Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

FINI Tunggu Keputusan Pemerintah soal Formula HPM Limonit

FINI Tunggu Keputusan Pemerintah soal Formula HPM Limonit Kredit Foto: PT Vale
Warta Ekonomi, Jakarta -

Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) masih menunggu keputusan pemerintah atas usulan formula alternatif Harga Patokan Mineral (HPM) untuk bijih nikel kadar rendah atau limonit.

"HPM saat ini kami masih nunggu. Kami sudah mengusulkan alternatif formula, kami sedang nunggu," kata Ketua Umum FINI, Arif Perdana Kusumah, usai peluncuran PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) di Jakarta, Senin (24/8/2026).

Arif mengatakan usulan itu ditujukan untuk menjaga keseimbangan antara penambang di sektor hulu dan industri pengolahan di hilir.

"Usulannya sih untuk menyelaraskan antara hulu dan hilir. Jangan sampai hulu terlalu tinggi sehingga mematikan hilirnya, terutama untuk limonit," ujarnya.

Hanya Limonit yang Diusulkan

Usulan FINI tidak menyasar bijih nikel saprolit. Menurut Arif, harga patokan saprolit dalam formula yang berlaku sudah mendekati harga pasar.

"Kalau untuk saprolit sih kita tidak mengusulkan formula baru karena harga saprolit yang diusulkan pemerintah dengan harga pasar sudah sangat dekat. Tapi untuk limonit kan sangat jauh," kata Arif.

Limonit merupakan bahan baku utama fasilitas high pressure acid leach (HPAL), teknologi yang mengolah bijih menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP) untuk rantai pasok baterai kendaraan listrik.

Formula HPM yang berlaku sejak April 2026 membuat harga patokan bijih limonit berkadar 1,2 persen nikel naik dari sekitar US$16 per wet metric ton menjadi US$40,18 per wmt.

FINI sebelumnya menilai lonjakan itu menciptakan kesenjangan antara harga patokan dan kemampuan smelter menyerap bahan baku. Penambang tidak boleh menjual di bawah HPM, sementara smelter tertekan biaya jika membeli pada harga patokan.

Harga Sulfur Ikut Menekan

Selain bijih nikel, Arif menyebut biaya produksi MHP masih dibebani harga sulfur yang tinggi. Sulfur merupakan bahan penting dalam proses HPAL.

Harga sulfur kini berada di kisaran US$1.100 hingga US$1.200 per ton. Sebelumnya, menurut Arif, komoditas itu diperdagangkan sekitar US$250 per ton.

''Ya masih sangat tinggi sekali karena perbandingannya dulu itu di 250," sambungnya.

Baca Juga: Industri Nikel Minta Kejelasan Platform dan Referensi Harga DSI

Baca Juga: Vale Incar Nikel Tanamalia, PUSHEP Mempertanyakan Dasar Hukumnya

Menurut Arif, tekanan harga belum mereda karena konflik global yang mengganggu rantai pasok komoditas belum selesai.

Ia menyebut sulfur dan bijih nikel merupakan dua komponen biaya terbesar dalam produksi MHP.

"Sedangkan salah satu komponen paling besar dari biaya untuk menghasilkan MHP itu, setelah sulfur, ya bahan baku bijih nikelnya. Bijih nikelnya itu masih cukup tinggi," kata Arif.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra