Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Jika Pecah, Perang Amerika-Iran tidak Akan Singkat karena Pengaruh Tiongkok

        Jika Pecah, Perang Amerika-Iran tidak Akan Singkat karena Pengaruh Tiongkok Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Peta persaingan militer di kawasan Timur Tengah mengalami pergeseran signifikan. Konflik yang semula dipandang sebagai duel antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kini menjadi kompetisi segitiga yang melibatkan kekuatan besar lainnya, yaitu Tiongkok.

        Di tengah pengiriman kapal induk AS, USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford, ke kawasan Teluk, Tiongkok disebut secara diam-diam mengirimkan teknologi sensor canggih yang mampu menandingi superioritas udara Amerika. 

        Pertahanan udara Iran bakal diperkuat oleh radar YLC-8B buatan Tiongkok. Radar ini merupakan sistem yang diklaim mampu menembus teknologi siluman Barat, termasuk jet tempur siluman F-35 Lightning dan pembom strategis B-2 Spirit.

        Perkembangan yang paling menggetarkan intelijen Barat adalah pengerahan radar pengawasan jarak jauh 3D YLC-8B. Sistem yang beroperasi pada pita frekuensi Ultra High Frequency (UHF) ini memanfaatkan prinsip fisika untuk mendeteksi objek dengan tanda pantulan radar (Radar Cross Section/RCS) yang sangat rendah.

        Dengan kemampuan ini, pesawat siluman AS kehilangan keunggulan kamuflasenya. Radar YLC-8B disebut mampu mendeteksi target rudal balistik hingga jarak 700 kilometer dan pesawat siluman hingga lebih dari 350 kilometer. Kehadiran teknologi ini memberikan Iran kemampuan untuk memantau ancaman secara real-time jauh sebelum musuh memasuki area penyerangan.

        "Kehadiran radar Tiongkok ini memaksa musuh untuk mengerahkan aset tambahan untuk peperangan elektronik, yang secara fundamental mengancam doktrin taktis angkatan udara AS dan Israel," demikian analisis dari Defense Security Asia.

        Keputusan Teheran untuk meminta bantuan ke Tiongkok sangat mungkin didasari oleh kekecewaan terhadap Rusia yang menunda penjualan sistem rudal canggih S-400 akibat kendala produksi yang dipicu perang di Ukraina. Sebagai gantinya, Tiongkok mempercepat pengiriman sistem rudal HQ-9B dan radar YLC-8B. Pengiriman ini merupakan imbalan atas pasokan minyak mentah Iran yang dijual dengan diskon besar.

        Lebih dari sekadar pemasok senjata, Tiongkok juga menjadi fondasi kedaulatan digital Iran. Negara tersebut kini telah mengadopsi penuh sistem navigasi satelit Beidou buatan Tiongkok untuk menggantikan GPS milik AS. Langkah ini membuat amunisi berpemandu presisi milik Iran kebal terhadap taktik pengacakan sinyal atau jamming yang pernah digunakan AS di masa lalu. Kedaulatan digital ini menjadi keuntungan strategis bagi Teheran jika harus berkonfrontasi dengan Amerika.

        Baca Juga: Secanggih Apa Dua Kapal yang Dikirim Trump Mendekati Iran?

        Pengaruh Tiongkok juga terlihat dalam isu strategis Selat Hormus. Iran berulang kali mengancam akan menutup selat tersebut sebagai cara pembalasan paling ekstrem terhadap AS. Namun, penutupan jalur ini akan berdampak langsung pada Tiongkok.

        Menurut data dari penyedia intelijen komoditas Kepler, hampir 95% ekspor minyak mentah Iran pada tahun 2025 dimuat di Pulau Kharg dan dikirim melalui Selat Hormus, dengan tujuan utama Tiongkok. Badan Informasi Energi AS mencatat bahwa sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk petroleum (sekitar seperlima konsumsi global) melewati selat tersebut setiap harinya. 

        Pembeli Asia mendominasi, menyerap 84% dari volume tersebut. Tiongkok sendiri mengimpor sekitar 5 juta barel minyak per hari melalui jalur itu, di mana 1,4 juta barel di antaranya berasal langsung dari Iran.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Amry Nur Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: