Kredit Foto: Amir Syarifuddin
Aksi demonstrasi di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Rabu (28/10/2026) menjadi sasaran sindiran loyalis Jokowi, Dede Budhyarto. Ia menyoroti jumlah peserta aksi yang dinilainya tidak sesuai dengan gaung dan target massa yang sebelumnya disuarakan penyelenggara.
Melalui akun X, Dede menyebut jumlah demonstran tidak bertambah dan sebagian peserta justru membubarkan diri ketika hujan gerimis. Ia juga menyindir pihak-pihak yang menurutnya berusaha meniru aksi demonstrasi di Serbia.
"Demo di Bundaran HI cuma segitu doang. Yang datang kagak nambah nambah, banyak kabur ketika gerimis mengundang...bubar,,, bubar," tulisnya di akun X, dikutip Kamis (29/10/2026).
"Padahal jauh hari sebelum demo koar-koar dengan segala macam flyer, target ratusan ribu, yang kelihatan ya segitu itu. Mau "nyontek" Serbia katanya...preeettt," ujarnya.
Baca Juga: Sidang Ijazah Panas! Saksi Bentak Kubu Roy Suryo: Saya Bukan Orang Bodoh
Dede turut menyinggung warga Jakarta dan sekitarnya yang, menurut pandangannya, sudah jenuh menghadapi kemacetan akibat demonstrasi. Ia menilai kondisi tersebut membuat masyarakat enggan ikut bergabung dalam aksi.
"Masyarakat Jakarta & sekitarnya sudah bosen menghadapi kemacetan tiap ada atau tidak ada demo. Mana mau masyarakat gabung," ungkap dia.
Tak hanya mengomentari jumlah peserta, Dede juga melontarkan kritik terhadap sejumlah figur yang hadir serta aktivitas pendukung aksi di media sosial. Ia menilai sebagian pihak lebih mengejar popularitas dan interaksi digital ketimbang memperhatikan hasil tuntutan demonstrasi.
"Yang muncul cuma segelintir pesohor "Sepi Job" yang nyari popularitas, plus Cenblu di X yang seneng dapet konten bisa ngejar OCR & impresi, ngarep cuan yang tak kunjung datang. Soal hasil tuntutan demo, mereka tidak peduli," lanjut Dede.
Ia kemudian merangkum kritiknya dengan membandingkan gaung demonstrasi di media sosial dan situasi yang terlihat di lokasi aksi.
"Demo ramai di sosmed, tapi di lapangan sepi," tutupnya.
Baca Juga: Ahmad Khozinudin: Kasus Ijazah Gibran akan Jadi Aib Sejarah Jika Tak Ditindaklanjuti DPR
Diketahui, aksi di Bundaran HI tersebut digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia bersama koalisi masyarakat sipil yang tergabung dalam Komite Selamatkan Daulat Rakyat (SADAR). Unjuk rasa itu sengaja bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda dan membawa lima tuntutan utama kepada pemerintah.
Tuntutan pertama adalah menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional, mengadili korporasi yang bertanggung jawab, serta menuntaskan integrasi tata kelola lahan.
Kedua, massa mendesak agar APBN digunakan untuk kepentingan rakyat dan pemborosan anggaran melalui program yang dinilai berorientasi politik dihentikan. Program yang disorot dalam tuntutan tersebut antara lain Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Ketiga, mereka meminta biaya pendidikan diturunkan, pemerataan akses layanan dasar diperluas, serta lapangan kerja berkualitas disediakan.
Tuntutan keempat berkaitan dengan penolakan terhadap penyalahgunaan hukum sebagai alat kekuasaan sekaligus desakan untuk memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
Terakhir, massa menuntut pemulihan kebebasan berpendapat, pengadilan terhadap pelanggar hak asasi manusia (HAM), serta penghentian militerisasi di ruang sipil.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: