Kredit Foto: United Tractors
PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatatkan penurunan pendapatan bersih sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Emiten Grup Astra tersebut membukukan pendapatan sebesar Rp90,33 triliun hingga September 2026, menyusut 10,08% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan laporan keuangan interim konsolidasian perseroan, pendapatan UNTR pada Januari–September 2025 tercatat sebesar Rp100,47 triliun. Dengan demikian, pendapatan perusahaan berkurang sekitar Rp10,14 triliun secara tahunan.
Penurunan pendapatan tersebut turut diikuti pelemahan laba bruto perusahaan. Hingga akhir September 2026, UNTR mencatatkan laba bruto sebesar Rp17,89 triliun, lebih rendah dibandingkan Rp22,04 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Secara nominal, laba bruto perseroan menyusut sekitar Rp4,15 triliun atau 18,83% secara tahunan.
Penurunan laba bruto yang lebih dalam dibandingkan pendapatan juga menyebabkan margin laba bruto perusahaan mengalami penyusutan. Berdasarkan perhitungan dari angka laporan keuangan tersebut, margin laba bruto UNTR turun dari sekitar 21,94% pada sembilan bulan pertama 2025 menjadi 19,80% pada periode yang sama tahun ini.
Kinerja pendapatan UNTR berasal dari sejumlah lini usaha, meliputi mesin konstruksi, kontraktor penambangan, pertambangan batu bara, pertambangan mineral, serta segmen usaha lainnya. Dari sisi segmen usaha, mesin konstruksi menjadi salah satu lini bisnis yang mencatatkan penurunan pendapatan cukup besar.
Sepanjang Januari–September 2026, segmen mesin konstruksi membukukan pendapatan sebesar Rp29,60 triliun, turun dari Rp40,70 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dengan demikian, pendapatan segmen tersebut menyusut Rp11,10 triliun atau sekitar 27,27% secara tahunan. Penurunan juga terjadi pada bisnis pertambangan mineral yang mencatatkan pendapatan sebesar Rp4,87 triliun hingga September 2026.
Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan pendapatan sebesar Rp10,32 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Secara tahunan, pendapatan segmen pertambangan mineral UNTR berkurang sekitar Rp5,45 triliun atau 52,81%.
Sementara itu, segmen pertambangan batu bara turut mengalami tekanan dengan pendapatan sebesar Rp19,64 triliun. Perolehan tersebut turun dibandingkan Rp22,59 triliun pada Januari–September 2025, atau mengalami penyusutan sekitar 13,06%. Segmen usaha lainnya juga mencatatkan penurunan pendapatan dari Rp2,13 triliun menjadi Rp1,61 triliun.
Dengan demikian, pendapatan dari segmen lainnya berkurang sekitar Rp520 miliar atau 24,41% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di tengah penurunan pendapatan sejumlah lini bisnis tersebut, segmen kontraktor penambangan justru menunjukkan pertumbuhan positif.
Pendapatan dari bisnis kontraktor penambangan tercatat sebesar Rp52,69 triliun hingga September 2026, meningkat dibandingkan Rp48,42 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan tersebut setara dengan sekitar Rp4,27 triliun atau 8,82% secara tahunan. Pertumbuhan segmen kontraktor penambangan menjadi salah satu perkembangan positif dalam kinerja operasional UNTR, meskipun belum cukup untuk mengimbangi pelemahan pendapatan pada sejumlah lini usaha lainnya.
Adapun dari sisi posisi keuangan, total aset United Tractors tercatat meningkat menjadi Rp182,81 triliun per 30 September 2026. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan total aset sebesar Rp177,64 triliun pada akhir September 2025.
Dengan demikian, aset perseroan bertambah sekitar Rp5,17 triliun atau 2,91% secara tahunan. Peningkatan aset tersebut juga diikuti kenaikan total liabilitas perusahaan.
Hingga akhir September 2026, UNTR membukukan total liabilitas sebesar Rp78,99 triliun, meningkat dari Rp74,50 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Liabilitas tersebut terdiri atas kewajiban jangka pendek sebesar Rp55,60 triliun dan kewajiban jangka panjang sebesar Rp23,38 triliun.
Sementara itu, total ekuitas perseroan tercatat sebesar Rp103,82 triliun, naik tipis dibandingkan Rp103,14 triliun pada akhir September 2025. Kenaikan ekuitas tersebut mencapai sekitar Rp680 miliar atau 0,66% secara tahunan.
Berdasarkan posisi keuangan tersebut, rasio total liabilitas terhadap ekuitas UNTR berada pada kisaran 0,76 kali pada akhir September 2026, meningkat dari sekitar 0,72 kali pada periode pembanding.
Baca Juga: Bos Danantara Temui Pengendali Astra di Hong Kong, Jajaki Ekspansi Investasi
Baca Juga: Picu Keyakinan Pasar, United Tractors (UNTR) Siapkan Rp2 Triliun untuk Buyback Saham
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan liabilitas perusahaan berlangsung lebih cepat dibandingkan pertumbuhan ekuitasnya.
Secara keseluruhan, kinerja sembilan bulan pertama 2026 memperlihatkan adanya tekanan pada pendapatan dan laba bruto United Tractors, terutama pada segmen mesin konstruksi, pertambangan mineral, dan pertambangan batu bara.
Meski demikian, pertumbuhan bisnis kontraktor penambangan serta peningkatan total aset menjadi perkembangan lain yang tercermin dalam laporan keuangan perseroan.
Pergerakan kinerja pada kuartal terakhir 2026 akan menjadi perhatian untuk melihat kemampuan perusahaan mempertahankan pertumbuhan bisnis kontraktor penambangan sekaligus menghadapi tekanan pada lini usaha lainnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: