Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

PLN Sebut Kebutuhan Batu Bara 2027 Meningkat, Capai 174 Juta Ton

PLN Sebut Kebutuhan Batu Bara 2027 Meningkat, Capai 174 Juta Ton Kredit Foto: PLN
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memperkirakan kebutuhan batu bara untuk pembangkit listrik pada 2027 mencapai sekitar 174 juta ton. Jumlah tersebut terdiri atas sekitar 89 juta ton batu bara kalori menengah atau medium rank coal (MRC) dan 76 juta ton batu bara kalori rendah atau low rank coal (LRC).

Direktur Utama PLN EPI Rakhmad Dewanto mengatakan, proyeksi tersebut mencerminkan besarnya kebutuhan batu bara untuk menopang operasional pembangkit listrik nasional. Adapun sebagian besar kebutuhan pembangkit masih didominasi batu bara kalori menengah.

"Jadi sebenarnya tahun depan itu kira-kira kebutuhan kita 174 juta ton batu bara. Itu terdiri dari medium rank coal, ini sekitar 89 juta ton. Yang low rank coal-nya 76 juta ton," ujar Rakhmad dalam paparan di ajang Minerba Convex 2026, di kutip Kamis (5/11/2026).

Sebagai gambaran, PLN EPI mengelola pasokan batu bara sekitar 97 juta ton sepanjang 2026. Volume tersebut meningkat dibandingkan 2023 yang tercatat sekitar 67 juta ton.

Namun, kebutuhan batu bara PLN secara keseluruhan lebih besar. Rakhmad menyebut kebutuhan PLN mencapai sekitar 150 juta ton pada 2026, termasuk tambahan sekitar 60 juta ton di luar volume yang dikelola PLN EPI.

"Sebenarnya yang dibutuhkan oleh PLN itu ada tambahan 60 juta di atas ini, jadi sekitar 150 juta ton," katanya.

Di sisi lain, besarnya kebutuhan batu bara kalori menengah menjadi tantangan tersendiri bagi PLN EPI. Pasalnya, karakteristik desain sebagian besar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) masih membutuhkan batu bara dengan nilai kalori menengah, sementara ketersediaan cadangan domestik lebih banyak didominasi batu bara kalori rendah.

Berdasarkan Neraca Sumber Daya dan Cadangan Badan Geologi 2025, Rakhmad menyebut sisa cadangan batu bara kalori menengah di Indonesia mencapai sekitar 4,54 miliar ton. Sementara itu, cadangan batu bara kalori tinggi atau high rank coal (HRC) mencapai sekitar 3,4 miliar ton. Adapun cadangan batu bara kalori rendah justru lebih melimpah.

"Artinya apa? Ini challenge buat PLN dan buat kita semua. Bagaimana tadi kebutuhannya lebih banyak MRC, tetapi availability-nya lebih banyak LRC. Ini yang perlu kita address," jelasnya.

Menurut Rakhmad, desain sebagian besar PLTU masih membutuhkan batu bara kalori menengah dengan proporsi sekitar 50%–60%. Untuk mengatasi ketidaksesuaian tersebut, PLN EPI berupaya mendorong penyesuaian spesifikasi pembangkit agar dapat memanfaatkan batu bara dengan nilai kalori lebih rendah.

Rakhmad menjelaskan, penyesuaian atau upgrade PLTU diperlukan agar pembangkit yang sebelumnya dirancang menggunakan batu bara berkalori lebih tinggi dapat beroperasi dengan batu bara berkalori lebih rendah tanpa mengurangi kemampuan menghasilkan energi.

Penggunaan batu bara berkalori rendah membutuhkan penyesuaian pada sistem pembakaran pembangkit. Salah satunya dengan memperbesar ruang pembakaran agar energi yang dihasilkan tetap sesuai kebutuhan.

Namun, proses penyesuaian tersebut tidak dapat dilakukan secara instan. PLN harus mempertimbangkan kebutuhan investasi, kompleksitas teknis, serta ketersediaan pembangkit pengganti apabila PLTU harus dihentikan sementara untuk menjalani proses peningkatan teknologi.

"Upgrade itu enggak simpel. Kalau mematikan PLTU, kita harus mikir gantinya ada atau enggak. Ini butuh investasi juga," katanya.

Selain persoalan spesifikasi batu bara, PLN EPI juga menghadapi tantangan perbedaan harga antara batu bara untuk kebutuhan pembangkit listrik dan harga di pasar komersial.

Rakhmad menyebutkan, ketentuan harga batu bara untuk kebutuhan kelistrikan mengacu pada batas harga US$70 per ton untuk batu bara dengan nilai kalori 6.300 kilokalori per kilogram (kcal/kg). Sementara itu, harga batu bara untuk sektor industri lain maupun pasar internasional dapat berada pada tingkat berbeda.

Perbedaan harga tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga keberlanjutan pasokan batu bara bagi pembangkit listrik. Untuk itu, PLN EPI tengah berdiskusi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), khususnya terkait pemenuhan kebutuhan batu bara kalori menengah.

"Kami sedang berdiskusi dengan Kementerian ESDM, mohon dukungan terkait pemenuhan medium rank coal," ungkap Rakhmad.

Baca Juga: PLN EPI Minta 120 Kargo LNG di 2027, Meningkat 11%

Baca Juga: PLN Listriki 128 Desa pada 2026 dan Targetkan 199 Desa pada 2027

Di sisi lain, kebutuhan energi primer untuk pembangkit listrik diperkirakan terus meningkat seiring pertumbuhan konsumsi listrik nasional. Rakhmad memperkirakan pertumbuhan kebutuhan listrik mencapai 5%–6% pada 2026 dan berpotensi meningkat menjadi 6%–7% pada 2027.

Peningkatan tersebut antara lain didorong oleh pertumbuhan penggunaan kendaraan listrik, elektrifikasi sektor pertambangan dan pertanian, serta meningkatnya kebutuhan listrik untuk pusat data (data center).

Dengan proyeksi kebutuhan batu bara yang mencapai 174 juta ton pada 2027, penyesuaian teknologi pembangkit dan kepastian pasokan batu bara domestik menjadi tantangan penting bagi PLN EPI dalam menjaga keandalan pasokan listrik nasional.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra