APBN Cuma 15% dari PDB, Suahasil Ungkap Peran Besar Sektor Swasta dan Masyarakat
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, menegaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak bisa hanya bertumpu pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Pasalnya, porsi APBN hanya sekitar 14–15% dari Produk Domestik Bruto (PDB), sedangkan sebagian besar aktivitas ekonomi berasal dari masyarakat dan dunia usaha.
Menurutnya, konsumsi rumah tangga, investasi perusahaan, serta kegiatan ekspor menjadi komponen penting yang turut menentukan besarnya aktivitas ekonomi nasional.
“APBN itu ya mungkin hanya sekitar 14-15 persen (dari PDB). Ukuran kesejahteraan adalah produk domestik bruto. Pertanyaannya kalau APBN-nya 15 persen, 85 persen lagi siapa yang menciptakan?” ujar Suahasil Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Ia menekankan, bahwa pemerintah perlu menyelaraskan kebijakan fiskal dengan aktivitas ekonomi di luar anggaran negara. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi tidak hanya bergantung pada besarnya belanja pemerintah, tetapi juga pada kemampuan sektor swasta dan masyarakat memperluas kegiatan produktif.
Karena itu, pemerintah perlu mengarahkan belanja negara pada program yang mampu memberikan efek pengganda atau multiplier effect besar bagi perekonomian. Anggaran diharapkan dapat memicu aktivitas ekonomi lanjutan, mulai dari peningkatan investasi hingga penciptaan lapangan kerja.
“Kita tahu yang diperlukan oleh negara kita adalah bagaimana mengorkestrasi keseluruhan perekonomian, mengorkestrasi seluruh pelaku ekonomi, sehingga kemudian bisa bersama-sama memaksimalkan produk domestik bruto,” katanya.
Suahasil juga mengingatkan bahwa kebijakan fiskal tidak cukup hanya berorientasi pada pertumbuhan. APBN harus mampu menjaga stabilitas ekonomi ketika terjadi tekanan sekaligus mempertahankan kredibilitas keuangan negara.
Dalam pelaksanaannya, pemerintah juga mengandalkan Danantara sebagai instrumen investasi negara untuk mendukung agenda pembangunan. Kedua instrumen tersebut diharapkan saling melengkapi dalam mendorong investasi dan menggerakkan perekonomian nasional.
Baca Juga: Suahasil Nazara Pastikan Penerbitan SBN 2026 Tetap Sesuai Target di Tengah Proyeksi Defisit APBN
Baca Juga: Fitch Ungkap Tiga Risiko Ekonomi RI: Investor, Rupiah, dan APBN
“Ketika ada ide-ide besar mengenai visi besar mengenai Indonesia, ada dua tangan yang bekerja. Tangan pertama adalah APBN, tangan kedua adalah Danantara sebagai investment arms of the Republic of Indonesia. Kita harus bekerja sama,” ujarnya.
Dengan demikian, tantangan pemerintah bukan semata-mata memperbesar anggaran, melainkan memastikan belanja negara mampu memicu aktivitas ekonomi yang lebih luas. Kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi salah satu faktor penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aryo Hadi Wibowo
Editor: Dwi Aditya Putra