- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
PT KBI Perkuat Sistem Resi Gudang, Jumlah Pengelola Gudang Tumbuh 10,6%
Kredit Foto: WE
PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) atau PT KBI terus memperluas implementasi Sistem Resi Gudang (SRG) dengan memperkuat kolaborasi dan mendorong digitalisasi pencatatan komoditas. Hingga Oktober 2026, jumlah pengelola gudang dalam ekosistem SRG bertambah 10,6% dibandingkan periode sebelumnya, seiring meningkatnya keterlibatan pemerintah daerah, perbankan, pelaku usaha, dan mitra internasional.
Pengembangan SRG dilakukan bersama Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ekosistem ini mencakup beragam komoditas, mulai dari gula, kopi, tembakau, gabah dan beras, hingga rumput laut.
Perluasan tersebut diarahkan untuk meningkatkan pemanfaatan Resi Gudang sebagai instrumen penyimpanan sekaligus sarana bagi petani dan pelaku usaha komoditas dalam memperoleh akses pembiayaan serta menjangkau pasar yang lebih luas.
Salah satu upaya penguatan SRG diwujudkan melalui dukungan PT KBI terhadap peluncuran e-Seaweed Platform di Sulawesi Selatan pada 23–24 September 2026. Platform ini merupakan inisiatif bersama International Labour Organization (ILO) dan Pemerintah Swiss melalui SECO, dengan dukungan OJK serta pemangku kepentingan nasional dan daerah.
Melalui platform tersebut, aktivitas petani rumput laut dapat tercatat secara real time, mulai dari proses budidaya, transaksi, hingga aktivitas di gudang. Pencatatan digital ini memungkinkan data usaha petani terverifikasi sehingga dapat menjadi dasar pemanfaatan SRG sekaligus membuka peluang akses pembiayaan yang lebih inklusif.
Dalam pelaksanaannya, PT KBI bertindak sebagai Pusat Registrasi yang memastikan setiap Resi Gudang tercatat dan terverifikasi melalui Sistem IS-Ware Next Gen.
“Resi Gudang bukan sekadar instrumen penyimpanan, melainkan pintu bagi petani dan pelaku usaha komoditas untuk mengakses pembiayaan dan pasar yang lebih luas. Melalui pengembangan SRG dan pencatatan digital seperti e-Seaweed Platform, data komoditas menjadi lebih terverifikasi dan dapat menjadi fondasi kepercayaan bagi perbankan maupun pembeli,” ujar Adiyasa Suhadibroto, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko merangkap Plt. Direktur Utama PT KBI (Persero).
Selain mengembangkan SRG, PT KBI terus memperkuat bisnis kliring dan penjaminan transaksi perdagangan berjangka komoditas. Hingga Oktober 2026, total transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) yang dikliringkan perusahaan mencapai 9,27 juta lot, tumbuh 2,6% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Segmen Loco dan Komoditi Sistem Perdagangan Alternatif (SPA) mencatat pertumbuhan transaksi sebesar 12,7%. Sementara itu, transaksi pasar fisik timah dalam negeri meningkat 17,68% secara tahunan.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko merangkap Plt. Direktur Utama PT KBI Adiyasa Suhadibroto mengatakan, penguatan layanan kliring dan penjaminan dilakukan untuk menjaga transparansi serta kepercayaan pelaku pasar.
“Kepercayaan pelaku pasar adalah amanah yang kami jaga setiap hari. Setiap transaksi yang kami kliringkan dan jamin berjalan sesuai ketentuan, tercatat dengan baik, dan dapat dipertanggungjawabkan. Bagi kami, transparansi dan akuntabilitas bukan sekadar komitmen, melainkan standar kerja,” ujarnya.
Di luar kegiatan bisnis, PT KBI juga menjalankan Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang selaras dengan kegiatan usaha perusahaan. Program tersebut diarahkan untuk mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat, memperkuat ketahanan pangan, dan mendukung pelestarian lingkungan.
Salah satunya melalui program Integrated Farming System (IFS) Kemandirian Petani Kedelai yang telah memasuki tahun ketiga sejak dimulai pada 2023. Program yang kini mencapai Batch ke-4 tersebut berpusat di Kabupaten Sukoharjo dan Klaten, dengan melibatkan 73 petani lokal serta mengelola lahan produktif seluas 10 hektare.
PT KBI juga menjalankan program reforestasi tanaman kopi di Kabupaten Garut melalui penanaman pohon kopi dan pemberdayaan petani lokal. Program ini ditujukan untuk memulihkan lahan kritis sekaligus meningkatkan produktivitas dan nilai ekonomi komoditas kopi.
Ke depan, PT KBI akan terus memperluas kolaborasi dan digitalisasi SRG, sekaligus meningkatkan kualitas layanan kliring dan penjaminan. Langkah tersebut diharapkan memperkuat ekosistem perdagangan komoditas nasional serta membuka akses pembiayaan dan pasar yang lebih luas bagi petani dan pelaku usaha.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Sufri Yuliardi
Editor: Sufri Yuliardi
Tag Terkait: