Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Cerita Perjalanan Sukses Michael Hofmann Pengembang Bisnis Properti yang Terapkan Disiplin Militer dan Pendidikan di Jerman

        Cerita Perjalanan Sukses Michael Hofmann Pengembang Bisnis Properti yang Terapkan Disiplin Militer dan Pendidikan di Jerman Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Perjalanan karier seseorang acap kali terbentuk oleh pembelajaran, pengalaman hidup, serta konteks sosial-politik yang melingkupinya.

        Pendidikan formal memberikan landasan keilmuan, sedangkan pengalaman di luar akademik, termasuk kedisiplinan militer, kerap membangun watak, pola pikir, dan jiwa kepemimpinan.

        Gabungan kedua hal tersebut seringkali menghasilkan sosok profesional yang memiliki pandangan luas dan mudah menyesuaikan diri.

        Di Eropa, khususnya Jerman, jalur pendidikan teknis dan akademik sejak lama dikenal terstruktur dan berorientasi pada praktik.

        Lulusan sekolah menengah kerap dibekali keahlian vokasional sebelum melanjutkan ke universitas.

        Pola ini menciptakan tenaga profesional yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga realitas kerja di lapangan.

        Sementara itu, pengalaman militer di banyak negara Eropa dipandang sebagai sekolah kepemimpinan yang keras namun sistematis.

        Militer menanamkan disiplin, ketahanan mental, dan kemampuan mengambil keputusan di bawah tekanan. 

        Nilai-nilai ini sering terbawa hingga dunia sipil, terutama dalam sektor bisnis dan manajemen yang menuntut ketegasan sekaligus ketelitian.

        Salah satu figur dengan lintasan tersebut adalah Michael Hofmann, pengembang properti asal Jerman yang kini menetap di Sanur, Bali.

        Lahir dan besar di Jerman, Hofmann menyelesaikan pendidikan menengahnya pada 1982.

        “Setelah lulus SMA pada 1982, saya mengambil pendidikan singkat sebagai teknisi listrik sebelum masuk universitas,” ujarnya dalam wawancara.

        Latar belakang ini memberi dasar teknis sebelum ia melangkah ke jenjang akademik.

        Pengalaman militernya juga menjadi fase penting.

        Hofmann pernah bertugas selama empat tahun di satuan khusus sebagai perwira. Ia menilai periode tersebut sangat berpengaruh pada gaya kepemimpinannya. 

        “Saya adalah seorang perwira di militer, belajar memimpin dan membimbing tim, belajar mengambil keputusan yang bijak, serta memotivasi orang,” katanya. Nilai-nilai tersebut kemudian ia bawa ke dunia profesional.

        Disiplin militer, menurut Hofmann, tidak berhenti setelah masa dinas berakhir.

        “Ya, setiap hari. Saya masih pergi ke gym setidaknya empat kali seminggu, misalnya, dan bekerja dengan karyawan serta mahasiswa di sini dengan cara yang diajarkan kepada saya, yakni berbagi pengetahuan dengan sabar,” tuturnya. Kebiasaan ini menjadi bagian dari rutinitas hidup dan kerja.

        Ia juga membedakan kepemimpinan militer dan bisnis dari sudut pandang tujuan.

        “Keduanya sama-sama digerakkan oleh target. Yang satu memprioritaskan misi, yang lain memprioritaskan menghasilkan uang. Keduanya membutuhkan ketekunan dan disiplin,” katanya.

        Menurutnya, kepemimpinan militer cenderung lebih berorientasi pada tim, sementara bisnis bisa terlalu fokus pada keuntungan hingga mengabaikan aspek personal.

        Karier Hofmann berkembang seiring perubahan geopolitik. Setelah runtuhnya Tembok Berlin, ia terjun ke dunia properti dan pada 1995 disebut sebagai pengembang properti termuda dan terbesar dari Jerman Timur oleh Berliner Zeitung. 

        Pada tahun yang sama ia pindah ke Amerika Serikat untuk mengembangkan pasar Autoclaved Aerated Concrete (AAC), dan pada 2001 tercatat sebagai kontraktor AAC terbesar di negara tersebut.

        Perjalanannya berlanjut ke Timur Tengah pada 2010 dan Afrika pada 2019 sebagai perancang, insinyur, sekaligus manajer proyek untuk proyek AAC bertumpu beban.

        Baca Juga: Britania Green Resort Raih Penghargaan Best Affordable Luxury Living Experience di Propertinovasi Award 2025

        Antara 2015 hingga 2020 ia kembali ke Jerman untuk membangun keluarga, sebelum akhirnya pindah ke Indonesia. 

        Mengenai kemampuannya menghadapi tekanan, ia menyimpulkan, “Karier bisnis jangka panjang dan waktu di militer mengajarkan saya kebijaksanaan dan kesabaran, kapan harus bertindak dan kapan harus menerima. Saya bisa menangani tekanan dengan baik karena sekarang saya lebih strategis.”

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Amry Nur Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: