Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pertamina Patra Niaga Dapat Pertalite dari China dan India

Pertamina Patra Niaga Dapat Pertalite dari China dan India Kredit Foto: PGN
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Pertamina Patra Niaga (PPN) mendapatkan pasokan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dari China dan India. Langkah tersebut dilakukan perusahaan untuk mendiversifikasi sumber pengadaan sekaligus menjaga keandalan pasokan BBM domestik di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.

Senior Expert Trading PT Pertamina Patra Niaga Angga Mahendra mengatakan, perusahaan sebelumnya memperoleh pasokan Pertalite dari kawasan Selat (Strait), yakni Singapura dan Malaysia. Namun, perusahaan memperluas sumber pasokan dari negara-negara di luar kawasan tersebut.

"Yang menarik, yang baru saja kami lakukan adalah kami telah melakukan pengadaan Pertalite ini dari wilayah Strait, Singapura dan Malaysia. Dalam rangka untuk meningkatkan keandalan pasokan Pertalite di dalam negeri, agar tidak rely on dengan satu sumber, maka kami juga telah melaksanakan pengadaan dari wilayah non-Strait," ujar Angga dalam gelaran Aspebindo Energy Leadership di Jakarta, Jumat (30/10/2026).

Dia menyebut China dan India menjadi negara asal pasokan Pertalite yang telah diperoleh perusahaan melalui strategi diversifikasi tersebut. Dengan demikian, perusahaan memiliki alternatif sumber pasokan apabila terjadi gangguan distribusi dari salah satu negara pemasok.

"Kita melakukan diversifikasi sumber pasokan, sehingga apabila terjadi gangguan di satu titik, satu origin, maka kita masih bisa mengantisipasi dari origin lainnya. Yang mana kita telah mendapatkan pasokan dari China dan India," jelasnya.

Angga menjelaskan, diversifikasi pasokan tersebut menjadi salah satu strategi perusahaan dalam menghadapi peningkatan risiko geopolitik sejak awal 2026. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah dinamika di Selat Hormuz yang mengalami kondisi buka-tutup dan berpotensi mengganggu rantai pasok energi global.

Selain memengaruhi kelancaran distribusi energi, kondisi geopolitik juga mendorong kenaikan biaya pengangkutan kapal atau freight cost. Situasi tersebut turut meningkatkan tantangan perusahaan dalam mengamankan pengadaan minyak mentah maupun produk BBM impor.

Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Pertamina Patra Niaga juga memperkuat pengadaan melalui skema kerja sama antarpemerintah atau government to government (G2G). Skema ini melengkapi mekanisme pengadaan melalui pelelangan yang selama ini dijalankan perusahaan.

Baca Juga: Wapres Gibran Apresiasi Peran Ibu-Ibu Pengelola Bank Sampah Binaan Pertamina di Cilacap

Baca Juga: Pertamina Drilling Incar Pasar Migas 5 Negara ASEAN

Di samping itu, perusahaan mengombinasikan pengadaan jangka panjang melalui skema term dengan pengadaan jangka pendek melalui mekanisme spot. Strategi tersebut diterapkan untuk mengamankan kebutuhan BBM dan LPG domestik sekaligus memberikan fleksibilitas dalam memenuhi kebutuhan pasokan.

Angga menambahkan, perusahaan juga memperbaiki ketentuan kontraktual dengan para pemasok untuk mengantisipasi keterlambatan pengiriman kargo dan ketidaksesuaian spesifikasi produk atau off-spec. Perusahaan menyiapkan ketentuan penalti bagi pemasok yang tidak memenuhi kesepakatan pengadaan.

"Scheduling supply menjadi penting bagi kami untuk menjaga keandalan energi," pungkasnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra