Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Pendiri United Harvest China Co.Ltd, Suprapto mengatakan masih banyak pelaku usaha,kecil dan menengah (UKM) di Indonesia yang takut memasuki pasar global, termasuk Tiongkok.
"Dibandingkan ke Amerika dan Eropa, secara geografis Tiongkok lebih dekat dengan Indonesia. Namun sebagian besar pengusaha di Indonesia, khususnya UKM justru masih asing dengan pasar Tiongkok yang cukup besar," katanya di Beijing, Kamis (1/12/2016) malam.
Bicara usai menerima penghargaan "Primaduta" untuk kategori UKM, yang diserahkan Duta Besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia, Soegeng Rahardjo, kemudian Suprapto mencontohkan,"saat akan memasarkan kerupuk udang di Tiongkok, banyak yang meragukan, karena stigma bahwa orang Tiongkok tidak makan gorengan".
"Kita cenderung tidak `up date' dengan pasar Tiongkok. Situasi pasar Tiongkok sangat dinamis, secara piramida lapisan-lapisan konsumennya makin banyak dan beragam, ungkapnya.
Suprapto mengungkapkan generasi di Tiongkok, tidak sekedar generasi Generasi X (usia di atas 35 tahun), Generasi Y atau Generasi Millenial (usia 16-35 tahun) dan Generasi Z atau Generasi Post Millenial (usia 6-16 tahun). Mereka juga sangat segmented dan ingin sesuatu yang bernilai tambah. Ini celah dan tantangan bagus untuk kita memasuki pasar Tiongkok, ujarnya.
Dicontohkannya, "kerupuk udang bisa dibuat oleh Indonesia, tetapi juga Thailand dan lainnya. Namun, kerupuk Indonesia punya citarasa bumbu yang berbeda serta pembuatannya masih dilakukan secara tradisional. Ini yang membedakan kerupuk udang Indonesia dengan negara lain. Ini yang kita jual, yakni cara pembuatan yang tradisional dengan kemasan modern".
Jadi, lanjut dia, UKM harus jeli melihat peluang usaha. "Jangan karena UKM lantas kita 'minder', dan takut memasuki pasar global, khususnya pasar Tiongkok".
Menaklukkan Hal senada diungkapkan Arifin Paparang dari Shanghai Youyijia Food Trading Co.Ltd yang mengatakan,"memasuki pasar Tiongkok memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak dapat ditaklukkan".
Pria kelahiran Makassar tersebut mengatakan Indonesia memiliki sumber daya manusia dan produk yang berkualitas dan mampu bersaing di pasar global, termasuk di pasar Tiongkok.
Arifin memaparkan, sejak mengambil alih Shanghai Youyijia Food Trading Co.Ltd pada 2011, perusahaan itu hanya diawaki 12 orang, tiga diantaranya adalah warga negara Indonesia, termasuk dirinya.
"Saat itu tidak mudah memasarkan produk Indonesia di Tiongkok. Tetapi kini dengan 1100 karyawan, Youyijia mampu berkembang dan memiliki cabang di beberapa kota di Tiongkok, dan banyak memasarkan produk makanan minuman Indonesia hingga mencapai penjualan senilai 1,5 miliar RMB pada 2015," ungkapnya.
Hal tersebut, tambah Arifin, membuktikan bahwa produk Indonesia makin dikenal dan diminati di Tiongkok.
"Awalnya memang susah memasarkan produk Indonesia di Tiongkok, karena `brand image Indonesia', sangat lemah di benak masyarakat Tiongkok saat itu, tetapi dengan ketekunan dan komitmen kuat, semua dapat dilalui," katanya.
Shanghai Youyijia Food Trading Co.Ltd merupakan importir produk makanan dari Mayora Indonesia. Sedangkan United Harvest China Co.Ltd merupakan anak perusahaan sekaligus importir distributor PT United Harvest Indonesia. (Ant)
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Vicky Fadil
Tag Terkait: