana menteri, menjadi benteng, menjadi kuda, menjadi apapun yang mengacokkan kabinet... Mendagrinya orangnya Jokowi."

Selain komposisi kabinet, diskusi tersebut menyoroti sikap partai-partai politik dalam menghadapi persoalan konstitusional dan polemik politik yang berkembang.

Analis politik Slamet Ginting menilai kedekatan sejumlah partai dengan Jokowi pada masa lalu memengaruhi sikap mereka saat ini.

"PAN itu enggak bisa diharapkan karena itu bagian dari pendukung Jokowi tiga periode. Sama sama juga PKB walaupun pada saat Pilpres beda kubu," beber Ginting.

Pernyataan tersebut menggambarkan penilaiannya terhadap ruang gerak partai-partai tersebut dalam menyikapi persoalan politik yang berkaitan dengan pemerintahan saat ini.

Isak juga melontarkan kritik terhadap Partai Golkar. Ia menilai partai tersebut tidak cukup independen dari pengaruh Jokowi, terutama setelah Bahlil Lahadalia menduduki posisi pimpinan partai.

Menanggapi penjelasan politikus Golkar Ahmad Doli Kurnia, Isak menyampaikan kritik secara langsung.

"Jangan sebuah partai yang sudah ditaklukkan oleh Jokowi. Jadi kalian ini bagian orang-orang yang takluk itu."

Kritik tersebut menambah sorotan terhadap hubungan Jokowi dengan partai-partai yang berada dalam koalisi pemerintahan Prabowo.

Berbeda dengan partai-partai yang disorot dalam diskusi tersebut, PDI Perjuangan (PDIP) menegaskan telah mengambil jarak dari Jokowi dan putranya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Perwakilan PDIP, Gus Romli Guntur, mengatakan partainya tidak lagi merasa memiliki tanggung jawab moral atas keduanya.

Baca Juga: Survei Kepuasan pada Prabowo Terus Turun, Gibran jadi Kunci

"Menurut saya PDI Perjuangan sudah tegas terhadap Jokowi, terhadap Gibran karena kami merasa juga tidak punya istilahnya itu tanggung jawab moral," ujar Romli.

Ia juga mengingatkan kembali keputusan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri terhadap Jokowi, Gibran, dan sejumlah kader lainnya.

"Seperti Ibu Megawati memecat Jokowi, Gibran, dan Bobi dan kader-kader yang lain yang katakanlah tidak patuh," pungkasnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat