- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Bahlil Siapkan Fasilitas Penyimpanan Minyak 60 Hari, Akademisi Apresiasi Upaya Ketahanan Energi Indonesia
Kredit Foto: Ilham Nurul Karim
Rencana pemerintah membangun fasilitas penyimpanan minyak mentah (crude storage) di sejumlah wilayah Sumatra dengan target kapasitas stok hingga 60 hari mendapat tanggapan dari kalangan akademisi. Kebijakan yang disiapkan Menteri Koordinator Hilirisasi dan Transisi Energi/Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia itu dinilai dapat memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik dan gejolak harga minyak dunia.
Pakar ekonomi sekaligus Guru Besar Universitas Ciputra Surabaya, Prof. Dr. Murpin Josua Sembiring, mendukung rencana peningkatan kapasitas penyimpanan minyak tersebut. Menurut dia, Indonesia membutuhkan cadangan energi yang lebih kuat agar aktivitas industri dan perekonomian tidak mudah terganggu ketika terjadi krisis pasokan global.
"Saya mendukung target pemerintah memperluas kapasitas penyimpanan minyak dari sekitar 20 hari menuju 60 hari," kata Murpin dalam keterangan tertulis, Kamis (5/11/2026).
Murpin menjelaskan, peningkatan cadangan minyak dapat memberikan waktu bagi pemerintah untuk mengantisipasi gangguan impor. Selain itu, cadangan yang lebih besar dapat memperkuat posisi tawar Indonesia dalam pembelian minyak dan mengurangi risiko terhentinya aktivitas industri.
Namun, dia mengingatkan bahwa target 60 hari masih membutuhkan kesiapan infrastruktur dan pengelolaan stok yang optimal.
"Energy security is national security," ujarnya.
Menurut Murpin, pembangunan fasilitas penyimpanan minyak juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi apabila biaya investasi lebih kecil dibandingkan potensi kerugian akibat gangguan pasokan energi yang dapat dihindari.
Karena itu, pemerintah perlu memperhitungkan seluruh kebutuhan investasi, mulai dari pembangunan fasilitas, pembebasan lahan, pengisian cadangan, pemeliharaan, hingga mekanisme pelepasan stok saat keadaan darurat.
Dia juga mengingatkan pentingnya transparansi investasi, akuntabilitas anggaran negara, dan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan. Peningkatan kapasitas penyimpanan harus diikuti ketersediaan stok minyak yang memadai.
"Kedaulatan energi tidak diukur dari berapa 'tangki' diresmikan, melainkan berapa lama ekonomi tetap bergerak ketika dunia alami turbulensi," pungkasnya.
Pandangan serupa disampaikan pakar kebijakan publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tanjungpura (Untan), Dr. Erdi, M.Si. Dia menilai pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah hingga kapasitas 60 hari dibutuhkan untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia.
“Pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah hingga 60 hari merupakan strategi untuk memperkuat ketahanan energi," ujar Erdi.
Erdi membandingkan target tersebut dengan kemampuan cadangan minyak sejumlah negara ASEAN. Singapura memiliki cadangan sekitar 50 hari, Timor Leste 90 hari, Malaysia 30 hari, Thailand 60 hari, Laos 21 hari, Vietnam 56 hari, dan Brunei Darussalam 31 hari. Sementara itu, Myanmar memiliki cadangan 40 hari dan Filipina 51 hari.
Menurut Erdi, Indonesia memiliki tingkat konsumsi BBM terbesar di ASEAN jika dilihat dari jumlah penduduk dan konsumsi harian. Karena itu, penguatan cadangan energi menjadi kebutuhan penting untuk menjaga keberlangsungan pasokan dalam negeri.
Erdi yang juga menjabat Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FISIP Untan tersebut menilai pembangunan fasilitas penyimpanan minyak perlu berjalan beriringan dengan pengembangan bahan bakar nabati.
Dia menyebut program biodiesel B50 dan bioetanol E20 hingga E50 sebagai bagian dari strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM.
"Pengembangan E20–E50 dan B50, disertai pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah hingga 60 hari, merupakan strategi terpadu untuk memperkuat ketahanan energi, menjaga stabilitas ekonomi, dan mengurangi risiko gangguan pasokan," kata Erdi.
Dia menambahkan, peningkatan kapasitas penyimpanan minyak dapat menjadi perlindungan ketika terjadi gangguan pasokan akibat konflik geopolitik, fluktuasi harga minyak dunia, maupun terganggunya rantai distribusi energi internasional.
Pasokan energi yang lebih terjamin juga berpotensi menghemat devisa, mendorong investasi, serta memberi ruang bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas harga dan menekan risiko inflasi akibat gejolak energi global.
Baca Juga: Bahlil Pacu Pengembangan B50 dan E20, Guru Besar Sambut Positif Upaya Pengurangan Impor BBM
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah sedang menyiapkan pembangunan sejumlah fasilitas penyimpanan minyak mentah di wilayah Sumatra. Fasilitas tersebut dirancang untuk menampung minyak mentah hasil impor sekaligus meningkatkan fleksibilitas pengelolaan pasokan nasional.
"Kita akan membangun storage beberapa di wilayah Sumatra untuk ketika kita melakukan impor crude. Target kita bisa sampai dengan 60 hari," ujar Bahlil, dikutip Rabu (4/11/2026).
Melalui pembangunan fasilitas tersebut, pemerintah menargetkan peningkatan kapasitas penyimpanan minyak nasional dari sekitar 20 hari menjadi 60 hari. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi Indonesia menghadapi ketidakpastian pasokan global.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: