Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

FINI Ramal Kapasitas Nikel Hidrometalurgi Tembus 1 Juta Ton di 2027

FINI Ramal Kapasitas Nikel Hidrometalurgi Tembus 1 Juta Ton di 2027 Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah, memproyeksikan kapasitas pengolahan nikel melalui jalur hidrometalurgi mencapai 900.000 ton hingga 1 juta ton pada akhir 2027. Peningkatan tersebut didorong oleh sejumlah proyek pengolahan nikel yang akan memasuki tahap commissioning dan produksi.

Arif menjelaskan, kapasitas pengolahan nikel melalui jalur hidrometalurgi pada 2025 tercatat sekitar 445.000 ton. Kapasitas tersebut diperkirakan meningkat menjadi sekitar 600.000 ton pada 2026 dan mencapai 900.000 ton hingga 1 juta ton pada akhir 2027.

"Di akhir 2027 itu mungkin kita bisa mencapai angka di kisaran hampir 1 juta, 900 sampai 1 juta. Jadi lonjakannya tinggi," ujar Arif saat ditemui di sela-sela Minerba Convex, Selasa (4/11/2026).

Menurut Arif, peningkatan kapasitas tersebut berasal dari sejumlah proyek hidrometalurgi yang saat ini berada dalam tahap finalisasi. Beberapa proyek bahkan akan segera memasuki tahap commissioning sebelum mulai berproduksi.

"Ada beberapa proyek lagi yang mungkin dalam tahap finalisasi akhir," katanya.

Arif menambahkan, sejumlah proyek tersebut merupakan hasil kerja sama dengan badan usaha milik negara (BUMN). Namun, dia belum bersedia menyebutkan nama perusahaan yang terlibat dalam proyek-proyek tersebut.

Sementara itu, kapasitas pengolahan nikel melalui jalur pirometalurgi diperkirakan mulai mencapai titik jenuh (plateau) pada kisaran 2,2 juta ton hingga 2,4 juta ton di tahun ini.

Baca Juga: Hingga September 2026 Produksi Nikel RI Tembus 225,3 Juta Ton

Baca Juga: Penjualan Bijih Nikel PT Vale Melonjak 387%, Ini Pembeli dan Jalur Pasoknya

Arif mengatakan, peningkatan kapasitas pengolahan nikel perlu diperhitungkan pemerintah dalam menetapkan kebijakan pasokan bijih melalui persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Pasalnya, kebutuhan bijih nikel tidak hanya berasal dari smelter dan refinery yang telah beroperasi, tetapi juga dari fasilitas baru yang segera memasuki tahap produksi.

"Industri itu ada dua, industri smelter refinery yang sudah berjalan, kemudian ada lagi smelter dan refinery yang akan berjalan memasuki tahapan commissioning dan akan berjalan. Dan dua-duanya perlu pasokan tentunya," jelasnya.

Di sisi lain, bila melihat data Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM, produksi feronikel Indonesia tercatat mencapai 419,08 ribu ton hingga September 2026. Pada periode yang sama, produksi nikel matte tercatat sebesar 60,81 ribu ton.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra