Market Indices

Amerika Serikat: Dibalik Kebijakan Easy Money(1)

Rubrik Internasional

04 Mei 2013 10:00:00 WIB

WE.CO.ID Apa yang menjadi kesamaan dari China, Jepang, dan Korea Selatan akhir-akhir ini? Mereka tampaknya sama-sama memiliki keyakinan bahwa kedaulatan ekonomi mereka, dalam hal ini kemampuan untuk mengendalikan arus keluar masuknya dana (modal), sangat bergantung pada kebijakan yang diambil Federal Reserve (Bank Sentral AS).


Pada Desember 2012 lalu, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe berkomentar secara kritis bahwa "Bank-bank sentral di seluruh dunia terus menerus mencetak uang .... dan Amerika Serikat adalah pelopornya. Jika terus berlangsung, yen pasti akan menguat”. Jepang berniat untuk melawan hal ini dan berupaya melemahkan nilai tukar Yen dengan segala cara.


Sementara itu, pada suatu kesempatan di Beijing pada bulan September 2012 silam, Gubernur Bank of Korea (Bank Sentral Korsel) Kim Choong-soo mengatakan bahwa, "Korea dan China perlu melakukan upaya bersama untuk meminimalkan efek negatif yang timbul dari kebijakan moneter negara-negara maju." Tentu saja sasaran utama komentar ini adalah Amerika Serikat.


Akar masalahnya adalah kebijakan moneter AS mungkin memang optimal untuk “menyelamatkan” ekonominya sendiri, namun belum tentu optimal bagi dunia. Ada konflik antara peran domestik dari mata uang dolar AS dan perannya sebagai “alat tukar/pembayaran internasional."


Hubungan AS-China


Hubungan antara AS dan China memiliki arti spesial. Dolar yang dikirim ke China untuk membeli barang-barang manufaktur murah, kembali lagi ke AS dalam bentuk pinjaman berbunga rendah dan kemudian didaur ulang masuk kembali ke sistem keuangan AS yang akhirnya menciptakan kredit/pinjaman yang lebih murah untuk pasar domestik AS. Dalam hal ini, tidak ada mekanisme penyesuai yang seharusnya bertindak untuk membalikkan surplus perdagangan China atau defisit perdagangan AS. Dengan kata lain, tidak terjadi depresiasi dolar yang dapat membuat barang-barang ekspor AS lebih kompetitif, ditambah dengan tidak adanya upaya pengetatan dari The Fed (setidaknya hingga saat ini), sehingga tidak mustahil akan terjadi lagi gelembung yang dipicu oleh suku bunga rendah untuk kemudian meledak kembali sebagai krisis.


China telah membangun sebuah gunung cadangan moneter sebesar US$3,3 triliun, yang 60%-nya adalah surat berharga pemerintah AS. Amerika Serikat sendiri telah mengakumulasikan utang internasional terbesar di dunia hingga US$15,9 triliun. Dari hubungan ini, China takut akan jatuhnya daya beli dari timbunan dolar mereka. AS menuduh China "memanipulasi" mata uangnya, sementara China balik menyalahkan pemborosan AS.


Namun, apapun kekhawatiran dunia, AS hingga saat ini masih mampu membayar tagihan mereka dalam mata uang yang mereka cetak sendiri. Meskipun utang pemerintah AS terus membesar dan berkembang, AS terus mampu menjual surat-surat utangnya pada rekor tingkat bunga yang rendah di saat krisis sekalipun. Dolar masih menyumbang 60% dari cadangan devisa global di berbagai negara di dunia. Sebesar 75% dari impor global negara-negara lain, selain Amerika Serikat, juga masih menggunakan mata uang dolar.


China meyakini arsitektur keuangan internasional saat ini yang didominasi AS gagal untuk memberikan keamanan yang memadai bagi kepentingan ekonomi global. Namun, sayangnya, belum ada alternatif lain yang tidak menimbulkan kerugian besar pada cadangan devisa yang ada saat ini.


Hal ini dapat dipelajari dari sejarah yang terjadi selama krisis Terusan Suez tahun 1956. Saat itu, pemerintahan AS yang dipimpin Eisenhower mengancam akan menciptakan krisis poundsterling untuk memaksa Inggris keluar dari Mesir. Langkah ini berani diambil karena keruntuhan nilai tukar poundsterling hanya berpengaruh kecil bagi ekonomi Amerika Serikat. Mengapa? Karena kepemilikan pemerintah AS akan sekuritas Inggris (sebagai cadangan devisa) hanyalah sebesar US$1 per penduduk AS. Bandingkan kondisinya dengan kepemilikan China atas sekuritas (surat berharga) AS yang kini telah mencapai lebih dari US$1,000 per penduduk China. Kejatuhan dolar berarti kejatuhan daya beli global dari timbunan devisa China. Jadi tidak ada satupun dari “pasangan” pernikahan moneter ini yang kemungkinan akan mengajukan “cerai” dalam waktu dekat.


(bersambung)

Foto: wikimedia.org

Editor: Ihsan

Recomended Reading

Selasa, 02/06/2015 02:21 WIB

Persipura: Kami Tetap di Bawah PSSI

Selasa, 02/06/2015 09:49 WIB

Peugeot Ukir Sejarah Baru Dunia Otomotif di Indonesia

Selasa, 02/06/2015 01:19 WIB

Jokowi: Sanksi FIFA Itu Momentum Pembenahan

Berita Terkini

Rabu, 03/06/2015 05:56 WIB

Dolar AS Melemah Setelah Data Zona Euro Positif

Rabu, 03/06/2015 05:07 WIB

Bank Mandiri: Perlambatan Ekonomi Hingga 2016

Rabu, 03/06/2015 04:21 WIB

Ganjar Pranowo Doakan Acara Mantu Presiden Sukses

Rabu, 03/06/2015 03:16 WIB

Indonesia Masuki Era Bonus Demografi

Rabu, 03/06/2015 02:11 WIB

Jokowi: Revolusi Mental dari Diri Sendiri

Rabu, 03/06/2015 01:06 WIB

Kubu Djan Faridz: PPP Tak Bakal Islah

Rabu, 03/06/2015 00:23 WIB

BCA Kembali Gelar Turnamen Bulutangkis "Indonesia Open Supeseries"

Rabu, 03/06/2015 00:09 WIB

Indonesia Tak Berdaya Lawan Myanmar

Kabar EkBis

02 Juni 2015 - Ekonomi Bisnis

BI Bali Dorong Penggunaan Uang Elektronik

02 Juni 2015 - Ekonomi Bisnis

Yongki Komaladi Ingin Tembus Pasar Tiongkok

Kabar Indonesia

02 Juni 2015 - Politik

Aher Hormati Putusan Bebas Yance

02 Juni 2015 - Nasional

Jokowi: Orang Tua Harus Awasi Anak

Executive Brief

Yongki Komaladi siap tembus pasar Tiongkok.

Pemkot Mataram akan gandeng Iwapi untuk bina perempuan pengusaha.

BPS catat laju inflasi di NTB pada Mei 2015 sebesar 0,28 persen.

Bank Mandiri perkirakan pelemahan ekonomi makro berlangsung hingga 2016.

Harga lada putih di Lebak tembus Rp120.000 per kilogram.

BI Bali dorong penggunaan uang elektronik sebagai alat pembayaran non-tunai.

Pelabuhan Pangkalbalam catat jumlah muat barang 64,49 ribu ton pada April 2015.

BPS catat 5.725 wisman berkunjung ke NTB selama April 2015.

Bank Sumsel Babel dukung program rumah bersubsidi bagi rakyat berpenghasilan rendah.

Entertainment

02 Juni 2015 - Olahraga

"Blatter Telah Buat Malu FIFA"

02 Juni 2015 - Olahraga

Persipura: Kami Tetap di Bawah PSSI