Pertumbuhan Ekonomi Lampaui Konsensus, GREAT Institute Ingatkan Manfaatnya Harus Merata
Kredit Foto: Ist
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,47% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal III/2026, melampaui konsensus ekonom sebesar 5,20%. Penguatan tersebut terutama ditopang industri pengolahan yang tumbuh 5,87%, meskipun sejumlah indikator kesejahteraan masyarakat, terutama sektor pertanian dan konsumsi rumah tangga, masih menghadapi tekanan.
Peneliti GREAT Institute, Ani Asriyah, menilai capaian tersebut memberikan momentum positif bagi arah kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto atau yang disebut sebagai Prabowonomics.
“Pertumbuhan 5,47 persen bukan sekadar melampaui perkiraan banyak ekonom. Capaian ini menunjukkan bahwa perekonomian kita mampu mempertahankan momentum, bahkan mencatat akselerasi yang relatif jarang terjadi pada triwulan ketiga. Pada awal tahun, Presiden Prabowo menyampaikan optimismenya terhadap prospek ekonomi Indonesia. Kini kita melihat perkembangan positif yang memberikan momentum bagi Prabowonomics, terutama melalui penguatan sektor industri. Kami mengapresiasi kerja pemerintah dan pelaku usaha dalam menjaga pertumbuhan ini,” ujar Ani dalam keterangan tertulis, Jumat (6/11/2026).
Pertumbuhan ekonomi kuartal III/2026 meningkat dibandingkan realisasi kuartal II/2026 sebesar 5,29% dan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,04%. Secara kumulatif, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45% sepanjang Januari-September 2026.
Menurut GREAT Institute, pertumbuhan 5,47% tersebut merupakan capaian tertinggi untuk periode kuartal ketiga sejak 2013, dengan pengecualian 2022 ketika ekonomi tumbuh 5,72%. Lembaga tersebut juga mencatat akselerasi pertumbuhan dari kuartal II ke kuartal III relatif jarang terjadi dalam pola pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak 2010.
Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi dengan andil 1,20 poin persentase. Sektor ini tumbuh 5,87%, meningkat dari 4,52% pada kuartal sebelumnya. Perdagangan menyusul dengan pertumbuhan 7,14% dan kontribusi 0,94 poin persentase, sedangkan konstruksi tumbuh 6,42% dengan andil 0,62 poin persentase.
Transportasi dan pergudangan juga mencatat pertumbuhan 8,03%. Penguatan sejumlah sektor tersebut menunjukkan aktivitas produksi dan distribusi menjadi bagian penting dari penopang ekonomi nasional pada kuartal III/2026.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,04% dan memberikan kontribusi terbesar sebesar 2,62 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi tumbuh 6,06% dengan kontribusi 1,91 poin persentase. Sementara itu, konsumsi pemerintah tumbuh 8,95% dengan andil 0,62 poin persentase.
Penguatan investasi juga tercermin dari realisasi penanaman modal kuartal III/2026 yang mencapai Rp528,7 triliun, tumbuh 7,6% secara tahunan. Investasi sektor hilirisasi tercatat Rp179,9 triliun atau meningkat 19,4%.
GREAT Institute menilai kombinasi penguatan manufaktur dan investasi tersebut sejalan dengan pendekatan Prabowonomics yang menempatkan peran aktif negara sebagai salah satu penggerak permintaan domestik dan kapasitas produksi nasional.
“Yang menarik, industri pengolahan justru berakselerasi ketika pertumbuhan konsumsi pemerintah melandai dari triwulan sebelumnya. Ini memberikan sinyal positif bahwa momentum pertumbuhan tidak hanya ditopang belanja negara, tetapi juga penguatan kegiatan produksi,” kata Ani.
Meski demikian, GREAT Institute mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum otomatis mencerminkan pemerataan kesejahteraan. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,04%, sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan bahkan hanya tumbuh 0,46% pada periode yang sama.
Tekanan juga terlihat pada harga pangan. Bank Indonesia mencatat inflasi kelompok harga bergejolak atau volatile foodmencapai 5,81% secara tahunan pada Oktober 2026, lebih tinggi dibandingkan inflasi umum sebesar 3,23%.
GREAT Institute turut mengingatkan persoalan struktural berupa penyusutan jumlah penduduk kelas menengah. Berdasarkan data yang dirujuk lembaga tersebut, jumlah penduduk kelas menengah turun dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 47,85 juta orang pada 2024.
Untuk keseluruhan 2026, GREAT Institute mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5,3%-5,6%. Lembaga tersebut menghitung ekonomi perlu tumbuh sekitar 4,86% pada kuartal IV untuk mencapai pertumbuhan tahunan 5,3%. Sementara itu, pencapaian target 5,6% membutuhkan pertumbuhan sekitar 6,03% pada periode terakhir tahun ini.
Ani menilai pemerintah perlu memastikan penguatan industri dan investasi memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian masyarakat. Menurutnya, investasi perlu terhubung dengan pemasok domestik, menciptakan pekerjaan formal dengan penghasilan layak, serta meningkatkan produktivitas sektor pertanian.
“Pertumbuhan 5,47 persen memberikan jawaban positif di tengah keraguan banyak pihak terhadap ketahanan ekonomi kita. Momentum ini juga memberi dasar optimisme bagi kelanjutan agenda Prabowonomics. Kini pemerintah perlu menjawab pertanyaan berikutnya: apakah manfaat pertumbuhan itu benar-benar sampai ke rumah tangga?” tutup Ani.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: