- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Topang Proyek Rp 104,5 T, PTBA Pasok Energi Smelter Aluminium Inalum-Antam di Mempawah
Kredit Foto: Dwi Aditya Putra
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menyampaikan bahwa kebutuhan energi untuk pengembangan hilirisasi bauksit-alumina-aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat, akan disediakan oleh PT Bukit Asam Tbk (PTBA).
Hilirisasi ini terdiri dari dua proyek besar, yakni pengembangan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase 2 dan New Smelter Aluminium, dengan total nilai investasi mencapai Rp104,55 triliun.
"Untuk (kebutuhan listrik) proyek ini nantinya akan dibangun oleh PTBA. Karena sumber energinya berasal dari batu bara, hal ini akan menekan biaya operasional sehingga output-nya bisa kompetitif. Kami harapkan proyek ini selesai dalam jangka waktu dua tahun,” ujar Dony dalam Ground Breaking 6 Proyek Hilirisasi Fase 1 di Jakarta, Jumat (6/2/2026).
Baca Juga: Perkuat Keselamatan Kerja, PTBA Resmi Luncurkan Golden Rules Versi 5.0
Proyek yang dijalankan oleh anggota Grup MIND ID, yakni PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) dan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) ini, sebelumnya sempat mengalami perdebatan terkait pemenuhan energi listrik.
Pada Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI (29/9/2025), Direktur Utama Inalum, Melati Sarnita, menyebutkan bahwa pihaknya membutuhkan pasokan listrik yang andal dan terjangkau untuk memastikan produksi berjalan lancar dan ekonomis.
Danantara kemudian mengambil peran dalam memecahkan permasalahan ini dengan mengajukan Wilayah Usaha (Wilus) mandiri. Artinya, pengelolaan energi ini berada di luar Wilus PT PLN (Persero) selaku BUMN kelistrikan nasional.
“Salah satu faktor kunci keberhasilan (key success factor) dalam smelter aluminium adalah harga listrik. Oleh karena itu, kami mengajukan Wilus sendiri untuk proyek ini,” sambung Dony.
Kedua proyek tersebut dijadwalkan beroperasi pada tahun 2028 untuk New Smelter Aluminium dan tahun 2029 untuk SGAR Fase 2. Danantara berkomitmen mempercepat pembangunan pembangkit untuk memastikan proyek berjalan sesuai rencana. “Kita harapkan ini akan selesai dalam jangka waktu dua tahun (2028),” tegas Dony.
Head of Business Development and Strategy Group Inalum, Al Jufri, menyebutkan bahwa kebutuhan listrik untuk New Smelter Aluminium saja mencapai 1,2 Gigawatt (GW) guna menghasilkan aluminium sebesar 600 KTPA.
Inalum menargetkan pabrik ini dapat beroperasi penuh (Commercial Operation Date/COD) pada tahun 2029, dengan catatan pasokan listrik sudah harus masuk pada kuartal IV-2028. Dalam mencari pasokan listrik, Inalum mematok target harga yang sangat kompetitif di level US$4–5 sen per kWh.
Inalum memang tidak membatasi jenis energi yang digunakan karena proyek di Mempawah dikhususkan untuk memenuhi kebutuhan aluminium dalam negeri, dan berbeda dengan smelter kuala tanjung yang bersumber dari energi hijau yang berorientasi pasar internasional.
“Kita bebaskan saja. Nanti siapa yang menang, itu yang kita ambil. Angka incarannya US$5 sen per kWh tadi itu,” ujarnya dalam media gathering Inalum, Desember 2025 lalu.
Secara teknis, Inalum telah memetakan lokasi pembangkit di wilayah pesisir Kijing, Kalimantan Barat. Lahan seluas 100 hektare di dekat pelabuhan telah disiapkan agar logistik bahan baku pembangkit lebih efisien.
“Kami sudah melakukan pemetaan, ada daerah pantai di dekat Kijing sekitar 100 hektare dekat pelabuhan. Harapannya, kapal pengangkut batu bara bisa bersandar dengan mudah. Paling hanya perlu menarik garis transmisi ke smelter sekitar 5 kilometer, sudah selesai,” lanjutnya.
Baca Juga: MIND ID Resmikan Smelter Mempawah, Targetkan Devisa Rp52 Triliun
Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, menegaskan keterlibatan perusahaan dalam mendukung proyek strategis nasional ini merupakan bentuk sinergi antar-Grup MIND ID.
Pasokan energi dari PTBA diharapkan tidak hanya menopang operasional fasilitas pemurnian, tetapi juga berkontribusi pada kepastian investasi, peningkatan daya saing industri aluminium nasional, serta penguatan kemandirian industri strategis Indonesia. Terlebih, teknologi yang akan digunakan diklaim canggih dan ramah lingkungan.
“PTBA berkomitmen mendukung program strategis hilirisasi nasional melalui penyediaan energi yang andal, efisien, dan berdaya saing. Dukungan energi bagi pengolahan dan pemurnian alumina-aluminium terpadu di Mempawah menjadi bukti keseriusan perusahaan dalam memperkuat rantai pasok industri dan ketahanan energi nasional,” ujar Arsal dalam keterangan resmi, Jumat (6/2/2026).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Fajar Sulaiman