Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Gara-Gara MBG, Siswa Makin Rajin ke Sekolah? Ini Kata Menteri Mu’ti

Gara-Gara MBG, Siswa Makin Rajin ke Sekolah? Ini Kata Menteri Mu’ti Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengungkapkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan gizi peserta didik, tetapi juga mendorong peningkatan kehadiran siswa di sekolah.

Menurut Abdul Mu’ti, sejumlah penelitian menunjukkan adanya keterkaitan antara pelaksanaan program MBG dan tingkat kehadiran peserta didik. Ketersediaan makanan bergizi di sekolah dinilai menjadi salah satu daya tarik yang mendorong anak-anak untuk datang dan mengikuti kegiatan belajar.

“Ada banyak penelitian Pak (Sudaryono, Red), kaitan antara MBG dengan tingkat kehadiran anak di sekolah. Jadi banyak anak yang berangkat ke sekolah itu karena akan makan sehat bergizi,” kata Abdul Mu’ti dalam acara penandatanganan perjanjian kerja sama antara Badan Gizi Nasional (BGN) dan Kemendikdasmen serta peluncuran awal uji coba lokal MBG, Jumat (30/10/2026).

Ia mengibaratkan fenomena tersebut dengan kegiatan Jumat Berkah di masjid yang mendorong masyarakat datang untuk mendapatkan makanan. Namun, program MBG memiliki frekuensi lebih rutin karena dilaksanakan pada hari sekolah.

“Itu saya kira mirip dengan banyak hadir ke masjid karena ada Jumat Berkah, kira-kira begitu. Tapi ini tiap hari, tidak setiap hari Jumat,” ungkapnya.

Abdul Mu’ti menilai manfaat MBG di lingkungan pendidikan dapat melampaui pemenuhan kebutuhan gizi. Program tersebut diharapkan turut mendukung semangat belajar siswa dan berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan.

Selain meningkatkan kehadiran, MBG juga dinilai dapat menjadi sarana pembentukan karakter peserta didik melalui pembiasaan perilaku positif dalam kegiatan sehari-hari.

Menurut Abdul Mu’ti, pelaksanaan program makan di sekolah dapat dimanfaatkan untuk mengajarkan kedisiplinan, kebersihan, dan kebiasaan menghargai makanan. Beberapa contohnya adalah mengantre dengan tertib, berdoa sebelum dan sesudah makan, serta menjaga kebersihan lingkungan.

“Kami mengambil banyak sekali panduan tentang bagaimana makan bergizi gratis ini menjadi media untuk menanamkan karakter dan nilai-nilai serta kebiasaan dalam diri anak-anak, contohnya bagaimana mereka antre, bagaimana mereka membiasakan hidup bersih,” ujarnya.

Dari sisi administrasi, Abdul Mu’ti mengatakan pendataan penerima manfaat MBG di lingkungan pendidikan telah terintegrasi dengan Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

Integrasi tersebut terus disempurnakan untuk memastikan penerima program merupakan peserta didik yang secara resmi tercatat dalam sistem pendidikan nasional.

“Kemudian kerja sama pendataan yang selama ini sudah terintegrasi dengan Dapodik, dipastikan bahwa semua yang menerima adalah murid-murid yang memang resmi terdata dalam sistem kami dan memang terus kita sempurnakan,” katanya.

Sementara itu, Kepala BGN Sudaryono mengapresiasi dukungan Kemendikdasmen dalam pelaksanaan program MBG di satuan pendidikan.

Dukungan tersebut diwujudkan melalui penyediaan fasilitas pendukung di sekolah, termasuk pembangunan wastafel, pengalokasian waktu khusus untuk pelaksanaan makan bergizi, serta penguatan edukasi gizi melalui kurikulum pendidikan.

“Terima kasih atas dukungan dari Kementerian Dikdasmen, dukungan dari Pak Menteri,” ujar Sudaryono dalam kegiatan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Kemendikdasmen dan BGN, Jumat (30/10/2026).

Melalui kolaborasi tersebut, pemerintah berharap pelaksanaan MBG dapat memberikan manfaat lebih luas bagi peserta didik, mulai dari pemenuhan kebutuhan gizi, pembentukan karakter, hingga mendukung kegiatan belajar di sekolah.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri