Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Ditutup Menguat ke Rp18.137 per USD

Rupiah Ditutup Menguat ke Rp18.137 per USD Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Kamis (29/10/2026). Mata uang Garuda perkasa di level Rp18.137 atau menguat 47 poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp18.184 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan rupiah hari ini justru dipicu oleh beberapa sentimen dalam negeri. Di mana aksi protes mahasiswa yang semakin marak dinilai dapat meningkatkan ketidakpastian politik dan mendorong investor bersikap lebih hati-hati.

Di sisi lain, aksi tersebut menjadi momentum bagi mahasiswa dan masyarakat sipil untuk menyuarakan keresahan terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran yang telah berjalan selama dua tahun. Kritik dan tuntutan yang disampaikan selama ini dinilai belum mendapat tanggapan yang memadai dari pemerintah.

Tekanan terhadap perekonomian juga datang dari kenaikan harga minyak dunia yang berada di atas US$100 per barel. Kondisi ini berpotensi meningkatkan beban subsidi BBM dan energi, sehingga menambah tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Jika ketidakpastian politik dan tingginya harga minyak berlanjut, tekanan terhadap rupiah, inflasi, dan stabilitas ekonomi Indonesia berpotensi semakin besar," kata Ibrahim kepada wartawan.

Baca Juga: Hasim Wanti-wanti Rupiah Bisa Tembus Rp22.000, Apa Dampaknya?

Baca Juga: Airlangga Masih Optimistis Meski Rupiah Babak Belur, Kok Bisa?

Selain itu, pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati menjelang pengumuman data inflasi Oktober yang dijadwalkan pada pekan depan. Sebelumnya, inflasi pada September tercatat meningkat menjadi 3,28%, mencerminkan kenaikan harga barang dan jasa secara umum.

"Apabila inflasi Oktober kembali meningkat, daya beli masyarakat berpotensi tertekan akibat kenaikan harga kebutuhan sehari-hari," jelas dia.

Di sisi lain, Bank Indonesia dapat mempertahankan suku bunga pada level tinggi untuk menjaga stabilitas harga. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah dan keputusan investasi, seiring pelaku pasar yang cenderung menunggu kejelasan arah perekonomian sebelum mengambil keputusan.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra

Tag Terkait: