Aquaproof Ajak 20 Influencer Cirebon Membatik untuk Dukung Pelestarian Warisan Budaya
Kredit Foto: Ist
Aquaproof mengajak 20 influencer dan kreator konten dari Cirebon dan sekitarnya mengikuti kegiatan membatik di Sanggar Batik Katura, kawasan Trusmi, Cirebon, pada 20 Oktober 2026. Kegiatan tersebut digelar sebagai bagian dari kampanye “Aquaproof Melindungi Karya, Merawat Warisan” untuk memperkenalkan proses pembuatan batik sekaligus mendorong pelestarian budaya lokal.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta mengikuti sejumlah tahapan membatik, mulai dari menggambar pola, mencanting menggunakan malam, hingga proses pewarnaan. Mereka mendapat pendampingan dari Susi Kusniati, pewaris Sanggar Batik Katura, bersama tim perajin.
Susi menjelaskan, tradisi membatik di Trusmi telah diwariskan secara turun-temurun. Ia menyebut keluarganya memiliki sejarah panjang dalam mengembangkan kerajinan batik di wilayah tersebut.
“Perkembangan batik Trusmi itu sudah dari turun-temurun, dari nenek moyang. Bapak Katura juga merupakan turunan ke-8 atau generasi ke-8. Dulu waktu kecil saya juga belajar membatik,” ujar Susi.
Ia menjelaskan, batik Cirebon memiliki dua kelompok motif utama, yakni motif pesisiran dan motif keratonan. Motif pesisiran terinspirasi dari lingkungan pantai utara Cirebon dengan ragam flora dan fauna serta penggunaan warna yang beragam.
Sementara itu, motif keratonan mengambil inspirasi dari lingkungan dan tradisi keraton di Cirebon, seperti Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan, dan Keraton Kaprabonan.
Susi juga menyampaikan bahwa almarhum Katura pernah memperoleh rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) pada 2005 melalui pembuatan batik wayang berukuran 9 x 2 meter.
Ia mengajak masyarakat untuk ikut menjaga keberlangsungan batik dengan mulai mengenakan produk batik dalam kehidupan sehari-hari.
“Cintailah batik dengan cara mulai untuk memakainya,” kata Susi.
Peserta workshop berasal dari sejumlah daerah di sekitar Cirebon, antara lain Indramayu, Majalengka, dan Kuningan. Setelah mengikuti kegiatan, mereka membagikan pengalaman membatik melalui media sosial untuk memperkenalkan proses pembuatan batik kepada audiens yang lebih luas.
Salah satu peserta, pemilik akun Instagram @mvhiee_23, mengatakan kegiatan tersebut memberinya kesempatan untuk memahami secara langsung proses pembuatan batik tulis.
Menurutnya, setiap lembar kain batik membutuhkan proses panjang serta ketelitian dan kesabaran dari para perajin.
Ia juga menyoroti keberadaan karya batik tulis Sanggar Batik Katura yang ditampilkan dalam kegiatan tersebut. Melalui pengalaman itu, ia mengaku semakin memahami nilai di balik setiap motif dan proses pembuatannya.
Dalam unggahannya, peserta tersebut turut menyebut penggunaan cat Aquaproof warna Sage Green 094 pada dinding sanggar. Ia juga menyampaikan bahwa Aquaproof dikenal sebagai produk cat pelapis antibocor.
Marketing Manager PT Adhi Cakra Utama Mulia, Chandra Kurniawan, mengatakan kegiatan membatik bersama influencer merupakan bagian dari upaya perusahaan mengajak masyarakat mengenal dan menjaga warisan budaya Indonesia.
“Setiap goresan canting menyimpan cerita, kerja keras, dan identitas. Lewat ‘Aquaproof Melindungi Karya, Merawat Warisan’, Aquaproof ingin hadir bukan hanya sebagai pelindung, tetapi juga bagian dari upaya menjaga budaya Indonesia tetap lestari,” ujar Chandra.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menumbuhkan apresiasi terhadap batik sekaligus mendukung keberadaan perajin lokal.
Cirebon merupakan salah satu daerah penghasil batik dengan ciri khas motif, antara lain Mega Mendung dan Batik Merawit. Pelestarian motif batik daerah juga mendapat pengakuan melalui penerimaan sertifikat Kekayaan Intelektual Komunal oleh Pemerintah Kabupaten Cirebon pada Maret 2025 untuk sejumlah motif batik lokal.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: