Korban Tewas Tembus 1.300 Orang, Kenapa Rumah di Eropa Justru Banyak Tanpa AC?
Kredit Foto: Pexels/Brett Sayles
Gelombang panas ekstrem kembali melanda Eropa dan memicu ribuan kematian. Kondisi itu juga menyoroti rendahnya penggunaan pendingin ruangan (AC) di banyak negara di kawasan tersebut.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 1.300 kematian berlebih terjadi sejak 21 Juni 2026 akibat suhu yang sangat tinggi. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah negara juga memecahkan rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah.
Jerman mencatat suhu hingga 41,7 derajat Celsius. Polandia mencapai 40,5 derajat Celsius, sedangkan Republik Ceko menyentuh 41,1 derajat Celsius.
"Tekanan panas (heat stress) sering disebut sebagai 'pembunuh senyap' dan rumah, tempat kerja, serta sekolah di Eropa tidak dibangun untuk suhu seperti ini," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam unggahan di media sosial X.
Minimnya penggunaan AC di Eropa bukan tanpa alasan. Sebagian besar rumah di kawasan tersebut dibangun untuk mempertahankan kehangatan saat musim dingin, bukan untuk menghadapi suhu ekstrem ketika musim panas.
Banyak bangunan lama juga tidak dirancang untuk pemasangan pendingin ruangan. Selain itu, penggunaan AC secara luas dikhawatirkan meningkatkan konsumsi listrik dan emisi apabila pasokan energi masih bergantung pada bahan bakar fosil.
WHO mengingatkan Eropa menjadi benua yang mengalami pemanasan paling cepat. Laju kenaikan suhunya bahkan mencapai sekitar dua kali rata-rata global.
Baca Juga: Korban Tewas Gelombang Panas di Spanyol Tembus 212 Orang, Suhu Mencapai 43,7 Derajat
Akibat kondisi tersebut, gelombang panas yang sebelumnya hanya terjadi dalam beberapa dekade kini hampir muncul setiap tahun. Situasi ini membuat berbagai negara mulai menghadapi tantangan baru akibat perubahan iklim.
Para ahli menilai penggunaan AC bukan satu-satunya solusi. Mereka mendorong penambahan ruang hijau, perbaikan desain bangunan, penguatan sistem peringatan dini, serta percepatan pengurangan emisi gas rumah kaca untuk mengurangi dampak gelombang panas di masa depan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy
Tag Terkait: