Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bukan Unicorn, Komdigi Incar Ribuan Perusahaan Digital Valuasi US$100 Juta

Bukan Unicorn, Komdigi Incar Ribuan Perusahaan Digital Valuasi US$100 Juta Kredit Foto: Warta Ekonomi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengubah arah pengembangan ekosistem perusahaan digital di Indonesia. Pemerintah tidak lagi berfokus mengejar lahirnya perusahaan rintisan berstatus unicorn, melainkan mendorong terbentuknya kelompok perusahaan digital dengan valuasi sekitar US$100 juta.

Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Komdigi, Sonny Hendra Sudaryana, mengatakan pendekatan tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional. Berdasarkan simulasi yang dilakukan, pencapaian target tersebut berpotensi menyumbang hingga 1,6% terhadap produk domestik bruto (PDB).

"We no longer chasing unicorn. Jadi yang kita kejar adalah set perusahaan yang valuasinya di antara US$100 juta. Kalau kita bisa mencapai ini, kontribusi terhadap GDP-nya kita simulasikan sampai 1,6% terhadap GDP," ujar Sonny dalam Best Digital Finance Awards 2026 Warta Ekonomi, Jumat (30/10/2026).

Baca Juga: Komdigi Soroti Ketimpangan Ekonomi Digital, Infrastruktur Lokal Tanggung Beban Besar

Menurut Sonny, pengembangan perusahaan digital menjadi salah satu bagian dari upaya pemerintah mengoptimalkan potensi ekonomi digital sekaligus mendorong pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8%.

Salah satu inisiatif yang disiapkan Komdigi untuk mendukung strategi tersebut adalah Garuda Spark Innovation Hub. Program ini diarahkan untuk menciptakan 1.000 perusahaan digital dan menjangkau 4 juta penerima manfaat dari kalangan anak muda.

Melalui program tersebut, pemerintah ingin memperluas kesempatan bagi talenta muda di berbagai daerah agar memiliki akses pengembangan usaha digital yang setara dengan mereka yang berada di Jakarta.

Sonny menilai upaya tersebut penting untuk mengoptimalkan bonus demografi Indonesia. Pasalnya, sekitar 70% penduduk Indonesia berada dalam usia produktif, sementara 50% di antaranya berusia di bawah 30 tahun.

Namun, potensi tersebut juga diiringi tantangan penciptaan lapangan kerja. Menurutnya, bonus demografi perlu dikonversikan menjadi pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan kompetensi dan perluasan kesempatan kerja, termasuk di sektor digital.

"Harapannya semua inisiatif ini bisa mendukung pertumbuhan (perekonomian) 8%," kata Sonny.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Istihanah