Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Kim Jong Un Kunjungi China, Perkuat Hubungan dengan Beijing di Tengah Spekulasi Diplomasi AS

Kim Jong Un Kunjungi China, Perkuat Hubungan dengan Beijing di Tengah Spekulasi Diplomasi AS Kredit Foto: Reuters/KCNA
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengunjungi China pada Sabtu (24/10/2026), untuk pertama kalinya sejak menghadiri parade militer di Beijing pada 2025. Kunjungan ini menjadi sorotan di tengah upaya Beijing dan Pyongyang mempererat hubungan serta spekulasi mengenai kemungkinan dimulainya kembali diplomasi antara Kim dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Dalam kunjungan sehari tersebut, Kim bertemu dengan Wang Huning, pejabat senior Partai Komunis China, di Dandong, kota yang berbatasan langsung dengan Korea Utara. Kantor berita pemerintah China, Xinhua, mengonfirmasi kunjungan tersebut setelah sebelumnya muncul laporan mengenai pergerakan Kim dari pejabat dan media Korea Selatan.

Dilansir dari The New York Times, Sabtu (24/10/2026), Kim memasuki wilayah China melalui Jembatan Sungai Yalu Baru (New Yalu River Bridge), yang baru dibuka pada bulan ini. Jembatan tersebut menghubungkan Korea Utara dengan wilayah timur laut China dan menjadi salah satu simbol peningkatan konektivitas kedua negara.

Kunjungan Kim berlangsung bertepatan dengan peringatan 76 tahun keterlibatan pasukan China dalam Perang Korea. Pada 1950, pemerintahan Mao Zedong mengirimkan pasukan untuk membantu Korea Utara menghadapi pasukan koalisi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dipimpin Amerika Serikat.

Dalam rangkaian kunjungannya di Dandong, Kim memberikan penghormatan kepada tentara China yang gugur dalam perang tersebut dengan meletakkan karangan bunga di monumen peringatan.

Menurut laporan Xinhua yang dikutip The New York Times, Kim menyampaikan apresiasi atas dukungan Beijing terhadap Pyongyang selama puluhan tahun.

“Kami berterima kasih atas dukungan dan bantuan China yang telah berlangsung lama bagi perjuangan sosialis Republik Rakyat Demokratik Korea,” ujar Kim.

Ia juga menilai hubungan kedua negara masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan.

“Prospek kerja sama antara kedua pihak sangat luas,” katanya.

Pernyataan tersebut menegaskan keinginan Pyongyang untuk mempertahankan hubungan dekat dengan Beijing di tengah dinamika geopolitik kawasan yang terus berubah.

Wang Huning menyambut positif kunjungan tersebut dan menyebutnya memiliki arti penting bagi keberlanjutan persahabatan tradisional China dan Korea Utara. Ia juga menekankan perlunya memperkuat kepercayaan politik di antara kedua negara.

Meski demikian, Kim tidak bertemu langsung dengan Presiden China Xi Jinping dalam kunjungan kali ini. Berdasarkan laporan Xinhua, Wang menyampaikan salam dari Xi kepada Kim, yang kemudian membalasnya dengan menyampaikan harapan baik kepada pemimpin China tersebut.

Tidak adanya pertemuan langsung itu belum tentu mencerminkan masalah dalam hubungan bilateral. Xi dijadwalkan memimpin pertemuan Komite Sentral Partai Komunis China selama empat hari mulai Senin (26/10/2026), dengan melibatkan sekitar 300 pejabat senior.

Sebelumnya, Xi telah mengunjungi Pyongyang pada Juni 2026 dan disambut melalui rangkaian acara kenegaraan.

Muncul Spekulasi Pertemuan Kim Jong Un dan Donald Trump

Selain memperkuat hubungan dengan China, kunjungan Kim juga memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan pembukaan kembali jalur diplomasi Korea Utara dengan Amerika Serikat.

Anggota Komite Intelijen Majelis Nasional Korea Selatan, Youn Kun-young, mengatakan tujuan spesifik kunjungan Kim masih perlu dianalisis lebih lanjut. Namun, ia memperkirakan perjalanan tersebut memiliki dua kepentingan utama, yakni memberikan sinyal terkait peluang pertemuan Korea Utara-AS dan membahas perkembangan hubungan Pyongyang dengan Beijing.

Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah pembukaan Jembatan Sungai Yalu Baru, yang berpotensi memperkuat konektivitas antara kedua negara.

Spekulasi mengenai kemungkinan pertemuan Kim dan Trump menguat menjelang pertemuan para pemimpin Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) yang dijadwalkan berlangsung di Shenzhen, China, pada November 2026.

Trump sebelumnya menyatakan rencana untuk menghadiri forum tersebut dan berulang kali menunjukkan ketertarikannya untuk kembali melakukan diplomasi langsung dengan Kim.

Namun, hingga kini belum ada kepastian apakah Kim akan menghadiri pertemuan APEC. Belum diketahui pula apakah Beijing telah mengundang pemimpin Korea Utara tersebut untuk berpartisipasi dalam agenda itu.

Kim dan Trump sebelumnya pernah bertemu dalam rangkaian diplomasi pada 2018 dan 2019. Pada periode yang sama, Kim juga menjalin komunikasi intensif dengan Xi Jinping, memperlihatkan pentingnya peran China dalam hubungan Korea Utara dengan Washington.

Kedekatan Pyongyang dengan Rusia Jadi Perhatian Beijing

Kunjungan Kim ke China juga berlangsung ketika Korea Utara semakin mempererat kerja sama strategis dengan Rusia.

Pyongyang telah memberikan dukungan militer kepada Moskow dalam perang melawan Ukraina, termasuk melalui pasokan amunisi artileri, rudal, dan pengerahan pasukan. Kedua negara juga menandatangani perjanjian pertahanan bersama.

Sebagai bagian dari penguatan hubungan tersebut, Rusia dilaporkan memberikan dukungan kepada Korea Utara dalam bentuk pasokan pangan, minyak, serta teknologi militer.

Baca Juga: Tukar Kepentingan, Houthi Disebut Pakai Teknologi Iran dan China hingga Bisa Jangkau Israel

Baca Juga: Danantara Umumkan Investasi US$250 Juta di Raksasa Migas Amerika Serikat

Perkembangan ini turut menjadi perhatian Beijing, yang selama ini berupaya mempertahankan pengaruhnya terhadap Pyongyang. Pada September 2025, Xi mengundang Kim dan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menghadiri parade militer di Beijing dalam rangka memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II.

Di sisi ekonomi, China tetap menjadi mitra perdagangan utama Korea Utara, terutama setelah sanksi internasional selama puluhan tahun membatasi akses Pyongyang terhadap perekonomian global.

Hubungan kedua negara juga diperkuat melalui pemulihan konektivitas yang sempat terganggu akibat pandemi Covid-19. Salah satunya adalah layanan kereta api Beijing-Pyongyang yang kembali beroperasi pada Maret 2026.

Kunjungan Terbaru Kim Sekaligus Redakan Rumor Kesehatan

Kemunculan Kim di China juga meredakan spekulasi di media sosial yang sebelumnya menyebut dirinya telah meninggal dunia. Rumor tersebut telah dibantah oleh pejabat intelijen Korea Selatan.

Kunjungan ke Dandong menjadi penampilan publik terbaru Kim sekaligus menunjukkan bahwa aktivitas diplomatiknya masih berlangsung.

Lawatan ini merupakan kunjungan pertamanya ke China sejak menghadiri parade militer di Beijing pada 2025. Kim pertama kali mengunjungi China sebagai pemimpin Korea Utara pada 2018 dan sejak itu beberapa kali melakukan perjalanan ke Beijing untuk bertemu Xi Jinping.

Di tengah persaingan pengaruh antara kekuatan besar dunia dan dinamika hubungan Korea Utara dengan AS serta Rusia, kunjungan terbaru Kim menjadi momentum penting bagi Beijing dan Pyongyang untuk mempertahankan hubungan strategis mereka.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan