Portal Berita Ekonomi Jum'at, 09 Desember 2016

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

Market Indices
  • Composite Index Today: 5303.734 Change: 38.366 Stock: 539
  • Agriculture Today: 1867.866 Change: -7.633 Stock: 21
  • Mining Today: 1412.725 Change: -20.327 Stock: 43
  • Basic Industry and Chemicals Today: 546.429 Change: 4.879 Stock: 66
  • Miscellanous Industry Today: 1306.578 Change: 5.198 Stock: 42
  • Consumer Goods Today: 2416.040 Change: 24.184 Stock: 39
  • Cons., Property & Real Estate Today: 539.502 Change: 8.435 Stock: 63
  • Infrastruc., Utility & Trans. Today: 1060.826 Change: 16.904 Stock: 56
  • Finance Today: 783.551 Change: 4.996 Stock: 88
  • Trade & Service Today: 850.411 Change: 0.476 Stock: 121

Amerika Serikat: Dibalik Kebijakan Easy Money(1)

Foto Berita Amerika Serikat: Dibalik Kebijakan Easy Money(1)

WE.CO.ID Apa yang menjadi kesamaan dari China, Jepang, dan Korea Selatan akhir-akhir ini? Mereka tampaknya sama-sama memiliki keyakinan bahwa kedaulatan ekonomi mereka, dalam hal ini kemampuan untuk mengendalikan arus keluar masuknya dana (modal), sangat bergantung pada kebijakan yang diambil Federal Reserve (Bank Sentral AS).


Pada Desember 2012 lalu, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe berkomentar secara kritis bahwa "Bank-bank sentral di seluruh dunia terus menerus mencetak uang .... dan Amerika Serikat adalah pelopornya. Jika terus berlangsung, yen pasti akan menguat”. Jepang berniat untuk melawan hal ini dan berupaya melemahkan nilai tukar Yen dengan segala cara.


Sementara itu, pada suatu kesempatan di Beijing pada bulan September 2012 silam, Gubernur Bank of Korea (Bank Sentral Korsel) Kim Choong-soo mengatakan bahwa, "Korea dan China perlu melakukan upaya bersama untuk meminimalkan efek negatif yang timbul dari kebijakan moneter negara-negara maju." Tentu saja sasaran utama komentar ini adalah Amerika Serikat.


Akar masalahnya adalah kebijakan moneter AS mungkin memang optimal untuk “menyelamatkan” ekonominya sendiri, namun belum tentu optimal bagi dunia. Ada konflik antara peran domestik dari mata uang dolar AS dan perannya sebagai “alat tukar/pembayaran internasional."


Hubungan AS-China


Hubungan antara AS dan China memiliki arti spesial. Dolar yang dikirim ke China untuk membeli barang-barang manufaktur murah, kembali lagi ke AS dalam bentuk pinjaman berbunga rendah dan kemudian didaur ulang masuk kembali ke sistem keuangan AS yang akhirnya menciptakan kredit/pinjaman yang lebih murah untuk pasar domestik AS. Dalam hal ini, tidak ada mekanisme penyesuai yang seharusnya bertindak untuk membalikkan surplus perdagangan China atau defisit perdagangan AS. Dengan kata lain, tidak terjadi depresiasi dolar yang dapat membuat barang-barang ekspor AS lebih kompetitif, ditambah dengan tidak adanya upaya pengetatan dari The Fed (setidaknya hingga saat ini), sehingga tidak mustahil akan terjadi lagi gelembung yang dipicu oleh suku bunga rendah untuk kemudian meledak kembali sebagai krisis.


China telah membangun sebuah gunung cadangan moneter sebesar US$3,3 triliun, yang 60%-nya adalah surat berharga pemerintah AS. Amerika Serikat sendiri telah mengakumulasikan utang internasional terbesar di dunia hingga US$15,9 triliun. Dari hubungan ini, China takut akan jatuhnya daya beli dari timbunan dolar mereka. AS menuduh China "memanipulasi" mata uangnya, sementara China balik menyalahkan pemborosan AS.


Namun, apapun kekhawatiran dunia, AS hingga saat ini masih mampu membayar tagihan mereka dalam mata uang yang mereka cetak sendiri. Meskipun utang pemerintah AS terus membesar dan berkembang, AS terus mampu menjual surat-surat utangnya pada rekor tingkat bunga yang rendah di saat krisis sekalipun. Dolar masih menyumbang 60% dari cadangan devisa global di berbagai negara di dunia. Sebesar 75% dari impor global negara-negara lain, selain Amerika Serikat, juga masih menggunakan mata uang dolar.


China meyakini arsitektur keuangan internasional saat ini yang didominasi AS gagal untuk memberikan keamanan yang memadai bagi kepentingan ekonomi global. Namun, sayangnya, belum ada alternatif lain yang tidak menimbulkan kerugian besar pada cadangan devisa yang ada saat ini.


Hal ini dapat dipelajari dari sejarah yang terjadi selama krisis Terusan Suez tahun 1956. Saat itu, pemerintahan AS yang dipimpin Eisenhower mengancam akan menciptakan krisis poundsterling untuk memaksa Inggris keluar dari Mesir. Langkah ini berani diambil karena keruntuhan nilai tukar poundsterling hanya berpengaruh kecil bagi ekonomi Amerika Serikat. Mengapa? Karena kepemilikan pemerintah AS akan sekuritas Inggris (sebagai cadangan devisa) hanyalah sebesar US$1 per penduduk AS. Bandingkan kondisinya dengan kepemilikan China atas sekuritas (surat berharga) AS yang kini telah mencapai lebih dari US$1,000 per penduduk China. Kejatuhan dolar berarti kejatuhan daya beli global dari timbunan devisa China. Jadi tidak ada satupun dari “pasangan” pernikahan moneter ini yang kemungkinan akan mengajukan “cerai” dalam waktu dekat.


(bersambung)

Foto: wikimedia.org

Penulis: Redaksi

Editor: Muhamad Ihsan

Executive Brief

  • New York - The Dow Jones Industrial Average rose 65.19 points (0.33 per cent) to 19,614.81, its fourth straight record on Thursday (8/12).

  • New York - The broad-based S&P 500 gained 4.84 points (0.22 per cent) to 2,246.19 on Thursday (8/12).

  • New York - The tech-rich Nasdaq Composite Index advanced 23.59 points (0.44 per cent) to 5,417.36 on Thursday (8/12).

  • London - North Sea Brent crude was up 94 cents, or 1.8 percent, at $53.94 a barrel by 2:35 p.m. ET (1935 GMT) on Thursday (8/12).

  • New York - U.S. light crude was up $1.07, or 2.2 percent, at $50.84 a barrel on Thursday (8/12).

  • Harga Emas - Harga buyback emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada perdagangan hari ini (8/12) Rp502.000 per gram.

  • Singapura - Palang Merah Singapura akan menyumbang S$50 Ribu untuk korban bencana gempa di Aceh.

  • Swedia - Ericcson akan mengurangi jumlah pegawai di Swedia dalam rangka restrukturisasi perusahaan.

  • London - Pemimpin FinTech di Inggris menyatakan kekhawatiran bahwa Asia tech-hub seperti Singapura bisa menimbulkan risiko lebih besar untuk London daripada suara Brexit.

  • Meksiko - Pemimpin bisnis Meksiko dan AS akan berbagi informasi tentang integrasi ekonomi lintas batas.

  • Huawei - Huawei akhirnya merilis P9 di Indonesia setelah beberapa waktu lalu sempat tertunda.

  • Aceh - Pemerintah akan memberikan santunan Rp15 Juta kepada korban meninggal gempa Aceh.

Click to Scroll Down

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 3,514.87 3,478.27
British Pound GBP 17,169.60 16,991.11
China Yuan CNY 1,989.13 1,969.21
Dolar Amerika Serikat USD 13,179.00 13,047.00
Dolar Australia AUD 10,171.55 10,063.15
Dolar Hong Kong HKD 1,699.24 1,682.01
Dolar Singapura SGD 9,827.01 9,722.78
EURO Spot Rate EUR 14,736.76 14,583.94
Ringgit Malaysia MYR 3,292.28 3,255.24
Yen Jepang JPY 13,026.59 12,889.75

Ringkasan BEI

No Code Prev Close Change %
1 BRAM 6,300 7,500 1,200 19.05
2 BMAS 342 400 58 16.96
3 ADHI 1,875 2,190 315 16.80
4 CANI 1,440 1,650 210 14.58
5 ERTX 166 187 21 12.65
6 KBLM 358 400 42 11.73
7 PADI 294 328 34 11.56
8 NOBU 510 565 55 10.78
9 DSNG 620 680 60 9.68
10 DPUM 630 690 60 9.52
No Code Prev Close Change %
1 BJBR 2,700 2,430 -270 -10.00
2 ITMA 1,830 1,650 -180 -9.84
3 PGLI 72 65 -7 -9.72
4 PEGE 196 177 -19 -9.69
5 BCIP 310 280 -30 -9.68
6 CTTH 94 85 -9 -9.57
7 PDES 356 322 -34 -9.55
8 WICO 58 53 -5 -8.62
9 MKNT 468 428 -40 -8.55
10 POLY 65 60 -5 -7.69
No Code Prev Close Change %
1 PBRX 448 446 -2 -0.45
2 ADHI 1,875 2,190 315 16.80
3 WSBP 570 590 20 3.51
4 BJBR 2,700 2,430 -270 -10.00
5 KOBX 102 105 3 2.94
6 LPPF 15,200 15,700 500 3.29
7 TLKM 3,850 3,940 90 2.34
8 BEKS 59 60 1 1.69
9 MLPL 388 370 -18 -4.64
10 BMRI 10,700 10,950 250 2.34
No Code Freq Value
1 LG 10,625 2,874,001,669,513
2 YP 59,832 690,301,934,681
3 CS 23,553 635,898,614,600
4 II 109 600,477,065,800
5 DB 22,347 549,488,016,366
6 NI 21,313 538,802,188,700
7 CG 15,117 534,404,108,200
8 RX 12,229 506,745,616,580
9 AK 24,325 491,376,925,220
10 YU 20,137 469,000,318,200