Lampaui Nasional, Perekonomian DKI Jakarta Catat Pertumbuhan 5,71% di Triwulan IV 2025
Kredit Foto: Antara/M Risyal Hidayat
Perekonomian DKI Jakarta mencatat pertumbuhan sebesar 5,71% (yoy) pada triwulan IV 2025, melampaui capaian triwulan sebelumnya yang berada di angka 4,96% (yoy).
Pertumbuhan ini didorong oleh penguatan investasi serta konsumsi rumah tangga dari sisi permintaan, sementara dari sisi Lapangan Usaha (LU), sektor Perdagangan, Jasa Keuangan, dan Konstruksi menjadi penopang utama bagi wilayah yang menyumbang 16,61% terhadap ekonomi nasional ini.
Secara kumulatif, sepanjang tahun 2025, perekonomian DKI Jakarta tumbuh sebesar 5,21% (yoy), meningkat dari angka 4,90% (yoy) pada tahun 2024. Performa ini tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional secara tahunan yang berada di level 5,11% (yoy). Kinerja positif tersebut menunjukkan tren peningkatan yang sejalan dengan penguatan berbagai sektor lapangan usaha dan komponen permintaan di Jakarta.
Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,51% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya (5,01%; yoy). Peningkatan konsumsi rumah tangga didorong oleh momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru, penyelenggaraan berbagai event dan kegiatan MICE pada akhir tahun, serta didukung oleh perbaikan pendapatan masyarakat seiring dengan implementasi paket insentif pemerintah, seperti bantuan sosial dan diskon pajak.
Investasi juga turut menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Jakarta dengan laju pertumbuhan sebesar 6,81% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya (3,67%; yoy). Peningkatan investasi didukung oleh tingginya realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), akselerasi penyelesaian proyek menjelang tutup buku akhir tahun, berlanjutnya pembangunan berbagai proyek strategis Pemerintah dan swasta yang bersifat multitahun, serta meningkatnya impor barang modal.
Di sisi lain, konsumsi Pemerintah tetap tumbuh positif sebesar 8,60% (yoy), namun mengalami perlambatan secara tahunan dibandingkan triwulan sebelumnya (19,96%; yoy). Perlambatan tersebut dipengaruhi oleh akselerasi pelaksanaan program prioritas pemerintah yang telah dilakukan sejak triwulan III 2025, frontloading realisasi belanja pada triwulan sebelumnya yang tercermin dari tingginya pertumbuhan konsumsi Pemerintah pada triwulan III 2025, serta lebih rendahnya realisasi belanja modal non-bangunan.
Selanjutnya dari sisi eksternal, ekspor tetap tumbuh sebesar 7,62% (yoy), meskipun melambat dibandingkan triwulan sebelumnya (8,62%; yoy). Pertumbuhan ekspor terutama ditopang oleh ekspor otomotif, pakaian, produk kimia, dan barang manufaktur. Sementara, impor tumbuh sebesar 8,67% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya (7,96%; yoy), terutama dari impor barang konsumsi, serta impor barang modal dan bahan baku.
Dari sisi Lapangan Usaha, perekonomian DKI Jakarta terutama ditopang oleh LU Perdagangan yang tumbuh 6,55% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya (5,15%; yoy). Kinerja positif ini sejalan dengan meningkatnya aktivitas konsumsi rumah tangga pada akhir tahun. Pertumbuhan ekonomi juga ditopang oleh LU Jasa Keuangan yang tumbuh sebesar 4,78% (yoy), berbalik meningkat setelah mengalami kontraksi pada triwulan sebelumnya.
Baca Juga: Praktis! Sekarang Bisa Beli Tiket Transjakarta Lewat Aplikasi GoPay
Peningkatan kinerja jasa keuangan sejalan dengan kredit perbankan yang mulai ekspansif, khususnya kredit investasi dan modal kerja, di tengah membaiknya iklim dunia usaha. Sementara itu, LU Konstruksi tetap tumbuh kuat sebesar 3,15% (yoy), relatif stabil dibandingkan triwulan sebelumnya (3,17%; yoy), didukung oleh pertumbuhan kredit konstruksi serta peningkatan realisasi investasi pada pada triwulan IV 2025.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi DKI Jakarta, Iwan Setiawan, mengatakan bahwa ke depan akan terus memperkuat peran dan kontribusi dalam mendukung stabilitas serta pertumbuhan ekonomi daerah. Hal tersebut dilakukan lewat fokus pada sinergi dan kolaborasi dalam pengembangan ekonomi kreatif serta penyelenggaraan event strategis seperti Jakarta Economic Forum (JEF) dan Jakarta Kreatif Festival (JKF).
Upaya tersebut diharapkan dapat berperan sebagai game changer dalam menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru di DKI Jakarta sehingga mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi agar tetap tinggi, inklusif, dan berkelanjutan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: