Program MBG Bakal Jadi Mata Pelajaran Wajib? Bos BGN Akhirnya Bongkar Alasan Sebenarnya
Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menjelaskan usulan memasukkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pendidikan gizi ke dalam kurikulum sekolah. Menurutnya, program tersebut bukan sekadar memberikan makanan kepada siswa, tetapi juga membekali mereka dengan pemahaman tentang pentingnya gizi.
Sudaryono menyampaikan penjelasan itu dalam acara Transformasi MBG 2.0 di Usmar Ismail Hall, Jalan Rasuna Said, Setia Budi, Jakarta Selatan, Kamis (29/10/2026). Ia menegaskan, pendidikan gizi dapat diberikan dalam waktu khusus agar tidak mengganggu jam pelajaran.
"Mungkin sekarang lagi ramai, Kepala BGN minta MBG dan pendidikan gizi masuk kurikulum misalnya, itu maksudnya adalah menjadi satu kesatuan dari unsur pendidikan kita. Dikasih waktu khusus di dalam, jadi tidak mengganggu jam pelajaran," kata Sudaryono.
Ia mencontohkan, siswa bisa mendapatkan penjelasan mengenai kandungan makanan saat menyantap menu MBG. Untuk siswa kelas I dan II SD yang pulang pagi, waktu makan dapat diberikan sebelum mereka meninggalkan sekolah, sedangkan siswa yang pulang siang bisa makan pada pukul 12.00 hingga 13.00.
"Tidak salah, keputusannya adalah untuk anak SD kelas I, kelas II yang pulang pagi, itu sebelum pulang sekolah jam 10.00 dia makan. Untuk yang pulang siang, itu diberikan waktu jam 12.00 sampai dengan jam 13.00, 1 jam itu makan MBG sambil diberi pencerahan terkait kenapa kok harus makan karbo, kenapa kok harus makan protein hewani, apa fungsi protein hewani, kenapa harus makan protein hewani, kenapa harus makan sayur," tuturnya.
Sudaryono menilai pemahaman mengenai kandungan dan fungsi makanan masih perlu ditingkatkan. Ia mencontohkan, perbedaan manfaat sayuran seperti kangkung dan bayam belum tentu dipahami oleh semua orang.
"Tidak banyak di antara anak-anak dan kita semua yang hadir di sini itu kemudian memahami itu dulu. Sekarang karena jadi orang kota, paham. Tapi di daerah-daerah ini orang nggak tahu kenapa makan kangkung, bedanya sama makan bayam tuh apa, ndak ada yang tahu," ujar Sudaryono.
"Tahu-tahunya pokoknya kangkung ditumis pakai ikan asin enak, gitu. Bayam itu misalnya di sayur. Jadi pendidikan ini penting supaya orang aware," tambahnya.
Ia menegaskan, tujuan pemerintah tidak berhenti pada pemberian makanan bergizi melalui MBG. Pendidikan gizi diharapkan membuat keluarga memahami kebutuhan nutrisi anak dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
"Dan keinginan dari pemerintah bukan hanya intervensi gizi dari MBG, tapi dengan pengetahuan terkait gizi. Maka kemudian di rumah-rumah mereka, masing-masing itu, kemudian gizinya ditambah dengan belanja bahan-bahan makanan itu yang kandungan gizinya juga menopang pertumbuhan dari anak-anak kita gitu. Jadi tidak hanya mengandalkan dari MBG. Itu tujuan dari visinya dari Bapak Presiden kita," ujarnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy
Tag Terkait: