Umrah Tak Boleh Transit Malaysia-Singapura, PDIP: Ibadah Mau Disandera Gara-gara Baper Karhutla?
Kredit Foto: Antara/Fauzan
Kebijakan pemerintah yang mendorong jemaah umrah Indonesia memilih penerbangan langsung ke Arab Saudi ketimbang transit di Malaysia atau Singapura menuai kritik. Diketahui, hubungan Indonesia dengan Malaysia dan Singapura belakangan sensitif imbas kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) RI.
Namun, Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Mohamad Guntur Romli mempertanyakan apakah urusan ibadah kini ikut terseret dalam ketegangan diplomatik.
"Pergi umrah jangan transit di Malaysia dan Singapura? Ini ibadah mau "disandera" diplomasi baper gara-gara karhutla?" tulisnya di akun X, dikutip Kamis (29/10/2026).
Baca Juga: Loyalis Jokowi: Demo di Bundaran HI Cuma Segitu Doang
Guntur pun menilai kebijakan tersebut berpotensi membebani jemaah, terutama mereka yang memilih penerbangan transit karena harga tiket lebih murah.
"Rute transit kan juga karena tiket lebih murah. Apa pemerintah mau menanggung selisihnya?" ujar Guntur Romli.
"Kalau mau nasionalis, pemerintah segera tangkap pembakar hutan. Tutup perusahaannya. Jangan korbankan jemaah umrah," lanjut dia.
Ia juga mengingatkan bahwa ibadah seharusnya tidak dijadikan instrumen diplomasi maupun kepentingan politik. Menurutnya, kebijakan yang mengatasnamakan nasionalisme tetap perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat.
Baca Juga: Dino Patti Djalal Kaget Eks Mendag Terus Serang Singapura: Apa yang Terjadi Padanya?
"Ibadah bukan alat diplomasi. Jemaah bukan tameng politik. Nasionalisme sejati melindungi rakyatnya, bukan menyuruh mereka membayar ongkos emosi penguasa," imbuhnya.
Diberitakan sebelumnya, Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak meminta jemaah serta penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU) mengutamakan penerbangan langsung menuju Jeddah atau Madinah. Kebijakan itu, menurut Dahnil, ditujukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan maskapai nasional sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi haji dan umrah.
"Kami minta kepada asosiasi jangan dulu memilih penerbangan transit seperti ke Malaysia atau Singapura,” kata Wamenhaj.
Dahnil melihat besarnya jumlah jemaah umrah Indonesia yang menggunakan penerbangan transit sebagai peluang bagi industri penerbangan nasional. Ia memperkirakan sekitar 70 ribu jemaah menggunakan rute transit melalui Malaysia dan Singapura.
Jika sebagian perjalanan tersebut dialihkan ke maskapai Indonesia, Dahnil menilai manfaat ekonominya dapat dirasakan di dalam negeri. Karena itu, ia mendorong pemanfaatan layanan dua maskapai dalam negeri, yakni Lion dan Garuda.
“Jemaah yang transit di Malaysia dan Singapura cukup besar, 70 ribuan. Jika itu diarahkan ke penerbangan nasional juga membantu ekonomi nasional kita. Kita harus dorong dua maskapai nasional kita, yaitu Lion dan Garuda,” sebutnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: