Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Di Balik Ledakan Investasi AI, Peraih Nobel Ekonomi Ingatkan Ancaman Kerugian

Di Balik Ledakan Investasi AI, Peraih Nobel Ekonomi Ingatkan Ancaman Kerugian Kredit Foto: Zabra
Warta Ekonomi, Jakarta -

Investasi di sektor teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), menghadapi ketidakpastian terkait keberhasilan teknologi, potensi pasar, dan dampaknya terhadap produktivitas. Di tengah risiko tersebut, investasi dinilai perlu diarahkan untuk membangun kapabilitas nasional agar menghasilkan manfaat ekonomi jangka panjang.

Pemenang Nobel Ekonomi 2011 Thomas J. Sargent mengatakan, keputusan investasi teknologi bergantung pada keyakinan investor terhadap prospek teknologi, permintaan pasar, serta kepastian kebijakan pemerintah.

Menurutnya, investor harus mengalokasikan modal jauh sebelum hasil investasi dapat diketahui. Kondisi ini membuat investasi teknologi mengandung risiko, terutama ketika dampak ekonomi dari teknologi yang dikembangkan belum sepenuhnya terukur.

“Investasi pada dasarnya adalah sebuah pertaruhan (gambling) berbasis keyakinan. Modal harus dikumpulkan dan dialokasikan jauh sebelum hasil investasinya terlihat,” ujar Sargent dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026).

Sargent mencontohkan besarnya investasi kecerdasan buatan yang dilakukan perusahaan teknologi global, termasuk Microsoft, Amazon, dan Google. Menurutnya, fenomena tersebut memiliki kemiripan dengan ekspansi jaringan kereta api di Amerika Serikat pada abad ke-19.

Ekspansi perkeretaapian kala itu mendorong pertumbuhan ekonomi dalam skala besar, tetapi juga diiringi risiko kegagalan investasi. Situasi serupa dinilai dapat terjadi pada investasi AI saat ini, mengingat permintaan dan kontribusinya terhadap produktivitas pada masa depan masih belum pasti.

Di tengah ketidakpastian tersebut, investor menilai ketersediaan modal saja tidak cukup untuk mendorong pertumbuhan sektor teknologi. Kemampuan industri, akses pasar, dan kemitraan strategis juga diperlukan agar investasi dapat menghasilkan dampak ekonomi yang berkelanjutan.

George Monize dari Export Development Canada (EDC) mengatakan, investasi perlu didukung kapabilitas yang memadai untuk mengembangkan sektor strategis, mulai dari infrastruktur digital dan AI hingga transisi energi serta manufaktur maju.

“Modal sangat penting, tetapi kita perlu menggabungkannya dengan kapabilitas, akses ke pasar, dan kemitraan strategis untuk mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang,” kata Monize.

Ia menambahkan, pengembangan investasi di kawasan ASEAN membutuhkan komitmen jangka panjang agar proyek yang dijalankan dapat berkembang dan memberikan hasil secara berkelanjutan.

Sementara itu, Managing Director Danantara Development Management Fund Rachmat Kaimuddin menilai keputusan investasi perlu menyeimbangkan keyakinan terhadap potensi inovasi dengan disiplin pengelolaan modal.

Baca Juga: IHSG Anjlok Hampir 30%, MSIG Life Akui Dana Investasi Ikut Tertekan

Menurutnya, investor tidak cukup hanya mempertimbangkan indikator keuangan, seperti tingkat pengembalian investasi, serta aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola atau environmental, social, and governance (ESG). Investasi juga perlu memberikan kontribusi terhadap pengembangan kemampuan industri dan sumber daya manusia di dalam negeri.

“Kapabilitas menarik kapabilitas. Kita perlu berinvestasi dalam inovasi, kemampuan, dan teknologi. Selain mempertimbangkan indikator keuangan seperti tingkat pengembalian investasi, kami juga perlu memastikan investasi tersebut membangun kapabilitas nasional yang berkelanjutan, termasuk keahlian sumber daya manusia, rantai pasok, dan institusi,” ujar Rachmat.

Ia menjelaskan, investasi yang mampu membangun kapabilitas nasional berpotensi memperkuat fondasi industri sekaligus menarik investasi lanjutan. Untuk mencapai tujuan tersebut, proyek perlu dirancang secara matang dan didukung kemampuan pelaksana yang memadai.

Rachmat juga menekankan pentingnya kepercayaan investor terhadap kemampuan Indonesia menerjemahkan potensi sumber daya dan demografi menjadi proyek yang dapat direalisasikan.

Dalam konteks itu, Danantara Development Management Fund berperan sebagai penghubung antara investor asing dan institusi lokal untuk mendukung pengembangan proyek investasi.

Selain kapabilitas industri dan kesiapan proyek, kondisi pasar keuangan turut menentukan kemampuan suatu negara menarik modal. Co-Founder ADEN Financial Holding Jason Chen menyoroti pentingnya kepercayaan, likuiditas, dan perlindungan bagi investor untuk memperluas partisipasi investor institusional.

“Investor membutuhkan kepercayaan, likuiditas, dan perlindungan. Jika likuiditas dapat ditingkatkan dan instrumen keuangan lebih beragam, investor institusional akan memiliki lebih banyak pilihan untuk berinvestasi,” ujar Jason.

Ia menambahkan, pemanfaatan AI dan blockchain berpotensi meningkatkan efisiensi arus modal, layanan pembayaran, serta penyelesaian transaksi keuangan.

Adapun untuk investasi di Indonesia, Jason menyebut ketahanan energi, pangan, dan air sebagai sektor yang menjadi perhatian ADEN. Pihaknya juga menyoroti kebutuhan infrastruktur yang dapat mendorong pemanfaatan sumber daya alam menjadi produk bernilai tambah dan menciptakan lapangan kerja di dalam negeri.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Istihanah