Portal Berita Ekonomi Selasa, 27 September 2016

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

Market Indices
  • Composite Index Today: 5352.139 Change: -36.769 Stock: 536
  • Agriculture Today: 1807.715 Change: 2.941 Stock: 21
  • Mining Today: 1132.836 Change: -14.463 Stock: 43
  • Basic Industry and Chemicals Today: 513.302 Change: -1.943 Stock: 65
  • Miscellanous Industry Today: 1387.231 Change: -26.794 Stock: 42
  • Consumer Goods Today: 2482.958 Change: -30.880 Stock: 39
  • Cons., Property & Real Estate Today: 559.890 Change: -6.702 Stock: 62
  • Infrastruc., Utility & Trans. Today: 1117.052 Change: 4.590 Stock: 56
  • Finance Today: 798.311 Change: -1.306 Stock: 88
  • Trade & Service Today: 846.902 Change: -8.405 Stock: 120

Amerika Serikat: Dibalik Kebijakan Easy Money(1)

Foto Berita Amerika Serikat: Dibalik Kebijakan Easy Money(1)

WE.CO.ID Apa yang menjadi kesamaan dari China, Jepang, dan Korea Selatan akhir-akhir ini? Mereka tampaknya sama-sama memiliki keyakinan bahwa kedaulatan ekonomi mereka, dalam hal ini kemampuan untuk mengendalikan arus keluar masuknya dana (modal), sangat bergantung pada kebijakan yang diambil Federal Reserve (Bank Sentral AS).


Pada Desember 2012 lalu, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe berkomentar secara kritis bahwa "Bank-bank sentral di seluruh dunia terus menerus mencetak uang .... dan Amerika Serikat adalah pelopornya. Jika terus berlangsung, yen pasti akan menguat”. Jepang berniat untuk melawan hal ini dan berupaya melemahkan nilai tukar Yen dengan segala cara.


Sementara itu, pada suatu kesempatan di Beijing pada bulan September 2012 silam, Gubernur Bank of Korea (Bank Sentral Korsel) Kim Choong-soo mengatakan bahwa, "Korea dan China perlu melakukan upaya bersama untuk meminimalkan efek negatif yang timbul dari kebijakan moneter negara-negara maju." Tentu saja sasaran utama komentar ini adalah Amerika Serikat.


Akar masalahnya adalah kebijakan moneter AS mungkin memang optimal untuk “menyelamatkan” ekonominya sendiri, namun belum tentu optimal bagi dunia. Ada konflik antara peran domestik dari mata uang dolar AS dan perannya sebagai “alat tukar/pembayaran internasional."


Hubungan AS-China


Hubungan antara AS dan China memiliki arti spesial. Dolar yang dikirim ke China untuk membeli barang-barang manufaktur murah, kembali lagi ke AS dalam bentuk pinjaman berbunga rendah dan kemudian didaur ulang masuk kembali ke sistem keuangan AS yang akhirnya menciptakan kredit/pinjaman yang lebih murah untuk pasar domestik AS. Dalam hal ini, tidak ada mekanisme penyesuai yang seharusnya bertindak untuk membalikkan surplus perdagangan China atau defisit perdagangan AS. Dengan kata lain, tidak terjadi depresiasi dolar yang dapat membuat barang-barang ekspor AS lebih kompetitif, ditambah dengan tidak adanya upaya pengetatan dari The Fed (setidaknya hingga saat ini), sehingga tidak mustahil akan terjadi lagi gelembung yang dipicu oleh suku bunga rendah untuk kemudian meledak kembali sebagai krisis.


China telah membangun sebuah gunung cadangan moneter sebesar US$3,3 triliun, yang 60%-nya adalah surat berharga pemerintah AS. Amerika Serikat sendiri telah mengakumulasikan utang internasional terbesar di dunia hingga US$15,9 triliun. Dari hubungan ini, China takut akan jatuhnya daya beli dari timbunan dolar mereka. AS menuduh China "memanipulasi" mata uangnya, sementara China balik menyalahkan pemborosan AS.


Namun, apapun kekhawatiran dunia, AS hingga saat ini masih mampu membayar tagihan mereka dalam mata uang yang mereka cetak sendiri. Meskipun utang pemerintah AS terus membesar dan berkembang, AS terus mampu menjual surat-surat utangnya pada rekor tingkat bunga yang rendah di saat krisis sekalipun. Dolar masih menyumbang 60% dari cadangan devisa global di berbagai negara di dunia. Sebesar 75% dari impor global negara-negara lain, selain Amerika Serikat, juga masih menggunakan mata uang dolar.


China meyakini arsitektur keuangan internasional saat ini yang didominasi AS gagal untuk memberikan keamanan yang memadai bagi kepentingan ekonomi global. Namun, sayangnya, belum ada alternatif lain yang tidak menimbulkan kerugian besar pada cadangan devisa yang ada saat ini.


Hal ini dapat dipelajari dari sejarah yang terjadi selama krisis Terusan Suez tahun 1956. Saat itu, pemerintahan AS yang dipimpin Eisenhower mengancam akan menciptakan krisis poundsterling untuk memaksa Inggris keluar dari Mesir. Langkah ini berani diambil karena keruntuhan nilai tukar poundsterling hanya berpengaruh kecil bagi ekonomi Amerika Serikat. Mengapa? Karena kepemilikan pemerintah AS akan sekuritas Inggris (sebagai cadangan devisa) hanyalah sebesar US$1 per penduduk AS. Bandingkan kondisinya dengan kepemilikan China atas sekuritas (surat berharga) AS yang kini telah mencapai lebih dari US$1,000 per penduduk China. Kejatuhan dolar berarti kejatuhan daya beli global dari timbunan devisa China. Jadi tidak ada satupun dari “pasangan” pernikahan moneter ini yang kemungkinan akan mengajukan “cerai” dalam waktu dekat.


(bersambung)

Foto: wikimedia.org

Penulis: Redaksi

Editor: Ihsan

Executive Brief

  • Golkar - Ketum Golkar, Setya Novanto menyatakan elektabilitas partainya naik setelah mencalonkan Jokowi untuk Pilpres 2019.

  • New York - The Dow Jones Industrial Average dropped 166.62 points (0.91 per cent) to 18,094.83 on Monday (26/9).

  • New York - On Monday (26/9) the broad-based S&P 500 lost 18.59 points (0.86 per cent) to 2,146.10.

  • New York - The tech-rich Nasdaq Composite Index shed 48.26 points (0.91 per cent) to 5,257.49 on Monday (26/9).

  • New York - US benchmark West Texas Intermediate for November delivery rose US$1.45 to US$45.93 a barrel on Monday (26/9).

  • London - Brent North Sea oil for November delivery gained US$1.46 to US$47.35 a barrel on Monday (26/9).

  • New York - At 2100 GMT Monday (26/9), the yen pushed to 112.87 per euro and 100.30 per dollar.

  • London - The euro rose to US$1.1254 in late trade on Monday (26/9).

  • Kurs Rupiah - Hari ini (26/9) kurs rupiah referensi Bank Indonesia melemah di Rp13.076 dibanding kemarin jumat di Rp13.098.

  • Galaxy S8 - Smartphone anyar besutan Samsung, Galaxy S8 dikabarkan bakal mengusung resolusi layar 4K.

  • WHO - Islandia menjadi negara paling sehat versi Badan Kesehatan Dunia (WHO).

  • Korea Selatan - Samsung kembali menunda penjualan kembali Galaxy Note 7 di Korea Selatan hingga 1 Oktober mendatang.

  • Aragon - Juara di Aragon, Spanyol. Marquez diprediksi hanya butuh 2 kemenangan lagi untuk menjadi juara dunia.

  • Rio Haryanto - Rio Haryanto dikabarkan sedang melakukan penjajakan dengan dua tim Formula 1 untuk dapat tampil di Formula 1 tahun depan.

  • Tax Amnesty - Hingga Senin (26/9), Uang Tebusan Tax Amnesty sejumlah 43.4 Triliun atau 26.3 % dari target 165 Triliun.

  • Amerika Serikat - Penyanyi musik Country asal Amerika Serikat, Jean Shepard meninggal dunia di usia 82 tahun pada hari Minggu, (25/9).

  • Magnificent Seven - Pekan ini Film The Magnificent Seven berhasil meraih $US 35 Juta dalam debut perdananya.

  • Etihad Airways - Etihad Airways memperingatkan bahaya website palsu yang menawarkan tiket dengan berbagai imbalan di Social Media.

  • Filipina - Filipina melaporkan seorang wanita hamil terkena virus Zika dan merupakan kasus pertama di negara tersebut.

  • Thailand - Thailand sedang mempelajari untuk menerapkan aturan pajak terhadap perusahaan Teknologi dan Internet.

  • Twitter - Google dikabarkan tertarik untuk mengakuisisi Twitter, kapitalisasi pasar Twitter saat ini diperkirakan mencapai $US 13,3 Miliar. 

  • CPO - Penutupan harga sore ini (26/9) CPO Kontrak Okt. 2016, naik 14poin pada harga 2.904,00 Ringgit per metric ton (Bursa Malaysia).

  • TV Digital - Menkominfo Rudiantara mengakui proses migrasi dari TV konvensional ke TV Digital masih berjalan lambat.

  • Bulutangkis - Tunggal putra DKI Jakarta, Jonatan Christie memastikan satu tempat di semifinal Bulutangkis PON ke-19.

  • Inggris - Pebalap Inggris, Jenson Button berharap pemilik baru Formula 1 dapat menemukan cara agar Formula 1 kembali menarik seperti tahun-tahun sebelumnya.

  • BRPT - PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) berencana melakukan buyback saham perseroan sebanyak-banyaknya 2% dari seluruh modal ditempatkan.

  • ASGR - PT Astra Graphia Tbk. (ASGR) berencana membagikan dividen interim kepada para pemegang saham sebesar Rp27 per saham.

  • ELSA - Sepanjang 2016, emiten penyedia jasa energy, PT Elnusa Tbk. (ELSA) berhasil membukukan peningkatan laba bersih sebesar 9,2%.

  • NOBU - Kustodian Sentral Efek Indonesia menunjuk PT Bank Nationalnobu Tbk. sebagai bank administrator Rekening Dana Nasabah (RDN).

  • ELSA - PT Elnusa Tbk. (ELSA) berhasil membukukan kenaikan laba bersih 9,2% pada paruh pertama tahun ini menjadi Rp144,89 miliar.

  • ADRO - Kenaikan harga batu bara membuat manajemen PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) optimistis kinerja membaik pada tahun ini.

  • Korporasi - Wilmar International Limited., mendirikan usaha patungan Olenex bersama Archer Daniels Midland Company (ADM) untuk memasarkan minyak dan fats di Eropa.

  • BUMI - Emiten pertambangan milik Grup Bakrie, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) menargetkan produksi batu bara pada tahun ini mencapai 85 juta ton.

  • Infrastruktur - Kementerian PUPR tengah memproses pinjaman dari IDB untuk tahun anggaran 2017 senilai Rp2,96 triliun guna tersambungnya jalur Pantai Selatan-selatan sepanjang 158 km.

  • Obligasi - PT Minna Padi Aset Manajemen meluncurkan dua produk baru jenis reksa dana saham dan reksa dana pendapatan tetap.

  • Pajak - Pemerintah tengah menginventarisasi anak perusahaan pelat merah yang akan menerbitkan obligasi sebagai penampung dana repatriasi dari kebijakan amnesti pajak.

  • Agribisnis - Industri pengolahan rumput laut China, mampu mendapatkan rumput laut pada tingkat harga lebih rendah karena membeli pada volume lebih banyak.

  • BUMN - Pemerintah terus melanjutkan kelanjutan rencana holding BUMN dengan tiga sektor yang dinyatakan siap disatukan tahun ini yaitu energi, perbankan, dan tambang.

  • Pajak - Ditjen Pajak memberikan keringanan kepada wajib pajak peserta pengampunan pajak agar lampiran harta dalam SPH bisa ditunda hingga 31 Desember 2016.

  • Ekspor - Kamar Dagang dan Industri Indonesia masih optimistis sektor ekspor dapat bertumbuh 500% pada 2025-2030.

  • Wirausaha - Kementerian Koperasi mengapresiasi kalangan perguruan tinggi mengimplementasikan pendidikan kewirausahaan kepada mahasiswa

  • Kehutanan - Pelaku usaha hak pengusahaan hutan (HPH) menilai konsesi hutan alam tidak perlu dikonversi menjadi hutan tanaman industri (HTI).

  • Komoditas - Harga nikel diprediksi menurun pada kuartal terakhir seiring dengan pulihnya gangguan pasokan dari Filipina sebagai produsen terbesar di dunia.

  • Agribisnis - Perusahaan umum Peirkanan Indonesia akan membangun pabrik pakan dengan nilai investasi Rp165 miliar

  • Properti - Crown group. Perusahaan properti yang berbasis di Australia menargetkan akan memulai pembangunan proyek residensial pertama di Indonesia.

  • Manufaktur - Kemenperin meminta industri elektronika lokal untuk menggunakan teknologi terkini dalam proses produksi agar memacu inovasi dan nilai tambah.

  • Jerusalem - Calon Presiden dari Partai Republik, Donald Trump akan mengakui secara penuh kota Jerusalem sebagai Ibu Kota Negara Israel.

  • Hyundai Motor - Serikat Pekerja Hyundai Motor melakukan aksi mogok yang pertama terjadi dalam 12 tahun terakhir.

Click to Scroll Down

Berita Terkini

Foto 57.921 Jamaah Telah Tiba Di Tanah Air

Selasa, 27/09/2016 07:51 WIB

57.921 Jamaah Telah Tiba Di Tanah Air

Foto Banyak Reklame Di JPO Tak Berizin

Selasa, 27/09/2016 06:31 WIB

Banyak Reklame Di JPO Tak Berizin

Foto APBD Surabaya 2016 Defisit Rp 1,3 Triliun

Selasa, 27/09/2016 06:03 WIB

APBD Surabaya 2016 Defisit Rp 1,3 Triliun

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 3,514.87 3,478.27
British Pound GBP 17,169.60 16,991.11
China Yuan CNY 1,989.13 1,969.21
Dolar Amerika Serikat USD 13,179.00 13,047.00
Dolar Australia AUD 10,171.55 10,063.15
Dolar Hong Kong HKD 1,699.24 1,682.01
Dolar Singapura SGD 9,827.01 9,722.78
EURO Spot Rate EUR 14,736.76 14,583.94
Ringgit Malaysia MYR 3,292.28 3,255.24
Yen Jepang JPY 13,026.59 12,889.75

Ringkasan BEI

No Code Prev Close Change %
1 HDFA 150 199 49 32.67
2 SKBM 680 845 165 24.26
3 BRPT 840 970 130 15.48
4 NAGA 183 208 25 13.66
5 NELY 77 87 10 12.99
6 CMPP 122 136 14 11.48
7 PDES 268 296 28 10.45
8 MREI 4,310 4,700 390 9.05
9 AHAP 170 185 15 8.82
10 LRNA 137 148 11 8.03
No Code Prev Close Change %
1 INRU 360 324 -36 -10.00
2 PLAS 1,260 1,135 -125 -9.92
3 ASBI 432 390 -42 -9.72
4 BCIP 930 840 -90 -9.68
5 TRST 310 280 -30 -9.68
6 MYRXP 63 57 -6 -9.52
7 MYTX 64 58 -6 -9.38
8 MGNA 76 69 -7 -9.21
9 BKDP 77 70 -7 -9.09
10 NISP 1,875 1,725 -150 -8.00
No Code Prev Close Change %
1 PGAS 2,690 2,840 150 5.58
2 TLKM 4,230 4,240 10 0.24
3 PWON 680 645 -35 -5.15
4 SRIL 232 220 -12 -5.17
5 SCMA 2,820 2,770 -50 -1.77
6 UNTR 17,925 17,200 -725 -4.04
7 KAEF 2,570 2,610 40 1.56
8 ASII 8,600 8,425 -175 -2.03
9 WSBP 525 515 -10 -1.90
10 SMBR 1,660 1,715 55 3.31
No Code Freq Value
1 EP 3,781 756,580,159,800
2 KZ 9,731 745,623,238,200
3 YU 14,645 692,088,399,000
4 RB 29 666,830,183,500
5 MS 7,116 652,902,196,000
6 DH 4,576 599,888,006,100
7 CG 6,312 594,388,651,392
8 AK 26,146 589,917,883,426
9 LG 7,674 487,379,411,100
10 DB 19,871 384,028,083,200