Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Keracunan MBG Terus Terjadi, Kepala BGN: Jujur Sedih, Saya Tidak Ingin Main-main

Keracunan MBG Terus Terjadi, Kepala BGN: Jujur Sedih, Saya Tidak Ingin Main-main Kredit Foto: BGN
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah kejadian terbaru dilaporkan di Bogor, Jawa Barat. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengaku sedih sekaligus menyesalkan peristiwa tersebut. 

"Saya jujur saja juga sedih ya, dan juga menyesal dengan adanya itu," kata Sudaryono di Kantor Kemendagri, Jakarta, Rabu (28/10/2026).

Sudaryono menegaskan, persoalan keamanan pangan dalam program MBG bukan hal yang bisa dianggap sepele. Ia mengingatkan bahwa makanan yang dibagikan kepada penerima manfaat harus benar-benar bergizi dan menyehatkan, bukan malah menimbulkan penyakit.

"Saya tidak ingin main-main sama urusan nyawa dan kesehatan siapapun. MBG ini namanya makan bergizi gratis, bergizi. Jadi menyehatkan, tidak bikin orang sakit ya," sebut dia.

Baca Juga: Dedi Mulyadi: Walkot Bekasi Harus Buat Lowongan Kerja Online Tiap Pekan

Menurut Sudaryono, sejak memimpin BGN selama tiga bulan terakhir, salah satu fokus utama yang dikejar adalah menghentikan kejadian keracunan makanan dalam pelaksanaan MBG. 

"Kami sejauh 3 bulan ini memimpin BGN, fokus kami yang paling utama adalah sebenarnya memang zero tolerance terhadap keracunan makanan," ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa angka statistik tidak boleh mengaburkan hal yang paling mendasar, yakni keselamatan penerima manfaat. Baginya, setiap kejadian menyangkut kesehatan dan nyawa manusia harus menjadi perhatian serius, terlepas dari berapa banyak kasus yang tercatat.

"Intinya ya statistik itu statistik, tapi yang paling utama adalah kesehatan nyawa dan kesehatan siapapun itu penting, sangat amat penting," ucap Sudaryono.

Untuk mencegah kejadian serupa, BGN menyatakan akan terus memastikan penerapan standar keamanan pangan dalam seluruh tahapan pelaksanaan program MBG. Pengawasan tidak hanya menyasar makanan yang disajikan, tetapi juga rantai pasok yang berperan dalam memastikan bahan pangan tetap aman hingga dikonsumsi.

"Karena nyawa dan kesehatan seseorang yang seseorang itu adalah anggota keluarga dari sebuah keluarga, anak dari pasangan orangtua, saudara dari sesama manusia dan lain sebagainya, sehingga kami memastikan apapun yang kami lakukan sampai dengan hari ini adalah memastikan standar keamanan pangannya, termasuk rantai pasoknya juga tadi sudah kami sampaikan," ungkap dia.

Sudaryono turut memaparkan langkah penertiban terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG yang dinilai tidak memenuhi kelayakan. Ia menyebut BGN telah menutup sejumlah dapur dan akan terus melakukan penyisiran untuk memastikan fasilitas yang beroperasi memenuhi standar.

"27.000, hampir 28.000 gitu, kemudian sekarang ini sekarang ini yang aktif adalah sekitar 26.385 ya dan ini kita masih sisir lagi karena ada beberapa temuan ya," imbuhnya. 

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri