Kredit Foto: Youtube
Investor kawakan Lo Kheng Hong mengungkap pengalaman terberatnya selama puluhan tahun berinvestasi di pasar modal Indonesia. Saat krisis moneter 1998, nilai portofolio sahamnya pernah merosot hingga 85%, menyisakan hanya 15% dari nilai sebelumnya.
Meski mengalami kerugian besar, Lo Kheng Hong mengaku berhasil melewati lima periode krisis pasar saham sepanjang perjalanan investasinya. Ia menyebut kemampuan bertahan tersebut tidak lepas dari keyakinan pribadi, kedisiplinan keuangan, serta keputusan untuk tidak menggunakan dana pinjaman dalam berinvestasi.
"Ya, selama karier saya sebagai investor saham di Bursa Efek Indonesia 37 tahun, kira-kira ada 5 kali krisis," kata Lo Kheng Hong, dalam Seminar Utama bertajuk "Indonesia's Economic & Investment Outlook" pada rangkaian Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2026, Kamis (5/11/2026).
Menurutnya, salah satu prinsip utama dalam menghadapi gejolak pasar adalah menggunakan uang sendiri. Dengan tidak memiliki utang, ia tidak dibebani kewajiban pembayaran pinjaman ketika harga saham mengalami penurunan tajam.
"Kalau saya bisa melewati 5 krisis itu dari tahun 1991 sampai tahun 2026, itu yang pertama karena Tuhan selalu menolong saya," ujarnya.
Krisis 1991, Portofolio Lo Kheng Hong Turun 50%
Lo Kheng Hong mengenang gejolak pasar saham pada 1991 yang dipicu kebijakan pengetatan likuiditas atau tight money policy. Saat itu, pemerintah berupaya mengendalikan inflasi yang meningkat hingga sekitar 8% dengan menarik dana badan usaha milik negara (BUMN) dari perbankan dan memindahkannya ke Bank Indonesia.
Kebijakan tersebut berdampak terhadap ketersediaan likuiditas di sistem keuangan dan menekan harga saham. Lo Kheng Hong mengatakan nilai portofolionya sempat turun hingga 50%.
"Jadi saya lihat portofolio saya turun 50%, ya. Tapi 1991, 1992, 1993, inflasi mulai turun, tight money policy pelan-pelan dibuka. Saham saya dari rugi kembali untung, ya," tuturnya.
Namun, tekanan yang jauh lebih berat terjadi ketika Indonesia dilanda krisis moneter pada 1998. Saat itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah tajam, sedangkan suku bunga melonjak hingga sekitar 70%.
Menurut penuturannya, kurs dolar AS yang sebelumnya berada di kisaran Rp2.400 meningkat hingga Rp14.850. Kondisi tersebut membuat perusahaan dengan beban utang besar kesulitan memenuhi kewajibannya, bahkan sejumlah perusahaan mengalami kebangkrutan.
"Dolar dari Rp 2.400 menjadi Rp 14.850, sehingga suku bunga naik ke 70%, ya. Perusahaan-perusahaan yang punya utang pada bangkrut karena perusahaannya bangkrut, nggak bisa bayar utang di bank, banknya modalnya juga minus," kata Lo Kheng Hong.
Krisis tersebut turut menghantam investasinya. Nilai portofolio sahamnya merosot 85%. Situasi semakin sulit karena saat itu ia sudah tidak bekerja, sementara harus memenuhi kebutuhan keluarga.
"Saya lihat portofolio saya, waduh, minus 85%. Saya sudah tidak kerja, istri saya ibu rumah tangga, anak dua, wah, uangnya tinggal 15%," kenangnya.
Meski demikian, ia justru menemukan peluang ketika harga saham jatuh. Lo Kheng Hong mengaku menemukan perusahaan dengan fundamental menarik yang sahamnya diperdagangkan jauh di bawah nilai yang dianggapnya wajar.
"Bukan mercy yang dijual harga bajai, tapi ketemu berlian yang dijual harga kerikil. Jadi saya survive lagi, ya," ujarnya.
Siapkan Uang Tunai Saat Pasar Krisis
Pengalaman menghadapi krisis 1998 memperkuat pendekatan investasi Lo Kheng Hong yang berfokus pada pencarian perusahaan berkualitas dengan harga saham di bawah nilai intrinsiknya.
Strategi tersebut kembali diterapkan ketika pasar keuangan global mengalami tekanan pada 2008. Krisis yang bermula dari persoalan kredit perumahan berisiko tinggi atau subprime mortgage di Amerika Serikat turut menekan pasar saham Indonesia.
Namun, Lo Kheng Hong menilai pemulihan pasar saat itu berlangsung lebih cepat dibandingkan krisis moneter 1998. Ia mengaitkannya dengan kondisi sektor keuangan Indonesia yang telah mengalami pembenahan setelah krisis sebelumnya.
"Turun juga ikut turun, tapi sebentar recover, karena Indonesia sehat tahun 2008. Karena tahun 98 mengalami krisis, 2008 jadi pada sehat," jelasnya.
Ketika pandemi Covid-19 melanda pada 2020, Lo Kheng Hong mengaku memiliki posisi yang lebih siap. Ia menyimpan dana tunai dalam jumlah cukup besar sehingga dapat memanfaatkan penurunan harga saham untuk menambah investasi.
"Beruntung pada waktu itu saya ada uang cash yang cukup banyak, sehingga saya bisa memborong saham di harga yang murah," ungkapnya.
Strategi serupa kembali dilakukan ketika pasar saham mengalami tekanan pada 2026. Alih-alih sepenuhnya menghindari pasar, ia menggunakan ketersediaan dana tunai untuk membeli saham yang dinilai memiliki harga menarik.
"Begitu juga tahun 2026, harga saham turun, saya punya uang cash yang banyak, sehingga saya bisa membeli saham murah-murah. Jadi saya bersyukur bisa melewati 5 krisis di Indonesia," pungkasnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: