Ketegangan Belum Usai, Indonesia Cium Praktik 'Gelap' Singapura Terkait 148 Kargo Gas RI
Kredit Foto: Antara/Galih Pradipta
Kebijakan pengetatan ekspor energi gas bumi ke negara tetangga mulai menguak sejumlah fakta mengejutkan. Pemerintah Indonesia secara terang-terangan menyoroti aliran pasokan Liquefied Natural Gas (LNG) ke Singapura.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia membongkar kecurigaannya bahwa gas alam cair yang selama ini diekspor secara masif tidak murni digunakan untuk menghidupi hajat domestik negara pulau tersebut.
Baca Juga: Dibuat Pusing Denny Indrayana Cs, Gibran: Saya Tidak Marah ke Siapa Pun, Hanya Tolong...
Bahlil membeberkan bahwa pemerintah telah menyuplai hingga 148 kargo gas cair ke Singapura. Namun, pemerintah mencium adanya anomali data konsumsi yang mengindikasikan bahwa negara tersebut bertindak sebagai perantara (middleman) untuk meraup cuan dari komoditas energi asal Indonesia.
"Keyakinan saya bahwa pengiriman 148 kargo itu tidak semuanya itu dipakai untuk kepentingan mereka, tapi sebagian dijadikan sebagai trading untuk kemudian diekspor lagi ke negara lain. Tapi ada sebagian pasti untuk konsumsi mereka," kata Bahlil dikutip Sabtu (31/10/2026).
Indikasi praktik dagang ulang ini menjadi salah satu landasan kuat mengapa pemerintah kini bersikap jauh lebih proteksionis terkait cadangan energi nasional.
Presiden Prabowo Subianto bertekad untuk menyetop ekploitasi pihak luar yang memanfaatkan kelonggaran keran ekspor dari tanah air semata-mata demi margin keuntungan perdagangan internasional.
Bahlil menegaskan bahwa prioritas mutlak saat ini adalah pemenuhan kebutuhan transisi energi dan hilirisasi industri di dalam negeri. Selama kebutuhan domestik belum teramankan hingga ke level maksimal, keran pasokan untuk kepentingan trading asing tidak akan lagi dibiarkan mengalir deras.
Hubungan Indonesia dan Singapura sendiri diketahui tengah memanas. Rentetan peristiwa antara pemangkasan ekspor gas dan kritik tajam soal kabut asap diyakini menjadi penyebab ketegangan kedua negara terjadi di Asia Tenggara.
Hal ini sendiri diawali oleh Menko Hilirisasi dan Investasi, Bahlil Lahadalia. Ia sebelumnya menyatakan akan mengevaluasi ekspor gas secara selektif. Kebijakan ini ditujukan kepada negara-negara yang dinilai tidak memberikan rasa hormat terhadap kedaulatan dari Indonesia.
“Saya akan melakukan evaluasi. Saya tidak segan-segan untuk mempertimbangkan untuk tidak melakukan ekspor kepada negara mereka yang tidak menghargai Indonesia,” kata Bahlil.
Namun Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan menegaskan bahwa pihaknya tak ingin bermuuhan dengan Indonesia. Ia kembali komitmen negaranya untuk menjaga hubungan bilateral dengan Jakarta.
Baca Juga: Gibran Ladeni Tantangan Denny Indrayana, Siap Turun Gunung ke PTUN
"Menurut saya, hal yang ingin saya tekankan adalah bahwa sebagai negara-negara tetangga terdekat kami, akan selalu saling bergantung satu sama lain," tutur Vivian.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: