BI Balas Peringatan Keras Adik Prabowo: Tak Perlu Panik, Fundamental Ekonomi Indonesia Relatif 'Oke'
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Peringatan Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan Adik Kandung Prabowo, Hashim Djojohadikusumo mengenai ancaman ambruknya nilai tukar rupiah langsung diredam oleh otoritas moneter.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti turun tangan memberikan balasan menenangkan untuk menepis kepanikan di kalangan pelaku pasar modal dan dunia usaha. Ia meminta publik tidak terpaku pada skenario terburuk dari capital flight, melainkan melihat ketahanan ekonomi domestik yang terbukti masih tangguh.
Baca Juga: Utusan Khusus Prabowo: Mulai 9 November 2026, Semua Transaksi Digital Wajib Dipungut Pajak
"Kalau kita lihat dari fundamental ekonomi kita, sebenarnya kita dalam kondisi yang relatif oke dibandingkan dengan peer group (negara-negara berkembang sekelas) kita," tegas Destry dikutip Jumat (30/10/2026).
Bos bank sentral ini memaklumi kekhawatiran yang beredar, namun ia mengingatkan bahwa pergerakan nilai tukar adalah hal yang lumrah dalam mekanisme pasar. Fluktuasi rupiah saat ini tidak melulu diakibatkan oleh borok internal, melainkan sangat bergantung pada dinamika supply and demand serta sentimen global.
Destry mencontohkan bagaimana langkah The Fed (Bank Sentral AS) yang menahan suku bunga acuan baru-baru ini langsung memberikan napas segar bagi penguatan mata uang rupiah.
"Kalau kita lihat hari ini juga penguatan terjadi di global. Amerika tidak menaikkan suku bunga, dampaknya ternyata langsung positif. Jadi, banyak faktor yang di luar kontrol dari kita," urainya.
Destry memberikan garansi bahwa bank sentral akan berjuang di garis depan untuk mempertahankan mandat utamanya: stabilitas nilai tukar.
Kestabilan ini mutlak dipertahankan oleh negara agar sektor riil tidak mati lemas, roda ekonomi tetap berputar, dan lapangan pekerjaan tetap terbuka bagi rakyat banyak, terlepas dari segala riuh kepanikan di media massa.
Sebelumnya Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Hashim Djojohadikusumo secara terbuka menyuarakan kekhawatiran mendalamnya terkait ancaman badai ekonomi yang siap menghantam stabilitas nilai tukar rupiah.
"Kalau investasi luar negeri keluar dari bursa saham kita, rupiah bisa semakin lemah. Saya sudah hitung bisa Rp 20.000 sampai Rp 21.000. Ada yang bilang Rp 22.000," ungkap Hashim.
Potensi pelemahan nilai tukar yang ekstrem ini diyakini tidak hanya akan menghancurkan daya beli masyarakat, tetapi juga melipatgandakan beban utang negara. Hashim mengaku telah melakukan pembicaraan serius tingkat tinggi mengenai skenario terburuk ini dengan Bos Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan Roeslani.
Baca Juga: Hashim Djojohadikusumo: Kinerja Pajak dan Bea Cukai Tak Optimal, Kita Hilang Rp1.500 Triliun
"Saya pernah diskusi sama Pak Rosan. Kalau itu terjadi rupiah bisa Rp 21.000-Rp 22.000, pinjaman luar negeri kita harus kita bayar lebih mahal, ini bisa jadi bencana dan malapetaka bagi ekonomi Indonesia," tegas Hashim.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: